Potret Keluarga Miskin di Aceh Barat, Anak Kurang Gizi dan Disabilitas
·waktu baca 8 menit
Tentang kemiskinan yang mendera satu keluarga di pelosok Aceh Barat. Di tengah kondisi sakit, seorang ibu harus merawat anak bungsunya yang stunting, dan anak lain tuna wicara.

Perempuan paruh baya sibuk mengelus kaki sebelah kanan, tangannya digerakkan maju mundur sembari mengurut, dari mimik wajah tersimpul dirinya mencoba menahan rasa sakit.
Sehelai kain panjang diraih untuk menutupi bekas luka itu, ia memaksakan diri untuk duduk bersila. Perlahan ia mendorong badan membelakangi, punggungnya disandarkan pada dinding di antara pintu masuk dan jendela depan rumah. "Dek masuk saja, ibu tidak bisa bangun," ujarnya menyambut kami, Rabu (3/11/2021).
Namanya Nur Hidayati (45 tahun), warga Desa Bukit Jaya, Kecamatan Mereubo, Aceh Barat, Aceh. Itu adalah kampung paling ujung yang berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya. Hunian warga transmigrasi tahun 60-an.
Berjarak sekitar 30 Kilometer dari pusat Kota Meulaboh, desa ini terdekat dengan lokasi tambang batu bara. Untuk sampai ke sana itu penuh tantangan, sebab jalan tak mulus serta harus melewati lintasan lalu lalang truk pengangkut batu bara.
acehkini berkesempatan mengunjungi Nur Hidayati untuk melihat langsung kondisinya. Pagi itu, ia menggenakan daster biru bercorak dibalut kerudung berwarna merah muda menutupi bagian kepala. Badannya yang kurus membuat pakaian yang menutupi tubuh terlihat besar.
Nur adalah tulang punggung keluarga. Sudah satu bulan tidak bisa berjalan. Penyakit itu awalnya dipicu saat kaki kanannya tertusuk paku, namun lukanya awet karena penyakit gula darah yang ia derita. Kini, ia terpaksa tak bekerja.
“Karena lagi sakit nggak kerja, kalau sehat kerja apa yang ada, disuruh orang bantu di kebun atau apa yang bisa,” jelas Nur.
Sementara waktu, anak tertua Nur, Juria Santi (18 tahun) mengambil alih peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Merawat ibu serta adiknya, memasak hingga pekerjaan rumah lain. Juria sendiri harus putus kuliah karena tak ada biaya. Kini dirinya bekerja di sebuah warung mie di Nagan Raya.
Mereka menempati rumah semi permanen seluas 8 meter persegi. Nur hidup dengan tiga orang anak. Sementara suaminya telah meninggal pada Agustus 2020, diduga bersebab menghirup gas beracun saat menggali sumur.
Halaman rumah hanya ditumbuhi rumput ilalang, tak ada hiasan bunga ataupun tanaman. Dua meter dari pintu masuk terdapat satu TV di atas rak tua, itulah yang benda berharga ada di sana. Di sisi kiri terdapat satu kamar tidur, di dalamnya tampak dua kasur usang dengan berlapis kain-kain tua.
Di sisnya dapur berdinding papan berlantai tanah. Sekitar 5 meter ke belakang rumah, terdapat satu jamban yang berpintu kain dan terpal tua sebagai penutup. “Rumah ini dibangun almarhum, tapi belum selesai, dulu mendiang bekerja sebagai tukang buat batu cincin sama gali sumur,” lanjut Nur.
Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, Nur Hidayati dinyatakan menderita penyakit darah manis, usai melahirkan anak terakhir. Semenjak itu, ia kurus dan mulai susah beraktivitas layaknya orang normal.
Selain Juria Santi yang tertua, Nur punya dua anak lainnya; Dedi Sumanti (15 tahun) disabilitas tuna wicara, dan Nur Fahira (4 tahun) yang mengalami malnutrisi.
