Pencarian populer
PUBLISHER STORY
11 Juli 2019 21:17 WIB
1
0

Pegiat Sastra Mancanegara Ikut Bahas Kesusastraan Indonesia di Aceh

Peserta Konferensi Internasional Kesusastraan XXVIII dari perguruan tinggi di Indonesia melakukan registrasi pada kegiatan yang berlangsung di FKIP Unsyiah, Banda Aceh, Aceh, Kamis (11/7). Foto: Khiththati/acehkini

Seratusan lebih pegiat sastra dan literasi mulai hari ini, Kamis (11/7), berkumpul di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Aceh, dalam Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) XXVIII. Konferensi mengusung tema 'Sastra sebagai Sumber Kearifan' ini turut menghadirkan pembicara utama dari luar negeri.

Bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan-Indonesia (HISKI) Komisariat Aceh, konferensi diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unsyiah hingga Sabtu (13/7). Ketua HISKI Komisariat Aceh, Dr. Mohd. Harun, menyebut konferensi yang bertempat di aula FKIP Unsyiah diikuti oleh ratusan pemakalah dan peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi dan guru berbagai daerah di Indonesia.

“Di sini sudah berkumpul para pegiat sastra dan sastrawan dari berbagai kota di Indonesia dan juga luar negeri, bersama-sama berbicara tentang sastra sebagai kearifan lokal,” sebut Harun kepada acehkini, Kamis (11/7).

Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Samsul Rizal saat memberi sambutan pada pembukaan Konferensi Internasional Kesusastraan XXVVIII di Unsyiah, Aceh, Kamis (11/7). Foto: Dok. Herman RN

Menurutnya, tema 'Sastra sebagai Sumber Kearifan' dipilih karena sejak dahulu sastra sudah menjadi salah satu kebudayaan manusia yang menghasilkan berbagai nilai kehidupan yang di dalamnya mempunyai sumber kearifan. "Di sini (Konferensi Internasional Kesusastraan) kita akan membahas itu,” ucapnya.

Adapun pembicara utama selain dari Indonesia, juga hadir dari luar negeri di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, dan Italia. Mereka adalah Prof. Djoko Saryono dari State University of Malang, Dr. Mohamad Saleeh Rahamad dari University of Malaya, Dr. Soe Marlar Lwin dari Singapore University of Social Sciences, Asisten Prof. Phaosan Jehwae dari Fatoni University Thailand, dan Prof. Antonia Soriente dari University of Naples Orientale Italia.

Sementara yang menjadi peserta utama pada konferensi datang dari seluruh provinsi di Indonesia. "Mereka sudah mendaftarkan diri sebelum kegiatan ini diselenggarakan. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia terwakili dalam forum ini dari Sabang sampai Merauke,” kata Harun.

Suasana di Aula Lantai III FKIP Unsyiah tempat berlangsungnya Konferensi Internasional Kesusastraan XXVIII. Foto: Khiththatia/acehkini

Ia menyebutkan, awalnya kegiatan konferensi yang digagas oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan-Indonesia pertama kali digelar di Jakarta. Konferensi kesusastraan tersebut tidak hanya diikuti lulusan sastra Indonesia tapi berbagai sarjana sastra lainnya seperti Inggris, Arab, Jawa serta pakar sastra dalam berbagai bidang.

“Harapannya jika ada penelitian ilmiah seperti ini menghasilkan sesuatu yang baru dan inovasi baru yang dapat digunakan untuk kehidupan,” tutur Harun.

Mursalim peserta perwakilan dari Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur, mengaku senang dapat mengikuti Konferensi Internasional Kesusastraan XXVIII yang digelar di Aceh. “Semoga setelah ini kita dapat menemukan nilai-nilai yang dapat dipraktikkan kepada masyarakat dan menjadi pedoman,” ujarnya.

Reporter: Khiththati

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.54