Menonton "CCTV" Orde Baru Dengan Gaya Baru lewat Student Hidjo

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ach Ikhwanul Faris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca kembali Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 dalam bentuk serial melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919 melalui Masman & Stroink. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Memunculkan sensasi yang ganjil. Karya sastra berumur seabad lebih ini sama sekali tidak terasa usang. Kekuatannya bukan terletak pada barisan kalimat yang mendayu-dayu, bukan pula pada jalinan romansa yang klise. Ketika membalik lembarnya hari ini, Student Hidjo terasa seperti rekaman CCTV yang diam-diam menangkap lanskap psikologi sosial bangsa kita yang belum bergeser satu sentimeter pun.
Melalui kisah pendek ini, Mas Marco membedah watak-watak kekuasaan, tentang mentalitas penindas yang lahir dari rahim kaum tertindas, tentang perempuan yang tak punya kuasa atas tubuh dan pilihannya, serta tentang para pemuda idealis yang pada akhirnya bertransformasi menjadi sekrup pertahanan rezim.
Jika kita bersedia meluangkan waktu sejenak untuk menelusuri lembar-lembar fragmen masa lalu ini, kita mungkin akan mengernyitkan dahi dan bertanya: jangan-jangan, apa yang dikritik seabad lalu adalah cermin dari apa yang sedang kita saksikan hari ini?
Paradoks Mantan Kuli yang Mendadak Jadi Tuan
Di tengah cerita, Mas Marco menyelipkan sebuah refleksi tajam bertajuk Bangsa Belanda di Hindia. Ia menulis:
"Banyak orang Belanda yang mengaku... pada mulanya adalah bekas kuli dan orang-orang rendahan. Sementara di sini main gila, menyombongkan diri, menghina kita, sepertinya kita ini budak belian." (Halaman. 12)
Analisis Mas Marco sebetulnya melampaui sekat rasial, ia sedang menguliti psikologi kelas. Menurutnya, agen kolonial yang paling kejam terhadap pribumi justru sering kali datang dari kelas sosial paling bawah di negeri asal mereka. Di Belanda mereka adalah buruh kasar yang tak punya posisi, namun begitu menginjakkan kaki di tanah jajahan, mereka mendadak mendapat privilese menjadi "tuan agung".
Anatomi psikologis ini rasanya sangat akrab dengan realitas politik kontemporer. Kita sering menyaksikan para pejabat atau pembuat kebijakan yang rekam jejak masa lalunya adalah aktivis pergerakan, jurnalis kritis, bahkan penyintas kekerasan aparat. Namun, begitu roda nasib berputar dan kursi empuk kekuasaan berhasil didekap, perilaku mereka bermutasi total. Mereka yang dulunya berteriak membela rakyat, kini tak ragu membungkam kritik, merendahkan protes masyarakat kecil, dan bertindak seolah-olah memiliki hak prerogatif absolut untuk mengatur segalanya.
Fenomena "lupa kulit" setelah memegang kendali kekuasaan ini membuktikan bahwa kritik Mas Marco tidak pernah kedaluwarsa. Ia berlaku bagi siapa saja yang kehilangan kompas moralnya begitu menduduki puncak hierarki.
Ketika Cinta Kalah oleh Kalkulasi Dinasti
Menjelang bagian akhir novel, terjadi dialog dingin antara orang tua Hidjo. Sang ibu berujar kepada suaminya, "Seandainya Raden Ajeng Wungu itu kita jadikan istri Hidjo, apa Kanda sepakat?" (Halaman. 75). Sang suami menyambutnya dengan kalimat yang pragmatis, "Adinda, saya setuju sekali dengan maksudmu yang sangat bagus itu. Tetapi apakah niatmu yang sebaik itu bisa terkabul?" (Halaman. 76).
Perhatikan bagaimana tidak ada ruang bagi kata "cinta" atau upaya untuk mendengar suara anak di sana. Percakapan itu murni kalkulasi bisnis dan politik dua keluarga borjuis baru. Sang saudagar kaya ingin menaikkan status sosialnya dengan merapat ke lingkaran bangsawan birokrat, sementara sang bupati butuh sokongan logistik finansial dari kaum saudagar untuk mengamankan pengaruhnya. Ini adalah cetak biru dari politik aliansi kelas.
Hari ini, pola tersebut tidak hilang, melainkan hanya berganti kemasan. Kita melihat bagaimana anak pejabat dipasangkan dengan anak pengusaha kakap, atau dua klan partai politik besar menyatukan pengaruh lewat janji suci di pelaminan. Bahkan, lingkaran domestik seperti istri, anak, hingga menantu kini lazim didorong masuk ke dalam kontestasi politik demi menjaga estafet dinasti kekuasaan. Istilah "restu orang tua" yang sakral kerap bergeser makna menjadi eufemisme dari konsolidasi bisnis dan ekspansi pengaruh.
Kode Budaya Bisu dalam Cengkeraman Relasi Kuasa
Ada satu detail gestur tubuh yang berulang kali digambarkan oleh Mas Marco sepanjang narasi novel ini yaitu:
"Tetapi dia menggigit bibir bawahnya sambil seperempat tertawa, yaitu suatu tanda bahwa di dalam hati Hidjo ada sebuah bayangan yang belum tampak dengan jelas." (Halaman. 2)
Aktivitas menggigit bibir dalam Student Hidjo menjadi simbol universal dari sebuah kondisi psikologis: "Aku tahu ada yang keliru, aku merasa tidak nyaman, tetapi aku memilih untuk tidak mencari perkara." Gestur ini dilakukan Hidjo saat diolok-olok oleh perempuan Belanda, dilakukan Wungu saat membaca surat perjodohan yang mengikatnya, dan dilakukan Biru saat menyadari dirinya harus mengalah demi relasi kuasa yang lebih besar.
Budaya "menggigit bibir" ini tumbuh subur di sekitar kita sekarang. Ia mewujud pada sikap pegawai negeri yang memilih menutup mata saat melihat indikasi korupsi di instansinya karena takut dimutasi. Ia tampak pada sosok intelektual atau mantan aktivis yang mendadak retorikanya melunak ketika lingkaran dekatnya mendapat jatah kursi struktural. Ia juga mewujud pada masyarakat umum yang hanya berani mengetik kata "prihatin" atau melempar satire halus di kolom komentar media sosial, sebelum kembali melanjutkan aktivitas digital mereka.
Sistem yang opresif memang tidak selalu bekerja dengan cara represif yang kasar. Cara paling halusnya adalah dengan menciptakan atmosfer ketakutan yang sublim, hingga membuat setiap orang merasa bahwa diam dan "menggigit bibir" adalah pilihan paling rasional demi keselamatan karier, ekonomi, dan kehidupan mereka.
Tragedi yang Menyamar Sebagai Akhir Bahagia
Student Hidjo berakhir dengan konklusi yang sekilas tampak mapan dan membahagiakan bagi semua tokohnya. Hidjo sukses meniti karier sebagai jaksa, Wardoyo naik takhta menjadi bupati, dan Walter (seorang pejabat kolonial) yang sempat menelantarkan perempuan lokal yang hamil tetap menikmati fasilitas jabatannya sembari menikahi Betje. Semua orang mendapatkan status sosial yang tinggi, semua orang mendapatkan pasangan yang setara secara kelas.
Namun, akhir cerita ini sejatinya adalah sebuah tragedi yang dibungkus rapi dalam komedi kehidupan. Tidak ada satu pun karakter yang benar-benar merdeka sebagai manusia seutuhnya. Mereka hanyalah pion-pion baru yang sukses masuk dan mengabdi pada mesin besar bernama sistem kekuasaan.
Bukankah siklus yang sama terus berputar di hadapan kita? Tokoh-tokoh pergerakan yang dahulu memimpin demonstrasi di jalanan kini duduk tenang di dalam gedung parlemen, menyusun regulasi yang justru membatasi ruang gerak sipil. Jurnalis yang dahulu tajam menguliti kebijakan penguasa kini berdiri di podium sebagai juru bicara yang bertugas mempercantik citra pemerintah.
Mas Marco Kartodikromo telah wafat dalam pengasingan di Boven Digoel, Papua pada tahun 1932 tanpa sempat mengecap pengadilan yang adil. Kendati raganya telah lama berkalang tanah, Student Hidjo menolak mati. Novel ini akan terus lahir kembali dan merekam realitas di sekitar kita setiap kali ada penguasa yang mengkhianati asal-usulnya, setiap kali hak asasi manusia dikorbankan demi syahwat politik, dan setiap kali kita memilih untuk melipat lidah ketimbang menyuarakan kebenaran.
Pada akhirnya, novel ini adalah sebuah gugatan sejarah yang masih terbuka. Ia sedang menunggu, sampai kapan kita akan terus memilih untuk menggigit bibir.
Daftar pustaka
Kartodikromo, M. (1918). Student Hidjo. Sinar Hindia. (Naskah digital diakses dari militanindonesia.org)