Kemiskinan di Tubuh Fahira
Saat Nur Hidayati berkisah tentang kehidupannya yang miskin, anak bungsunya Nur Fahira tampak mondar-mandir di ruang tamu. Perawakannya kecil dengan rambut lurus, sepintas terlihat normal layaknya anak seusia.
Fahira menggenakan baju lengan pendek ungu muda. Tangannya memegang kaleng bekas minuman penyegar. Sesekali dia berlari mengitari ruang tamu hingga ke kamar tidur. Kemudian mengambil beberapa mainan berbahan plastik yang disimpan.
"Ia sekarang waktu ibunya sakit mainnya di rumah saja, kalau ada kawannya dia main juga di luar," ujar Nur.
Nur menjelaskan, teman-teman seusia Fahira sudah mulai bersekolah PAUD. Namun Nur menilai anak bungsunya itu belum siap mental untuk masuk ke dunia pendidikan, maka ia memutuskan untuk menyekolahkan Fahira tahun depan. “Nanti umur lima tahun, tahun depan dia akan bersekolah,” jelasnya.
Fahira yang telah lelah berlari Duduk di pangkuan kakaknya, Juria. Di depan mereka, duduk Deni Sumanti anak kedua Nur Hidayati yang tidak dapat berbicara normal. Saban hari, keluarga kecil itu hidup tak berkecukupan. Untuk makan sehari-hari hanya berharap dari hasil keringat Juria, sebagai pelayan warung mie.
Perekonomian keluarga Nur memburuk dalam dua tahun terakhir. Tak jarang keluarga mereka harus menahan lapar hingga berhutang kepada tetangga. “Kami seringnya makan sayur, kalau ikan jarang, kalau lagi susah kadang ada tetangga yang bantu, tapi namanya dikasih jadi gak tentu. Kalau sekarang memang sering kehabisan beras,” ujarnya
Karena keterbatasan, Nur sangat mengkhawatirkan pertumbuhan Fahira karena kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Sejak beberapa bulan terakhir, setiap Fahira dibawa ke Pusat Kesehatan Terpadu (Posyandu) hasil timbangan tak menunjukkan perkembangan. “Palingan naik satu ons, itu kalau dia tidak demam, kadang tidak naik sama sekali,” ungkap Nur.
Berat badan bocah empat tahun itu hanya 12 kilogram, dengan tinggi lebih kurang 94 sentimeter. Saban harinya ia hanya menyatap nasi putih dan sayur. Fahira juga suka dengan susu coklat yang didapat dari Posyandu. Sesekali ia juga makan buah, namun hanya satu jenis, yaitu pisang. Hanya tak rutin, belum tentu seminggu sekali dia mendapat hal itu.
“Ada yang seumurannya, kalau pertumbuhannya tidak sama, yang lain badannya lebih dari dia,” jelas Nur.
Standar tinggi dan berat badan anak 4 tahun sesuai yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI, adalah; untuk tinggi ideal 94-112 sentimeter dan berat badan idealnya adalah 13-21 kilogram.
Mirisnya kehidupan mereka telah diketahui masyarakat umum, tapi tak banyak yang bisa membantu. Sekitar 70 persen masyarakat Bukit Jaya hanya bekerja sebagai buruh di perkebunan. Sementara sisanya pemilik kebun dan pekerja swasta, dengan penghasilan berkecukupan.
Jika ada tetangga yang menyumbang, Fahira bisa menikmati daging dan ikan, namun tak sering, hanya dalam hitungan jari per bulannya mendapat santapan demikian. Posyandu dan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menjadi tempat Nur berharap nasib pertumbuhan anaknya tersebut.
Menurut kader Posyandu Desa Bukit Jaya, kondisi pertumbuhan Fahira saat ini berada pada garis kuning pertumbuhan anak, setiap kali ditimbang oleh kader yang bertugas, tidak ada perubahan signifikan. Ia menyebut, jika tidak segera diambil pencegahan, bisa saja timbangan Fahira menuju ke garis merah, berpotensi sangat buruk bagi pertumbuhan anak seusianya.
