Tradisi Meugang, Adat Meukawom, dan COVID-19
Opini

Ramadhan Mubarak, Ramadhan Karim. Alhamdulillah, kita kembali diizinkan Allah Taala menyambut Ramadhan, walaupun dengan situasi dan kondisi yang berbeda karena wabah virus Corona atau COVID-19 sedang melanda dunia. Tentunya bagi masyarakat Aceh, menyambut Ramadhan tetaplah serasa tidak sah bila tidak dibarengi dengan tradisi meugang.
Meugang adalah tradisi membeli dan memasak daging sebelum menyambut Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, yang sudah ada sejak zaman kerajaan Sultan Iskandar Muda. Budaya ratusan tahun ini merupakan implementasi kebijakan Kesultanan Aceh yang bertujuan untuk memastikan seluruh rakyat dapat merayakan Ramadhan dengan suka cita yang sama, terutama bagi kaum duafa. Tujuan kebijakan Sultan Aceh ini tertulis dalam Qanun Meukuta Alam Bab II Pasal 47 (Hamid, 2020).
Kemudian tradisi meugang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh yang terus berlangsung secara turun-temurun. Bahkan ada banyak kampung yang melaksanakan tradisi meugang dengan masak bersama atau kenduri bersama di meunasah. Tradisi ini dianggap sebagai ‘sebuah tafsir agama dalam budaya’ (Abuabakar, 2014), yaitu melaksanakan kewajiban saling berbagi dengan saudara-saudara yang secara finansial kurang mampu. Namun seiring waktu, rasa kebersamaan dalam tradisi meugang perlahan berkurang, seiring dengan adat udep meukawom yang juga tak lagi mudah dilakukan karena berbagai pergeseran sosial dan desakan ekonomi.
Adat Udep Meukawom dalam Masyarakat Aceh
Manusia adalah mahluk sosial yang hidup saling bergantung satu dengan yang lain. Oleh karena itu, bekerja sama dan hidup berkelompok merupakan salah satu cara manusia untuk beradaptasi dan bertahan hidup (Murti dan Triyanto, 2018). Di Aceh, kita mengenal istilah ‘udep meukawom’ atau model kekerabatan, di mana anggota-anggota masyarakat hidup berkelompok, saling terikat satu sama lain karena hubungan darah atau semenda. Ikatan kekerabatan ini kemudian diperkuat dengan saling membantu dan saling melindungi dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga keterikatan antar-anggota dalam sebuah perkerabatan menjadi semakin kuat.
Menarik untuk dicermati bahwa ternyata kemajuan teknologi ‘memindahkan’ tradisi udep meukawom ini dalam bentuk virtual, namun aksinya nyata.
Zaman dahulu, tradisi udep meukawom tidak hanya mengikat setiap anggota melalui hubungan darah atau semenda. Ada juga faktor lain yang memperkuat ikatan ini, yaitu karena anggota kelompok juga tinggal berdekatan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengelola sawah dan kebun di wilayah yang sama, atau berinteraksi di pasar lokal yang berdekatan. Mereka hidup berdampingan, tidak hanya saling bantu dan saling menjaga untuk memastikan keberlangsungan hidup. Mereka juga saling melindungi dalam kepemilikan harta benda, status sosial, dan menjaga nama besar perkauman.
Seiring waktu, kaum-kerabat tidak selalu bisa tinggal dalam lingkup wilayah yang sama. Banyak yang merantau karena faktor ekonomi dan pendidikan. Selain itu, ada juga kebutuhan hunian baru karena anggota keluarga yang bertambah, baik disebabkan oleh adanya kelahiran maupun karena pernikahan. Tidak tersedia lahan berdekatan untuk membuat hunian akhirnya membuat kelompok masyarakat tersebut tak lagi bisa hidup bersama dan berdekatan dengan kaum kerabatnya.
Terpisah oleh jarak menyebabkan intensitas hubungan dan interaksi menurun, tak lagi menjadi bagian dari rutinitas sehari. Kehidupan perkauman tak bisa lagi sedekat dulu. Di perkotaan, suasana ini lebih kentara. Masing-masing anggota perkerabatan disibukkan dengan kejaran rutinitas masing-masing. Keterbatasan ini menyebabkan hubungan saling jaga dan saling bantu mengecil lingkupnya, hanya terbatas pada keluarga inti dan tetangga terdekat saja.
COVID-19: Ujian untuk Sebuah Tradisi?
Pandemi COVID-19 bukan hanya virus yang menyerang manusia dan dalam kondisi tertentu berakibat fatal menghilangkan nyawa. COVID-19 secara langsung juga menguji ketangguhan para pemimpin dan kepemimpinannya, ketahanan dan kedaulatan pangan sebuah negara, tata kelola mitigasi bencana, ketahanan finansial masyarakat, sekaligus menguji tradisi udep meukawom yang kita miliki. Adakah tradisi hidup berkelompok dan saling menjaga masih mengakar? Atau hanya tinggal sejarah?
Menarik untuk dicermati bahwa ternyata kemajuan teknologi ‘memindahkan’ tradisi udep meukawom ini dalam bentuk virtual, namun aksinya nyata. Raihana Diani dan kawan-kawan, misalnya, melaksanakan aksi bagi-bagi masker, sembako dan daging meugang untuk kepala rumah tangga perempuan yang tidak mampu. Cara mereka tidak biasa. Per tanggal 23 April 2020, mereka berhasil menggalang dana sebesar 22.450.000 rupiah, 100 lembar masker dan 10 sak beras isi 5 kilogram, lewat gerakan yang diberi nama 'Piasan Makmeugang', merekam berbagai aksi seni yang kemudian diputar di akun Facebook penyelenggara dan pemilik akun. Dana yang digalang ini kemudian dibelikan sembako dan daging, didistribusikan untuk kepala rumah tangga perempuan, di berbagai gampong di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Raihana Diani dan kawan-kawan tidak sendiri. Banyak kelompok donatur lain yang bergabung dalam berbagai WhatsApp Group, menggalang bantuan dalam bentuk dana dan komoditas untuk didistribusikan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan. Alhamdulillah, budaya saling menjaga belum hilang dari tradisi keseharian kita. Bahkan meluas, tak hanya sebatas pada lingkar sanak keluarga, namun kepada siapa yang membutuhkan. Semangat berbagi ini tentunya sesuai dengan nilai-nilai Islam, melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Ramadhan adalah bulan berbagi, bulan peduli. Tak peduli status sosial-ekonomi, umat Islam yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga yang sama. Harapannya, rasa lapar dan dahaga ini akan menumbuhkan simpati, membangun empati. Pada akhirnya akan menggerakkan kita untuk saling memberi kepada saudara kita yang kekurangan, saudara kita yang membutuhkan.
Dengan tambahan pandemi COVID-19, tentunya gerakan berbagi dalam Ramadhan tahun ini menjadi lebih mendesak dari tahun-tahun sebelumnya. Jika pada zaman Kesultanan Aceh dulu, Ramadhan bisa disambut di bumi mulia ini dengan kegembiraan, semoga Pemerintah Aceh juga bisa memastikan hal yang sama, sesuai dengan kondisi kekinian saat ini. Sebagai anggota masyarakat, kita bisa berpartisipasi untuk saling menjaga, saling memastikan bahwa orang yang terdekat dengan kita tidak berkekurangan. Ramadhan Mubarak, Ramadhan Karim. Mari berbagi, untuk menyambut Ramadhan dengan kegembiraan yang sama. []
Penulis: Dian Rubianty (Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar-Raniry)
