Yuk, Mudik ke Kampung Halaman!

Blogger, Editor
Tulisan dari Achi Hartoyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Dan puncak dari bulan Ramadan adalah perayaan hari Lebaran. Boleh dibilang, mudik ke kampung halaman selama libur Lebaran adalah suatu kewajiban bagi para perantau.
Selama kurang lebih dua pekan, sebelum dan sesudah Lebaran, televisi akan berlomba-lomba menyiarkan fenomena arus mudik Lebaran. Tak dapat dimungkiri mudik merupakan tradisi asli Indonesia yang sulit dipisahkan dengan perayaan hari raya Idul Fitri.
Apa yang bisa kita maknai dari fenomena sosial ini? Mudik merupakan pelepas dahaga bagi mereka yang merantau di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Betapa monotonnya hidup jika tidak ada mudik, tidak ada Lebaran, dan tidak ada jeda dalam kehidupan. Setelah hampir dua belas bulan berjibaku mengumpulkan rupiah, kini saatnya bagi mereka untuk sejenak melupakan persaingan keras hidup di ibukota.
Kembali ke udik, itulah asal mula kata mudik. Jika ditelusuri, sejarah awal mudik adalah tradisi masyarakat agraris di pulau Jawa untuk melakukan ‘nyadran’ (berdoa kepada leluhur dan membersihkan makam menjelang hari raya Idul Fitri). Secara spiritual makna mudik adalah menyambung kembali ikatan silaturahmi setelah hampir setahun terputus.
Tidak hanya sekadar perayaan yang meriah, mudik juga mempunyai dampak sosial yang luar biasa, jika di hari-hari biasa, hampir 80 persen uang yang dicetak Peruri berputar di ibukota, maka selama musim mudik tiba, perantau akan mengalirkan uangnya ke daerah-daerah, yang secara otomatis akan meningkatkan perekonomian daerah. Dengan adanya mudik, pemerintah pun secara tidak langsung terbantu dalam pemerataan ekonomi.
Menjadi salah satu bagian dari jutaan pemudik, saya pun merasakan betapa perjalanan pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri selalu istimewa. Jangan ditanya mengapa jutaan orang rela berdesak-desakan di jalanan, macet berjam-jam dan menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk pulang kampung.
Bagi saya, mudik adalah perjalanan tentang merayakan kebahagiaan, menuntaskan dahaga perjumpaan, mengobati kerinduan, menjemput kenangan dan mengikat kembali tali kekeluargaan. Meskipun era media sosial begitu canggih, tetapi tidak bisa menggantikan rasanya bertatap muka langsung dengan orangtua dan keluarga di kampung halaman.
Kampung halaman merupakan tempat di mana saya dilahirkan. Tumbuh dan dewasa mengecap kebahagiaan bersama keluarga. Di sanalah sebagian hidup saya ditakdirkan. Meski sekarang sudah pindah di ibukota, tapi, kenangan tentang kampung halaman tak pernah bisa dilupakan. Tentang kebahagiaan menjadi anak desa dan menghabiskan masa kecil bersama teman-teman di sana. Ah, betapa saya selalu merindukan masa-masa tersebut.
Sungkem dengan ibu dan bapak di hari raya, adalah kebahagiaan yang tak tergantikan bagi siapapun yang pergi merantau dan jauh dari orangtua. Apalagi, sejak ibu saya menjadi orangtua tunggal. Betapa sepuhnya beliau kini. Betapa kita tetap selalu dianggap seperti anak kecil saat di pangkuannya.
Ah, lebaran selalu memberikan keharuan yang membekas setiap tahunnya. Bagi banyak orang termasuk saya, mudik tak boleh dilewatkan jika tidak ada halangan yang mendesak, meski banyak pengorbanan dan persiapan yang harus dilakukan.
Akhir kata, saya mengucapkan selamat mudik buat teman-teman yang merayakan lebaran di kampung halaman. Pulanglah, karena kepulangan adalah tentang rindu, tentang ibu dan bapak, tentang kembali ke kehangatan keluarga dan tentang secangkir masa lalu yang tak mudah untuk berlalu.
Taqobalallahu minna wan minkum. Siyamana wa siyamakum. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Lebaran. :)