“Naik satu ons tidak bisa dibilang naik, kadang-kadang sama (beratnya), itu sudah garis kuning dia,” terang Elis Suryani, kader Posyandu Bukit Jaya
Elis menjelaskan, di Desa Bukit Jaya terdapat 35 jumlah balita, secara kasat mata mereka tumbuh dengan baik. Hanya Fahira yang berbeda dari yang lain, digolongkan tidak normal untuk anak seusianya.
Ia menyebut, Posyandu mencoba membantu seadaanya lewat program PMT yang digelar sebulan sekali. “Itu saja belum cukup, agar berat badanya naik, haruslah mengkonsumsi makanan seimbang, seperti anjuran dunia kesehatan,” katanya.
Malnutrisi dan Stunting
Seorang ahli gizi di Rumah Gizi Gampong (RGG) Desa Lapang Aceh Barat, Rosa Elvida memberi pemahaman akan kondisi Fahira tersebut, karena pertumbuhan yang tidak normal seperti anak seusianya. Jika dibiarkan keadaan demikian itu akan berdampak cukup buruk.
Fahira masuk golongan anak dengan gizi kurang, apalagi berat badan yang tidak sesuai usia akan berdampak pada kesehatan mental dan tumbuh kembang sang anak. “Anak usia empat tahun, berat badanya selalu sama itu sudah berada pada gizi kurang karena kalau berat badan untuk usia empat tahun harusnya 16 kilogram, bukan 12 kilogram,” kaya Rosa.
Selain gizi kurang, menurut Rosa, Fahira juga dikatakan stunting, karena tak hanya menyangkut tinggi badan, melainkan juga pertumbuhan berat banda serta mental sang anak.
Rosa menerangkan, keadaan itu disebakan dari pola asuh. Sang anak tidak mendapat suplai gizi yang cukup untuk kebutuhan tumbuh kembangnya. “Stunting itu berhubungan dengan berat badan, jika secara berturut tidak ada perkembangan bisa pula itu Malnutrisi,” sebutnya.
Potret Stunting di Aceh Barat
Perihal kesehatan anak, Pemerintah Aceh Barat mencatat angka stunting di daerah setempat mencapai 1.876 kasus, jika tak segera ditanggulangi maka berpotensi meninggi. Data tersebut berdasarkan hasil survei tahun 2019 hingga 2020 yang dilakukan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di tiap kecamatan.
Kepala Dinas Kabupaten Aceh Barat, Syarifah Junaidah, mengatakan masih tingginya penyebab stunting di Aceh Barat dipengaruhi banyak faktor. Pihaknya akan mengambil langkah cepat dan menyesuaikan dengan program prioritas nasional dalam upaya menurunkan serta mencegah stunting.
“Untuk angka stunting masih tinggi saat ini dengan persentase 19 persen. Karena itu kita berupaya menguranginya, dengan target tahun 2022 ini turun menjadi 14 persen. Stunting ini disebabkan banyak faktor karena stunting ini berbicara soal tumbuh kembang,” kata Syarifah Junaidah.
Upaya mencegah stunting tahun 2022 mendatang, anggaran yang dipersiapkan Dinas Kesehatan Aceh Barat sekitar Rp 456 juta bersumber dari Dana Alokasi Khusus. Pihaknya juga membentuk Lokalisasi Khusus (Lokus) di 9 Kecamatan, agar deteksi dini lebih cepat jika muncul kasus baru.
Hasil survei Dinkes, angka stunting tertinggi Aceh Barat ada di Kecamatan Woyla Barat, dan angka terendah adalah Kecamatan Johan Pahlawan. “Akan dibahas kembali di kecamatan, kita sudah punya Perbup, punya Lokus 24 desa di 9 kecamatan, jadi daerah Lokus akan dibina selama tiga bulan setiap hari, mereka akan standby di Rumah Gizi Gampong (RGG), jadi jika ada keluarga yang memiliki anak stunting bisa membawanya ke sana untuk perbaikan gizi,” jelas Syarifah Junaida. []
