Konten Media Partner

Ramadan di India, Hangatnya Toleransi Antar Umat Beragama (1)

ACEHKINIverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Interaksi antar pemeluk agama di pasar Meena Baazar, Delhi, India. Foto: Khiththati/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Interaksi antar pemeluk agama di pasar Meena Baazar, Delhi, India. Foto: Khiththati/acehkini

Ramadan disambut dengan suka cita oleh setiap muslim. Begitu juga dengan muslim di India. Jumlah pemeluk agama Islam di negara anak benua ini pun kian meningkat. Tahun 2019 diperkirakan 200 juta lebih penduduk India memeluk Islam.

Malam Ramadan pertama, kami berada di Amritsar, Punjab, India. Muslim di India melaksanakan awal puasa pada 7 Mei 2019. Kami tinggal di penginapan tidak jauh dari Golden Temple, tempat suci bagi pemeluk agama Sikh. Suara doa dan sembahyang terdengar jelas.

Malam itu, kami telah membeli tiket menuju Jammu, dan akan meneruskan perjalanan ke Srinagar, Kashmir. Ide ini kami ambil setelah bertanya pada Sing Baba, seorang pemilik usaha travel yang tidak jauh dari penginapan. Baba adalah panggilan untuk bapak di India. Ini pertama kalinya kami bertemu dengannya.

“Amritsar terlalu panas untuk kalian berpuasa, saya sarankan kalian mengambil rute ke Kashmir,” katanya.

Ia seorang Sikh yang taat, dengan janggut putih panjang dan sorban di kepalanya. “Kalau kalian pergi ke sana, itu seperti Jannat (Surga) dan kalian pasti senang berpuasa di sana,” sarannya lagi.

Ia ramah dan selalu tersenyum. Sing Baba juga bertanya apakah kami sudah berkunjung ke Golden Temple.

“Kalau kalian kehabisan bekal makanan bisa singgah di situ untuk makan atau sekadar minum teh,” jelasnya.

Bendera India di Amritsar, kawasan yang berbatas langsung dengan Pakistan. Foto: Khiththati/acehkini

“Tidak peduli Musalman, Hindu atau lainnya semuanya bisa makan dengan tenang di sana,” katanya lagi.

Musalman atau Muhammadan adalah sebutan untuk pemeluk Islam di India. Setiap harinya, di Golden Temple mengelar makan gratis dari makan pagi sampai malam. Semuanya boleh menikmati makanan yang ada, termasuk turis.

Sing Baba sangat senang dan bersemangat menceritakan Kashmir. Menurutnya itu tempat terindah di dunia.

“Jalannya berliku ke atas gunung, tidak mudah untuk dilewati karena banyak tanjakan dan curamnya jalan. Belum lagi kalau musim dingin salju lebat turun, namun Tuhan menciptakan surga di sana,” kagumnya.

Dia mengakui pernah berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. “Indonesia uangnya banyak nol dan sering terjadi pemadaman listrik saat saya di sana,” ujarnya sambil berseloroh. Pembicaraan kami terhenti karena ada pelanggan lain.

Happy Ramadan dan datanglah lagi ke Amritsar,” katanya sambil tersenyum saat kami bergegas meninggalkan tokonya.

Kembali ke penginapan, Sharma, sang pemilik sudah menunggu. Ia menanyakan rencana kami berikutnya setelah dari sini. Ia senang saat mendengar kata Kashmir.

“Itu seperti surga,” katanya.

Sharma beragama Hindu. Setiap pagi, dan menjelang malam ia akan ke penginapan untuk melakukan doa di tempat usahanya. Selesai berdoa, ia menyempatkan diri menyapa para tamu.

Ia menanyakan jadwal keberangkatan, lalu menunggu sampai kami selesai berkemas. Sharma bahkan memberi kami tiga botol air mineral gratis, sebagai bekal di perjalanan dan mengantar kami sampai pintu.

Senja di Amritsar. Foto: Khiththati/acehkini

Kami menunggu bus yang akan berangkat ke Jammu. Berbekal bahasa hindi yang pas-pasan, saya mencoba mencari informasi tentang Kashmir. Beberapa bulan sebelumnya, berita tentang kondisi konflik memanas di sana, membuat kami sedikit was-was sebelum memutuskan ke sana. Terlebih setelah peringatan travel warning sempat keluar.

Sepasang suami istri asal Jammu, yang saya ajak bicara malah tidak menyinggung peristiwa itu sama sekali. Mereka hanya memberi beberapa saran pilihan kendaraan bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan ke Srinagar.

Seorang pemuda Amritsar, Aurora yang akan menuju Delhi, ikut bergabung dalam pembicaraan. “Kalian khawatir selama perjalanan ya?” tanyanya.

“Tidak ada yang perlu dirisaukan, kalau politik memanas maka perbatasan memanas dan orang-orang ikut panas walaupun terkadang keadaannya tidak seperti itu,” katanya lagi.

Kendaraan dalam pemeriksaan di puncak paling tinggi, antara Jammu dan Srinagar. Foto: Khiththati/acehkini

Aurora bekerja di rumah sakit bagian konsultasi narkoba. Ia bercerita, bahwa tidak ada kebencian antara agama di sini, namun terkadang masalah yang lain menjadi pemicu, lalu agama yang dibuat menjadi alasannya. “Lalu semuanya jadi ribut tanpa tahu akar masalahnya,” katanya lagi.

Menurutnya masalah yang paling besar yang terjadi di perbatasan saat ini adalah penyelundupan narkoba. “Generasi muda mulai memakai narkoba, di sini saja 80 persen pemuda pernah menggunakan narkoba, termasuk saya. Bukan masalah agama,” paparnya lagi. [bersambung]

Khiththati (India)