Jakarta, Luka Ojol, dan Nyanyian Bertahan Hidup

1.Mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 2. Anggota Remaja Masjid Al ikhlas (Remila)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Achmad Fauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian besar perantau dan kelas pekerja bawah, Jakarta sering kali menjelma menjadi dua sisi mata uang: sebuah ladang impian sekaligus labirin yang kejam. Dalam cerpen Kota yang Memakan Anak-Anaknya karya Kusuma Widjayanti, metafora kemegahan urban ini dikupas dengan sangat getir sejak kalimat pertama. Jakarta tidak lagi digambarkan sebagai kota metropolitan yang gemerlap, melainkan sebagai "naga purba yang tidak pernah mengenal lelap," dengan gedung-gedung tinggi sebagai sisiknya dan jalan raya beraspal sebagai lidahnya yang terus menghisap tenaga rakyat kecil.
Cerpen ini menyoroti kehidupan Nadia, ibunya, dan sang kakak bernama Raka seorang pengemudi ojek online (ojol) yang menderita pincang akibat polio sejak kecil. Lewat tokoh Raka, kita diajak melihat potret nyata marginalisasi sosial di mana kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan "simfoni" harian yang harus dihadapi. Sang ibu digambarkan terbiasa "memasak udara dengan kesabaran seorang penyihir," menyuapkan aroma kenangan demi menenangkan perut anak-anaknya yang kelaparan.
Ketika Aspal Menjadi Saksi Bisu
Bagi Raka, motor bebek butut dan helm retak adalah satu-satunya senjata untuk bertahan hidup di kerasnya ibu kota. Meskipun kerap mendapat ejekan kasar sebagai "si timpang ojol" di sudut-sudut jalan, ia memilih untuk tetap tersenyum dan menolak pasrah pada keterbatasan fisiknya. Jalanan Jakarta yang panas telah menjadi ruang hidup sekaligus takdir yang ia dekap erat-erat.
Ketabahan yang tragis ini terekam jelas dalam salah satu dialog emosional antara Raka dan Nadia. Suatu malam, di sudut kamar yang sepi, Raka membisikkan sebuah pesan yang kelak menjadi kenyataan pahit:
"Kalau aku hilang suatu hari nanti, Nad, jangan cari jasadku. Carilah aku di aspal. Aku akan menyatu dengan jalan-jalan yang kita injak setiap hari."
Dialog ini bukan sekadar bualan batin seorang sopir ojol yang kelelahan. Ini adalah firasat sekaligus kritik sosial yang tajam. Jalanan bagi kelas pekerja bawah bukan lagi tempat singgah, melainkan ruang yang merenggut seluruh eksistensi mereka, bahkan hingga tetes darah terakhir. Raka pada akhirnya diceritakan tewas tergilas di jalanan oleh "kerbau besi" truk aparat saat gelombang protes rakyat pecah menuntut keadilan ekonomi.
Kontras Mewah Ruang Sidang dan Jeritan Jalanan
Kekuatan utama cerpen ini terletak pada bagaimana penulis membenturkan realitas kehidupan bawah dengan kepalsuan para penguasa. Kusuma Widjayanti dengan sangat piawai menghadirkan tokoh pejabat bernama Darmawan, yang berorasi di ruang sidang mewah dengan "bibir LED berkilau palsu" sambil menertawakan gugatan rakyat kecil.
Di satu sisi, ada rakyat yang tercekik oleh harga beras yang meroket dan subsidi yang mendadak lenyap. Di sisi lain, ada para penguasa yang kekenyangan dengan tunjangan kedewanan yang menggunung. Kontras yang menyakitkan ini ditekankan lewat ingatan Nadia akan pesan kakaknya yang hadir lewat mimpi:
"Lihatlah mereka. Mereka kenyang dengan kursi kekuasaan, sementara engkau mengunyah debu jalanan."
Kutipan tersebut menjadi tamparan keras bagi realitas sosial kita hari ini. Kursi kekuasaan sering kali membuat mereka yang di atas lupa pada bau bensin, peluh, dan debu yang dikunyah oleh para pekerja informal demi menyambung hidup dari hari ke hari.
Perlawanan yang Tak Pernah Mati
Meski berakhir dengan hilangnya jasad Raka dan hilangnya Bagas seorang jurnalis idealis yang mendokumentasikan kebenaran cerpen ini tidak sepenuhnya meninggalkan pembaca dalam keputusasaan yang gelap. Lewat sebuah kamera tua yang ditinggalkan Bagas, suara dan wajah Raka mendadak muncul di layar besar ruang sidang penguasa, menggemakan perlawanan yang tak bisa dibungkam oleh kematian fisik sekalipun.
Dari rekaman misterius itu, suara Raka menggelegar memecah keangkuhan ruang sidang:
"Aku tidak mati di jalan kemarin. Aku hidup dalam kalian semua. Aku hidup dalam luka kota ini yang tak kunjung sembuh... Selama kalian masih bernapas, aku tidak akan pernah mati."
Melalui akhir yang bernuansa magis sekaligus politis ini, kita disadarkan bahwa Jakarta mungkin sebuah kota yang kejam, yang sanggup "memakan" anak-anaknya sendiri melalui kemiskinan struktural dan kesewenang-wenangan. Namun, di saat yang sama, dari dalam rongga perutnya yang gelap, Jakarta juga selalu melahirkan nyanyian perlawanan dan solidaritas yang menolak untuk tunduk. Roh perjuangan para pekerja yang gugur di aspal akan terus hidup dalam setiap langkah kaki mereka yang tersisa, menuntut esok hari yang lebih adil.
