Konten dari Pengguna

Menatap Kata 'Menyala' dengan Kacamata Semantik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ach Ikhwanul Faris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Bagi Anda yang gemar berselancar di media sosial khususnya TikTok, frasa "Menyala Abangkuh!" pasti sudah tidak asing lagi. Diikuti dengan emoji api, ungkapan ini seolah menjadi kewajiban baru saat netizen ingin memberikan pujian. Uniknya, kata "menyala" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sesuatu yang mengeluarkan api atau bersinar terang, kini bergeser maknanya di ruang digital. Mengapa kata yang identik dengan elemen fisik ini justru kian membara untuk mengapresiasi pencapaian seseorang?

Jika kita merunut garis waktunya, jargon ini sebenarnya lahir dari keringat dan rumput hijau. Jauh sebelum viral secara nasional pada rentang tahun 2021–2025, kata ini akrab di telinga komunitas futsal dan sepak bola tanah air. Klub Liga 1 Indonesia, Borneo FC Samarinda, menjadi salah satu motor penggeraknya. Di sana, sang kapten Diego Michiels beserta rekan setimnya kerap memakai dialek lokal "Manyala Abangku" sebagai amunisi pembakar semangat di ruang ganti. Jargon lokal ini kemudian mendobrak algoritma digital setelah akun TikTok @mamangwinner mengunggah konten kamus anak futsal pada 2021 lalu. Videonya meledak, ditonton lebih dari 7,6 juta kali, dan sisanya adalah sejarah. Kata tersebut bertransformasi menjadi bahasa gaul lintas kalangan, bahkan sempat dipakai oleh tokoh politik sekelas Anies Baswedan saat merespons Tom Lembong.

Secara linguistik, fenomena ini adalah contoh sempurna dari pergeseran semantik. Namun, jika kita ingin membedahnya lebih dalam, ada alasan psikologis dan kognitif mengapa otak kita begitu mudah menerima perubahan makna ini. Jawabannya bisa kita temukan dalam buku legendaris Metaphors We Live By karya tokoh semantik modern, George Lakoff dan Mark Johnson.

Lakoff dan Johnson berargumen bahwa cara berpikir manusia pada dasarnya dikendalikan oleh metafora. Kita kerap menggunakan pengalaman fisik yang konkret untuk memahami konsep abstrak. Dalam kasus ini, netizen secara tidak sadar memetakan konsep Api atau Cahaya (Ranah Sumber) ke dalam konsep Kehebatan atau Prestasi (Ranah Sasaran). Logika sederhananya: Prestasi adalah api yang membara.

Selain itu, Lakoff dan Johnson juga mengenal istilah orientational metaphors (metafora orientasi), di mana arah spasial memengaruhi kenyamanan psikologis manusia. Sesuatu yang baik biasanya diasosiasikan dengan arah ke atas (UP) atau kondisi yang terang (LIGHT). Api yang menyala secara alami bergerak ke atas dan mengusir kegelapan. Oleh karena itu, menyebut seseorang "menyala" secara otomatis menempatkan mereka pada posisi yang tinggi, sukses, dan penuh energi positif.

Namun, ada satu sudut pandang menarik dari teori Lakoff yang patut kita renungkan, yaitu konsep highlighting and hiding (penonjolan dan penyembunyian). Di sinilah opini saya bermain. Ketika netizen berbondong-bondong melayangkan pujian "Menyala Abangkuh!", metafora ini sebenarnya sedang melakukan tugas ganda. Di satu sisi, ia berhasil menonjolkan hasil akhir yang berkilau, prestasi yang memukau, dan panggung pembuktian di depan publik. Namun, di sisi lain, metafora ini juga menyembunyikan realitas di balik layar. Ia mengaburkan proses yang sunyi, peluh keringat, air mata frustrasi, hingga malam-malam tanpa tidur yang dilalui seseorang sebelum akhirnya mereka bisa "menyala". Kita kerap kali hanya merayakan apinya, tetapi lupa pada proses gesekan kayunya.

Meski begitu, hadirnya istilah ini di ruang publik digital membawa dampak sosial yang patut diapresiasi. Riset kualitatif yang diterbitkan oleh Jurnal PENTAS (2024) menemukan bahwa frasa ini tidak sekadar menjadi bumbu obrolan kosong. Di lingkungan komunitas, ungkapan ini berfungsi sebagai perekat solidaritas, pembangkit rasa percaya diri, dan bentuk dukungan emosional yang konkret. Terlebih lagi, variasi lokal seperti "Jeg Menyala Wi" di Bali atau modifikasi elegan seperti "Menyala Kakanda" membuktikan betapa dinamis dan kreatifnya netizen kita dalam berbahasa.

Hebatnya lagi, budaya internet Indonesia memiliki mekanisme rem internal yang unik. Kegemaran netizen meneriakkan kata "menyala" hampir selalu diimbangi dengan wejangan "Ilmu Padi" yaitu filosofi klasik tentang semakin berisi, semakin merunduk. Kombinasi ini menciptakan harmoni yang indah dalam berkomunikasi di era digital, sebuah ajakan untuk merayakan kesuksesan setinggi langit, namun tetap memijak bumi dengan kerendahan hati.

Pada akhirnya, bahasa gaul seperti "Menyala Abangkuh" bukanlah ancaman bagi bahasa formal, melainkan bukti bahwa bahasa kita hidup, adaptif, dan terus bernapas mengikuti perkembangan zaman. Jadi, sudahkah Anda membuat seseorang "menyala" hari ini lewat komentar positif Anda?