Menyiasati Biaya Mudik dan Lebaran

Blogger, Editor
Tulisan dari Achi Hartoyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyiasati Biaya Mudik dan Lebaran
Guys, mudik bentar lagi tiba, lho! Udah nyiapin apa aja, nih? Perayaan tahunan ini memang selalu menyenangkan dan membuat bahagia semua orang. Terlebih, bagi pekerja rantau yang jauh dari orangtua.
Fenomena tahunan ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Yah, komponen paling penting dalam perayaan mudik adalah biaya. Jangan ditanya, berapa besaran biaya yang kita butuhkan. Bisa dipastikan, uang THR yang kita terima hampir semuanya ludes dalam waktu kurang lebih dua minggu alias selama perayaan Lebaran.
Terus, gimana sih, menyiasati biaya mudik yang nggak sedikit itu?
Well, dari bertahun-tahun lalu saya melakukan aktivitas mudik, saya sudah memiliki anggaran yang akan dipakai untuk perayaan Lebaran. Sejujurnya ya, biaya perayaan Lebaran ini bisa diprediksi kok. Bagi karyawan yang selalu mendapatkan gaji ke-13 alias THR, tentu sudah bisa menganggarkan dari awal.
So, gimana caranya? Baiklah, mungkin teman-teman bisa membuat alokasi seperti yang sudah saya lakukan selama bertahun-tahun berikut ini, supaya uang THR nggak langsung habis begitu saja.
Memisahkan uang gaji bulanan dengan uang THR
Ini adalah cara pertama yang paling mudah untuk membuat alokasi anggaran. Kenapa harus dipisah? Ya, karena komponen penghasilan dari THR, tentu saja akan dipakai untuk kebutuhan lebaran. Sedangkan gaji yang kita terima, akan dipakai untuk membiayai pengeluaran rutin bulanan.
Membuat anggaran Lebaran
Apa saja sih, biaya Lebaran yang harus dikeluarkan? Secara rutin, sebenarnya biaya Lebaran sudah bisa diprediksi dan dianggarkan jauh-jauh hari. Rata-rata komponen biaya Lebaran itu terdiri dari biaya mudik mulai dari tiket, transportasi/bbm jika menggunakan kendaraan pribadi, biaya sosial: zakat, subsidi untuk orangtua, angpau untuk keluarga dan keponakan, belanja pribadi, wisata/rekreasi di kampung halaman, makan, dan biaya keperluan lebaran lainnya.
Anggaran tersebut, tentunya sedikit berbeda bila kalian tidak mudik dan berencana menghabiskan libur Lebaran di kota perantauan. Biaya liburan dan makan selama libur Lebaran perlu diperhitungkan. Mengapa? Ya, rata-rata pengeluaran untuk makan akan sedikit meningkat, mengingat warung dan pasar banyak yang tutup selama Lebaran. Yang pastinya, makan di luar akan sedikit lebih mahal dari harga biasanya.
Membuat rasio anggaran
Tidak ada angka yang pasti untuk menghitung biaya Lebaran. Masing-masing individu memiliki kebutuhan dan biaya yang berbeda-beda. Namun, rasio berikut ini bisa kok menjadi acuan idealnya. Gunakan 5 persen uang THR untuk dana sosial, 10 persen untuk investasi, 20 persen untuk melunasi utang dan 65 persen sisanya bisa digunakan untuk kebutuhan selama Lebaran. Termasuk untuk mudik, rekreasi dan kebutuhan lainnya, dana ini diambil sebesar 65 persen dari THR yang kita terima.
Komponen tersebut juga sedikit berbeda antara yang masih single dan yang sudah menikah. Apalagi jika memiliki tanggungan seperti THR untuk ART dan orang-orang yang bekerja untuk kita. Rasio investasi bisa dikurangi menjadi 10 persen.
Bagaimana jika dana THR-nya kurang?
Hmm, sebenarnya, Lebaran dan mudik adalah kegiatan rutin yang pasti terjadi setiap tahun. Nah, untuk menyiasati supaya kebutuhan selama Lebaran tetap terpenuhi, gampang kok caranya. Kalian bisa lho, menyisihkan pos pengeluaran setiap bulan dari gaji, untuk membuat anggaran mudik Lebaran. Besarannya cukup 5 persen dari gaji atau bisa disesuaikan dengan penghasilan bulanan.
Terus, bagi mereka yang bekerja sebagai freelancer, dari mana bisa mendapatkan dana THR? Kan, pendapatannya nggak tentu.
Nah, untuk freelancer caranya cukup menyisihkan sekitar 10-15 persen penghasilan yang diterima. Sisihkan penghasilan tersebut ke dalam rekening khusus untuk membuat dana THR sendiri. Selamat mencoba!
