Pencarian populer
PUBLISHER STORY
4 April 2019 12:57 WIB
0
0

Tiga Film Dokumenter Aceh Diputar di Malaysia

Pemutaran film Aceh di USIM, Selasa (2/4). Foto: Rafsanjani untuk acehkini.

Tiga film dokumenter yang diproduksi oleh pegiat sinema di Provinsi Aceh, diputar di dua lokasi berbeda di Malaysia. Pemutaran itu sekaligus untuk menjalin hubungan kedekatan antara sineas Aceh dan Malaysia.

Ketiga film itu masing-masing berjudul: Pakaianku Tinggal Kenangan, Inoeng Silat, dan Sang Kolektor Muda. Semua film itu merupakan produksi Aceh Documentary.

Film "Pakaianku Tinggal Kenangan" diproduksi oleh Maria Ulva dan Muhammad Rizki pada 2013. Film berdurasi 20 menit itu menceritakan seorang pegawai negeri sipil yang selalu mengenakan pakaian adat Aceh ke mana saja dia pergi.

Oleh tingkahnya itu, dia dicemooh oleh masyarakat dan disebut gila. Bahkan, adapula warga yang menyebutnya ingin dianggap keturunan raja.

Sementara, film "Inoeng Silat" diproduksi oleh Mifta Yuslukhalbi dan Nadia Susera pada tahun 2014. Film berdurasi 13 menit ini mengisahkan seorang perempuan yang belajar silat di tengah masyarakat yang menganggap silat itu tabu bagi wanita.

Sedangkan film "Sang Kolektor Muda" mengisahkan tentang kolektor muda yang hobi mencari dan mengumpulkan manuskrip kuno Aceh. Film berdurasi 13 menit itu diproduksi oleh Muhammad Hendri dan M. Rizqy Hardi Wibowo pada tahun 2015.

Ketua Bidang Apresiasi dan Distribusi Aceh Documentary, Muhammad Fauzi, mengatakan ketiga film itu diputar di dua lokasi berbeda di Malaysia. Pertama di Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) pada Selasa (2/4). Sedangkan kedua bakal ditayang di Pusat Kajian dan Apresiasi Filem Malaysia di Shah Alam, pada Sabtu (6/4).

"Pemutaran film ini atas kerjasama USIM dengan Pusat Kajian dan Apresiasi Filem Malaysia. Ini juga untuk bisa bersinergi (sineas Aceh) dengan sineas Melayu," ujar Fauzi, kepada Acehkini, Jumat (5/4).

Para sineas Aceh dan Malaysia saat pemutaran film karya di USIM. Foto: Rafsanjani untuk acehkini

Menurut Fauzi, dengan adanya pemutaran itu, dirinya memperoleh pengetahuan baru mengenai sinema Melayu. Selain itu, ajang tersebut dinilai bisa membentuk langkah baru bagi sineas dan sinema Aceh untuk ke depannya.

Meski sekarang Aceh bukan bagian dari Melayu Malaysia, sebut Fauzi, tapi perjalanan sejarah, pemikiran, serta kebudayaan Aceh pernah punya kaitan erat dengan Malaysia. "Itu bisa dikenang dalam sinema Aceh ke depan," tutur dia.

Pemutaran film dokumenter Aceh bukan kali pertama digelar di negeri jiran. Sebelumnya, pada tahun 2014, kegiatan serupa juga pernah dilaksanakan di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). []

Reporter: Habil Razali

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23