Konten Media Partner

Para ‘Pencari Tuhan’ Dalam Pesona Masjid Kuno Bekas Pura di Aceh

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang warga membaca Al-Qur'an di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Seorang warga membaca Al-Qur'an di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar. Foto: Suparta/acehkini

Puluhan warga melantunkan Al-Qur’an dengan sunyi di dalam masjid. Mereka baru saja menunaikan salat zuhur berjemaah, pada Sabtu (2/5/2020) lalu. Ditemani angin semilir, sebagian lainnya memilih iktikaf sambil rebahan di Masjid Tuha Indrapuri.

Masjid ini telah berumur lebih dari 400 tahun, salah satu cagar budaya dan destinasi wisata religi paling bersejarah di Aceh. Terawat baik dan bersih, menjadi tempat iktikaf Ramadhan bagi warga sekelilingnya. Masjid ini dibangun di bekas Pura, menyimpan bukti agama Hindu pernah jaya di Aceh dahulu kala.

Masjid dibangun lebih 400 tahun lalu di atas tapak Pura, rumah ibadah masyarakat Hindu. Foto: Suparta/acehkini
Tangga masuk ke perkarangan masjid, peninggalan masa lalu. Foto: Suparta/acehkini
Warga mengambil wudu di samping masjid. Foto: Suparta/acehkini

Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banda Aceh, masjid berdiri kokoh di atas pondasi tinggi yang berkolong-kolong, dari batu berspesi kapur dan tanah liat. Masjid sebagai bangunan utamanya berkontruksi kayu, berdiri tepat di tengah-tengahnya dengan pelataran yang luas. Di depannya ada kolam kecil yang dipakai untuk mencuci kaki.

Masjid Tuha Indrapuri awalnya adalah sebuah Pura yang didirikan kerajaan Hindu Indrapuri, dan sekaligus menjadi benteng pertahanan. Pura itu kemudian dihancurkan, ketika Islam berkembang dan pemeluk Hindu di sana sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Pintu masuk perkarangan masjid, bangunan sisa Pura. Foto: Suparta/acehkini
Suasana di dalam masjid, 9 Ramadhan 1441 H. Foto: Suparta/acehkini

Di atas reruntuhan itulah, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) membangun masjid yang diberi nama Masjid Indrapuri pada 1618. Bangunan bergaya punden berundak, tidak banyak berubah sampai detik ini. Masjid ini menjadi perhatian para peneliti sejarah, arsitektur dan peradaban.

Bangunan utama Masjid Tuha Indrapuri terlihat unik dengan kayu berukir. Kayu-kayunya tersusun dari bawah sampai ke atap yang mengerucut mencapai 12 meter. Terdapat 36 tiang penyangga, berikut kuda-kuda penopang atap.

Kayu-kayu yang menopang bagian atap masjid. Foto: Suparta/acehkini
Warga salat berjemaah. Foto: Suparta/acehkini
Tiang-tiang masjid dari kayu, sudah lebih 400 tahun. Foto: Suparta/acehkini

Atap masjid berbentuk persegi, seperti piramida atau tumpang tersusun tiga. Gaya atap mengerucut tersusun tiga ini diyakini sebagai perpaduan unsur Aceh dan budaya Hindu kuno sebagai corak bangunan masa lalu.

Susunan atap seperti itu memberikan celah keleluasaan bagi aliran udaran di dalam masjid. Berada di dalamnya, hawa sejuk terus mengalir dari bagian dinding dan atap. Dan sebagian warga terlelap saat memburu pahala Ramadhan, dengan niat iktikaf. []

Warga membaca Al-Qur'an di dalam masjid. Foto: Suparta/acehkini
Bangunan masjid berbahan kayu ukir, bertahan hingga kini. Foto: Suparta/acehkini
Warga membaca Al-Qur'an. Foto: Suparta/acehkini