PLTA Peusangan Seharga Rp 5 Triliun di Aceh Tengah Ditargetkan Beroperasi 2023

Pengerjaan proyek raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1 dan 2, terus dipacu. Ditargetkan pada 2023 mendatang, arus listrik akan mengalir dari sana.
“Energi listrik dari PLTA Peusangan 1 dan 2 akan masuk sistem untuk memenuhi kebutuhan listrik Aceh pada 2023 mendatang,” kata Abdul Mukhlis, General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah Aceh di lokasi proyek, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, Selasa (6/4/2021).
Sejumlah jurnalis dibawa untuk melihat langsung proses pembangunan PLTA Peusangan, Turut serta Manajer Komunikasi PLN Aceh, T. Bahrul Halid; Asisten Manajer Manajemen Stakeholder PLN Aceh, Mukhtar Juned, Asisten Manajer Teknik pada UPP KITSUM 5 PLTA Peusangan, Rahadiarta Wirawibawa; dan sejumlah staf PLN lainnya.
Menurut Abdul, PLTA Peusangan 1 dan 2 nantinya mampu menghasilkan listrik sebesar 88 Mega Watt (MW). Pembangunan yang telah dimulai kembali sejak 2011, tidak tampak dari luar. Proyek tersebut menggunakan terowongan untuk mengalirkan air dari Danau Lut Tawar, di pusat Kota Takengon, Aceh Tengah.
“Memanfaatkan sebagian air yang dialihkan masuk ke terowongan untuk menggerakkan turbin, menghasilkan listrik, lalu dialirkan kembali ke saluran,” katanya.
Amatan acehkini, terowongan pada kedalaman 120 meter di bawah permukaan tanah, telah dibangun sepanjang 1,1 kilometer dengan sebuah tempat seperti gedung teater sebagai titik power house tempat pemasangan turbin. Para pekerja sedang sibuk melakukan sejumlah pembangunan seperti pengelasan dan pengecoran lantai.
Asisten Manajer Teknik PLTA Peusangan, Rahadiarta Wirawibawa, mengatakan proyek tersebut telah rampung sekitar 84 persen. Total dana pembangunan sekitar Rp 5 triliun, di antaranya diperoleh dari pinjaman JICA sebesar 80 persen, selebihnya memakai dana PLN.
Menurutnya, dalam pembangunan PLTA ditemukan sejumlah kendala kebumian karena adanya gempa. “Sehingga harus mematangkan desain lagi, dan membutuhkan waktu,” katanya.
PLTA Peusangan adalah proyek lama yang sudah dikerjakan sejak tahun 1998, namun kemudian terhenti karena konflik Aceh. Gempa dahsyat dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, juga membuat teknis pembangunan PLTA ini dikaji ulang. Baru pada 2011 proses pembangunannya dilanjutkan kembali. []
