Meriah Festival Santri di Subulussalam, Hanan Attaki: Jadilah Agent of Change

Pemerintah Kota Subulussalam, Aceh, menggelar festival santri pada 18-20 Desember 2022. Pembukaan berlangsung meriah dibuka langsung Wali Kota Subulussalam, Affan Alfian Bintang di lapangan Lapangan Sada Kata, Ahad (18/12).
Pembukaan ikut menghadirkan Ustaz Hanan Attaki, pendakwah Indonesia yang mendirikan Gerakan Pemuda Hijrah sebagai penceramah. Ajang festival santri diisi dengan tablig akbar, panggung kreasi, bazar dari beberapa pondok pesantren, serta stand UMKM. Berbagai perlombaan digelar seperti Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) atau lomba membaca kitab kuning.
Wali Kota Subulussalam mengatakan festival santri tersebut merupakan komitmen pihaknya untuk mewujudkan Kota Subulussalam sebagai Kota Santri yang menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kota Subulussalam. Program itu dinilai berhasil dengan laju pertumbuhan pesantren di wilayah tersebut,pada 2018 tercatat 19 pesantren, kini menjadi 31 pesantren.
"Perkembangan itu tidak ditunjukkan dari segi kuantitas tapi juga kualitas, para santri hingga kini terus menunjukkan prestasi yang gemilang di tingkat Provinsi Aceh, seperti FASI, MTQ dan Musabaqah Qiraatul Kutub sebagai juara umum tingkat provinsi. Di mana pada pergelaran berikutnya, Kota Subulussalam akan menjadi tuan rumah pelaksanaan MKQ," kata Affan Alfian.
Menurutnya, Pemerintah Subulussalam terus memberikan perhatian kepada pesantren dan membantu operasionalnya. Bentuk itu terwujud dari penyediaan kendaraan bus, pengadaan kitab kuning hingga pengembangan literasi pesantren.
Pada kesempatan pembukaan festival santri, Wali Kota Affan Alfian ikut menyerahkan ‘Kartu Subulussalam Mengaji; untuk para ustaz pengajar. Pemegang kartu berhak mendapatkan insentif. "Kartu Subulussalam Mengaji diberikan kepada ustaz yang berjasa dalam mengajarkan anak-anak Subulussalam untuk mengaji," tuturnya.
Ajak Santri Bangun Daerah
Dalam Tablig Akbar dengan tema 'Santri Berdaya untuk Kemajuan Daerah' yang disampaikan oleh Ustaz Hanan Attaki, mengajak santri untuk menjadi agent of change atau agen yang dapat membawa perubahan dalam membangun daerah.
Menurutnya, keterlibatan santri-santriyah itu memiliki azam (keinginan yang kuat) yang terbangun di atas kepribadian yang mandiri, menjadikannya bagian dari kolaborasi pemerintah untuk membangun daerah.
"Hari ini, saya yakin persepsi tentang pesantren telah bergeser oleh realita. Melalui kreasinya, santri telah mampu untuk turut dilibatkan dalam pembangunan daerah," terangnya.
Menurut Hanan, santri selama di pesantren tidak saja belajar keilmuan yang berasal dari kitab. “Justru yang mereka pelajari di pesantren itu adalah bagaimana hidup. Mereka belajar hidup sebagai manusia yang independen, disiplin, dan tentunya dengan tatapan masa depan yang besar dan optimis,” tuturnya. []
Yudi Ansyah
