kumparan
KONTEN PUBLISHER
20 Juli 2019 20:18

Uniknya Kabupaten Simeulue di Aceh: 1 Pulau dengan 4 Bahasa Daerah

Ombak simeulue.png
Ombak Kepulauan Simeulue, potensi pariwisata terbesar di sana. Foto: Abdul Hadi/acehkini
Ternyata, Kabupaten Simeulue di Aceh punya empat bahasa yang dituturkan penduduknya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bahasa daerah di kepulauan yang berbatasan langsung Samudera Hindia itu kini terancam hilang.
ADVERTISEMENT
Demi merawat bahasa, sastra, dan budaya Simeulue, Dinas Pendidikan Aceh menggelar diskusi terfokus bagi sejumlah guru dari Simeulue di Hotel Grand Permatahati, Ulee Lheue, Banda Aceh, Sabtu (20/7). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari ke depan.
Ketua panitia pelaksana dari Dinas Pendidikan Aceh, Zulbahri, mengatakan kegiatan bertujuan menggali potensi bahasa, sastra, seni, dan pariwisata dari Pulau Simeulue dengan mendatangkan warga dan penutur bahasa asli Simeulue.
“Para peserta diskusi adalah guru-guru dari Simeulue. Nanti mereka bisa menyisipkan potensi kearifan lokal setempat dalam materi ajar di sekolah-sekolah,” katanya.
“Kita tidak mau bahasa minoritas di pulau itu hilang karena kurangnya kepedulian. Jadi, kegiatan ini bagian dari upaya menjaga dan melestarikan bahasa dan potensi budaya lokal setempat,” jelas Zulbahri.
WhatsApp Image 2019-07-20 at 11.41.22.jpeg
Kegiatan diskusi tentang bahasa, seni dan wisata Simeulue di Banda Aceh. Dok. Herman RN
Sejauh ini, ada empat bahasa yang berkembang di Simeulue: Bahasa Devayan, Bahasa Haloban, Bahasa Lekon, dan Bahasa Simolul. Zulbahri mengatakan, selama ini hanya dua bahasa daerah yang dikenal banyak penuturnya, Devayan dan Haloban.
ADVERTISEMENT
Namun, para peserta mengungkapkan ada empat bahasa yang hidup dan berkembang di Simeulue. Keempat bahasa itu bukan dialek, melainkan bahasa tersendiri. Selain soal bahasa, para peserta juga mengidentifikasi sastra, seni, tradisi, dan potensi pariwisata dari pulau tersebut.
“Dari sisi pariwisata, kuliner, ternyata ada banyak sekali nama khas makanan dan masakan dari Simeulue. Semua digali oleh peserta dengan detail. Ini akan menjadi sumber kekayaan kuliner tradisional Aceh yang harus diketahui oleh publik,” tegas Zulbahri.
Sebelum diskusi berlangsung, para peserta terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan umum mengenai bahasa dan sastra dengan mendatangkan pemateri dari Balai Bahasa Aceh. Para peserta juga mendapatkan pengetahuan umum mengenai potensi pariwisata, dan seni yang dipaparkan oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
ADVERTISEMENT
Salah seorang fasilitator diskusi, Herman RN, mengaku terkesima atas hasil paparan para peserta. Dia mengatakan, ternyata sangat banyak potensi bahasa, seni, dan pariwisata di Pulau Simeulue yang selama ini jarang diketahui publik.
“Untuk kuliner, selama ini hanya dikenal lobster dan makanan ringan memek. Lebih dari itu, sagu saja bisa diolah sedikitnya lima macam masakan. Belum lagi kue-kue khas Simeulue,” katanya.
Belum lagi bicara potensi wisatanya, mulai dari Batu Berlayar sampai Batu Siambung-Ambung ada di sana.
“Wisata alam saja sampai 33 objek sudah terdata, belum lagi destinasi wisata buatan,” papar Herman, Dosen FKIP Unsyiah itu.
Menurut Herman, semua itu adalah kekayaan Aceh yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Aceh.
ADVERTISEMENT
“Pemerintah jangan hanya melihat beberapa daerah yang sudah populer saja, amati juga Simeulue dan daerah lain,” tegas Herman RN. []
Reporter: Adi W
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan