Konten dari Pengguna

Moses yang Tak Pernah Kehilangan Penumpangnya

Achmad Fadillah

Achmad Fadillah

Pemerhati dan Peneliti Kebijakan Publik, Antropolog

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harriet Tubman, Jalan Panjang Menuju Kebebasan, dan Relevansinya Bagi Zaman Kita

Poster film biopik "Harriet"  (2019) yang dibintangi oleh Cynthia Erivo (sumber:shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Poster film biopik "Harriet" (2019) yang dibintangi oleh Cynthia Erivo (sumber:shutterstock.com)

“Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.”

— Harriet Tubman

Ada sebuah adegan dalam film Harriet (2019) yang sulit lepas dari ingatan. Cynthia Erivo, tokoh yang memerankan Harriet Tubman — berdiri di tepi sungai gelap, baru saja menyeberangi garis kebebasan. Di depannya: utara, harapan, kehidupan baru. Di belakangnya: selatan, perkebunan, orang-orang yang ditinggalkan. Ia bisa saja terus melangkah. Sebaliknya, ia berbalik. Bukan untuk menyerah. Malainkan untuk menjemput yang lain.

Adegan itu bukan rekaan semata. Selama satu dekade penuh, antara 1849 hingga 1860 , perempuan bernama asli Araminta Ross ini melakukan sekitar tiga belas perjalanan berbahaya kembali ke jantung wilayah perbudakan Amerika. Ia menembus hutan, rawa, dan malam yang buta, menuntun puluhan jiwa menuju kebebasan. Tidak satu pun penumpangnya pernah tertangkap. Bagi siapa pun yang baru mengenal kisahnya, fakta itu terasa nyaris mustahil. Dan justru di sanalah kebesarannya bersemayam: bukan dalam legenda, melainkan dalam kenyataan yang bahkan lebih luar biasa dari fiksi mana pun.

SEBUAH NAMA YANG DITEMPA OLEH LUKA

Harriet Tubman lahir sekitar Maret 1822 di Dorchester County, Maryland, sebagai Araminta Ross — dipanggil "Minty" — anak kelima dari sembilan bersaudara. Sejak hari pertama di dunia, ia mewarisi sesuatu yang tidak pernah ia pilih: status budak. Dalam sistem chattel slavery yang berlaku di Amerika, anak yang lahir dari rahim budak otomatis menjadi budak — hukum yang mengubah manusia menjadi harta warisan yang bisa dijual, dipisahkan dari keluarganya, kapan saja, tanpa syarat apa pun (Larson, 2004).

Masa kecil Minty adalah pelajaran tentang kekerasan yang tak pernah berhenti. Ia disewakan dari satu rumah ke rumah lain sejak belia. Mengasuh bayi di malam yang panjang, memeriksa perangkap musang di rawa-rawa, menebang kayu di belantara Maryland yang dingin (Harriet Tubman Underground Railroad Byway, 2021). Dari kerja paksa itulah ia tanpa sengaja mewarisi keterampilan yang kelak menyelamatkan banyak nyawa: membaca bintang sebagai kompas, mengenali jejak di tanah becek, bertahan hidup di alam liar tanpa bekal.

Luka terbesar justru datang dari sepotong besi. Ketika Minty berusia sekitar dua belas tahun, seorang mandor melemparkan pemberat besi ke arah seorang budak yang hendak kabur. Benda itu meleset dan menghantam kepala Minty. Tidak ada dokter, tidak ada perawatan — ia dipaksa kembali bekerja hampir seketika (Oertel, 2015). Akibatnya terasa seumur hidup: sakit kepala yang melumpuhkan dan serangan tidur mendadak tanpa peringatan. Berdasarkan kajian yang diterbitkan dalam Journal of General Internal Medicine menyimpulkan bahwa kondisi Tubman kemungkinan besar adalah narkolepsi pasca-trauma akibat kerusakan neuron hipotalamus — bukan epilepsi lobus temporal seperti dugaan orang-orang selama ini (Zuzuárregui & Kutscher, 2023).

Minty tidak pernah memaknai cedera itu sebagai kutukan. Dalam visi-visi yang muncul setiap kali ia tiba-tiba terlelap, ia melihat sesuatu yang lain: jalan yang aman, wajah-wajah yang perlu diselamatkan, bahaya yang mendekat dari arah yang tidak terduga. Ia meyakininya sebagai percakapan langsung dengan Tuhan dan kompas itu tidak pernah salah arah.

TIGA BELAS PERJALANAN KE SELATAN

Musim gugur 1849, kabar bahwa Minty dan beberapa saudaranya akan segera dijual memaksanya bertindak. Ia melarikan diri sendirian, di malam hari, mengikuti Sungai Choptank ke arah timur laut, menembus Delaware, lalu ke Pennsylvania. Ketika kakinya akhirnya menginjak tanah Philadelphia — kota bebas, kota para abolisionis — ia melakukan sesuatu yang sederhana namun sarat makna: mengubah namanya. Araminta Ross dibuangnya selamanya. Ia mengambil nama ibunya, Harriet, dan nama suaminya, Tubman. Sebuah nama baru untuk perempuan yang baru (Larson, 2004).

Kebebasan pribadi tidak pernah cukup baginya. Terlalu banyak wajah yang tertinggal di selatan. Maka ia kembali, bukan sekali, bukan dua kali, melainkan sekitar tiga belas kali dalam sepuluh tahun. Ia merancang setiap perjalanan dengan kecerdikan yang dingin: selalu berangkat Sabtu malam, karena iklan pelarian baru terbit di surat kabar pada hari Senin, memberinya jeda dua hari yang berharga. Dalam setiap perjalannya, Tubman selalu membawa pistol bukan hanya untuk perlindungan dari penangkap budak, tetapi juga untuk memastikan tidak ada anggota kelompok yang berbalik pulang karena ketakutan. Satu orang yang kembali bisa menghancurkan seluruh jaringan (National Park Service, n.d.).

Hasilnya: sekitar tujuh puluh orang berhasil ia bawa langsung ke utara. Lima puluh hingga enam puluh orang lain ia bekali dengan petunjuk untuk melarikan diri sendiri (Larson, 2004). Angka-angka itu mungkin lebih kecil dari mitos populer yang sering menyebut "lebih dari tiga ratus orang" — mitos yang berasal dari biografi awal yang tidak akurat. Namun bukan angka yang menjadi inti kisah ini. Intinya adalah satu kalimat yang tidak pernah terbantahkan: tidak satu pun penumpangnya pernah ditangkap. Abolisionis William Lloyd Garrison menjulukinya "Moses" , nama seorang nabi yang memimpin umatnya keluar dari perbudakan. Julukan itu melekat, dan Tubman tidak menolaknya.

KETIKA MOSES MENJADI MATA-MATA

Perang Saudara membuka babak baru dalam kehidupan Tubman. Juni 1863, ia memandu Kolonel James Montgomery beserta 150 tentara Union menyusuri Sungai Combahee di South Carolina, menembus kegelapan total. Ia hafal setiap tikungan sungai, setiap posisi ranjau Konfederasi, setiap jalan tikus yang bisa membawa pasukan tanpa terdeteksi, semuanya berkat jaringan informan yang ia rawat selama berbulan-bulan jauh sebelum satu pun tentara Union menginjakkan kaki di wilayah itu (Britannica, 2024). Ia bukan sekadar pemandu; ia adalah kepala intelijen lapangan dan perancang operasi.

Hasilnya mengubah catatan sejarah militer Amerika: lebih dari tujuh ratus orang yang diperbudak berhasil dibebaskan dalam satu malam. Tidak ada operasi militer lain dalam sejarah Amerika yang menorehkan angka sebesar itu dalam waktu sesingkat itu (History.com, 2009). Tubman adalah perempuan pertama yang memimpin ekspedisi bersenjata di negeri itu — dan ia melakukannya sebagai mantan budak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, berpostur di bawah satu setengah meter, dengan tubuh yang masih membawa bekas cedera otak dari masa kecilnya (Oertel, 2015). Sebuah pencapaian yang, seandainya dilakukan oleh seorang jenderal laki-laki kulit putih, mungkin sudah diabadikan dalam setiap buku sejarah sekolah dasar Amerika.

PERJUANGAN YANG TIDAK MENGENAL PENSIUN

Penghapusan perbudakan melalui Amandemen ke-13 pada 1865 tidak membuat Tubman berhenti. Ia menetap di Auburn, New York, dan melanjutkan perjuangan di dua front sekaligus: hak-hak sipil kaum kulit hitam dan hak pilih perempuan. Ia berdiri satu panggung dengan Susan B. Anthony dan Elizabeth Cady Stanton, dengan keyakinan yang tidak pernah goyah bahwa tidak ada manusia yang boleh dimiliki, dan tidak ada suara yang boleh dibungkam (National Women's History Museum, n.d.). Respons pemerintah Amerika terhadap jasanya terasa menyakitkan. Amerika membutuhkan lebih dari tiga dekade untuk menyetujui pensiun atas jasanya dalam Perang Saudara. Ketika Kongres akhirnya bertindak, hasilnya adalah tunjangan dua puluh dolar sebulan (Britannica, 2024) — untuk perempuan yang membebaskan lebih dari tujuh ratus jiwa dalam satu malam. Pada 10 Maret 1913, Harriet Tubman meninggal dunia karena pneumonia di Auburn pada usia sekitar sembilan puluh satu tahun. Kata-kata terakhirnya kepada mereka yang berkumpul di sisinya: "I go to prepare a place for you."

Lebih dari satu abad setelah kematiannya, kisah Harriet Tubman masih terasa seperti pertanyaan yang belum selesai. Hal ini bukan tentang masa lalu, melainkan tentang kita. Tentang berapa banyak dari kita yang, di hadapan ketidakadilan yang nyata, memilih untuk berbalik dan menjemput yang tertinggal, alih-alih terus berjalan sendirian menuju aman.

Harriet Tubman bukan pahlawan yang lahir dari keistimewaan. Tidak ada yang memberinya keunggulan sejak awal. Bukan kekayaan, bukan kulit yang dilindungi hukum, bukan tubuh yang sehat, bukan huruf yang pernah ia pelajari di bangku sekolah. Yang ia miliki hanyalah keyakinan bahwa penderitaan yang ia rasakan tidak boleh terus dirasakan oleh orang lain selama ia masih bisa melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Dalam setiap perjalanan kembali ke selatan, ia mempertaruhkan satu-satunya hal yang betul-betul miliknya: hidupnya sendiri. Dan ia melakukannya tiga belas kali.

Sumber & Referensi

Britannica (2024); History.com (2009); Larson, K. C. (2004). Bound for the Promised Land. One World/Ballantine Books; National Park Service (n.d.); National Women’s History Museum (n.d.); Oertel, K. T. (2015). Harriet Tubman. Routledge; Harriet Tubman Underground Railroad Byway (2021); Zuzuárregui, J. R. P., & Kutscher, S. J. (2023). Journal of General Internal Medicine, 39, 158–163.