Umat Hindu di Aceh Tanpa Nyepi

Rada Krisna duduk bersandar di dinding muka bangunan toko sekaligus bengkel mobil yang dikelolanya. Letaknya persis berseberangan dengan Kuil Palani Andawer, rumah ibadah umat Hindu Tamil di Gampong Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Provinsi Aceh.
Pria 57 tahun itu lagi sendiri saat acehkini.id berkunjung ke sana, pada Kamis (7/3) pagi. Rada adalah umat Hindu Tamil, sekaligus pemegang kunci kuil Hindu satu-satunya di Provinsi Aceh, itu. Kuil seluas 12x5 meter tersebut sudah berdiri sejak tahun 1934.
"Saya lahir di sini. Ini kampung halaman saya. Bapak saya juga lahir di sini," ujar Rada Krisna kepada acehkini. Ia fasih bahasa Aceh, yang sesekali kami gunakan saat mengobrol. Untuk mencairkan suasana.
Kamis hari ini, ketika umat Hindu di Bali sedang merayakan Hari Raya Nyepi dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sementara Rada Krisna malah membuka bengkelnya. Menurutnya, umat Hindu Tamil dari dulu tidak pernah merayakan Nyepi.
"Sebenarnya bukan tidak merayakan, tapi kami dari nenek moyang dulu tidak pernah merayakan Nyepi. Karena Nyepi khusus untuk Hindu Bali," tuturnya.
Pun begitu, kalau ada umat Hindu Bali di Aceh yang ingin merayakan Nyepi, pihaknya menyediakan tempat. "Kalau ada Hindu Bali yang mau merayakan Nyepi di sini, kita sediakan fasilitas," jelasnya.
Menurut Rada, umat Hindu Tamil seperti dirinya punya ritual ibadah lain yang digelar setiap tahun. Misalnya, Pangguni Uthiram yang digelar setiap tahun. Tahun ini umat Hindu Tamil menggelarnya pada April.
Keberadaan umat Hindu Tamil di Aceh, sebut Rada, semakin menurun pasca-tsunami tahun 2004. Kini, jumlah mereka hanya tersisa 15 orang. Sebelum tsunami tercatat lebih dari seratus orang, tapi banyak yang menjadi korban tsunami. Ada juga yang trauma, hingga pindah ke Medan, Sumatera Utara.
Rada Krisna termasuk generasi ketiga Hindu Tamil di Aceh. Neneknya dulu berasal dari sebuah daerah di India Selatan. Sedangkan bapaknya, dan dia sendiri lahir di Banda Aceh.
"Nenek saya dari India. Tahun 1934 sudah ada di sini. Karena berdagang, beradaptasi di sini sehingga tidak balik lagi ke India. Bapak saya juga lahir di sini," ujarnya.
Terkait penerapan peraturan syariat Islam di Aceh, Rada mengaku tidak terlalu berpengaruh terhadap umat Hindu Tamil di Gampong Keudah. "Saya dari dulu hidup tenang-tenang aja di sini. Jika ada yang bilang Aceh intoleran, mereka belum masuk ke dalam. Kalau sudah masuk pasti tidak mau keluar," sebutnya.
Hingga kini, Rada punya satu impian besar yang belum terwujud. Yaitu mengunjungi kampung neneknya di India. "Saya berkeinginan untuk melihat kampung nenek saya di India Selatan. Belum ada ongkos untuk ke sana," kata dia.[]
Reporter: Habil Razali
