Konten dari Pengguna

Jakarta yang Menelan Mimpi Rakyat Kecil

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Fauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini saya buat dan edit sendiri berdasarkan suasana dalam cerpen, menampilkan perjuangan pengemudi ojek online di tengah kerasnya kehidupan kota.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini saya buat dan edit sendiri berdasarkan suasana dalam cerpen, menampilkan perjuangan pengemudi ojek online di tengah kerasnya kehidupan kota.

Jakarta selama puluhan tahun selalu dipromosikan sebagai kota harapan. Kota ini dipandang sebagai tempat yang mampu mengubah nasib seseorang melalui kerja keras dan perjuangan. Gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan mewah, serta geliat ekonomi yang tak pernah berhenti menjadi simbol kemajuan yang selalu dibanggakan. Namun, di balik segala kemegahan tersebut, masih banyak masyarakat kecil yang harus berjuang mempertahankan hidup di tengah kerasnya kehidupan perkotaan. Realitas itulah yang dipotret secara mendalam oleh Kusuma Widjayanti dalam cerpen Kota yang Memakan Anak-Anaknya.

Cerpen ini tidak hanya menghadirkan kisah sedih tentang kemiskinan, tetapi juga menjadi cermin bagi kondisi sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat. Dengan gaya bahasa puitis dan sentuhan realisme magis, Kusuma Widjayanti mengajak pembaca melihat Jakarta dari sudut pandang yang berbeda. Kota metropolitan tidak lagi tampil sebagai simbol kemajuan semata, melainkan sebagai ruang yang penuh kontradiksi antara kemewahan dan penderitaan.

Sejak awal cerita, Jakarta digambarkan sebagai "naga purba yang tidak pernah mengenal lelap". Penggambaran tersebut bukan sekadar permainan bahasa, melainkan metafora yang memperlihatkan bahwa kota besar memiliki kekuatan yang mampu mengendalikan kehidupan manusia. Gedung-gedung tinggi menjadi sisik-sisiknya, sedangkan jalan raya yang panjang digambarkan sebagai lidah yang terus menghisap tenaga rakyat kecil. Metafora tersebut menampilkan Jakarta sebagai ruang yang hidup, bergerak, dan seolah tidak pernah berhenti menuntut pengorbanan dari mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat.

Di tengah kerasnya kehidupan tersebut, hadir sosok Nadia bersama keluarganya. Mereka hidup dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Sang ibu digambarkan sebagai perempuan yang penuh kesabaran, berusaha menjaga keluarganya tetap bertahan meskipun keadaan semakin sulit. Namun, tokoh yang paling menonjol dalam cerpen ini adalah Raka, kakak Nadia yang mengalami kelumpuhan akibat polio sejak kecil.

Meski memiliki keterbatasan fisik, Raka tidak menyerah pada keadaan. Ia memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online demi memenuhi kebutuhan keluarga. Motor tua dan helm yang telah retak menjadi teman sehari-harinya dalam menghadapi kerasnya jalanan Jakarta. Kehidupan sebagai pengemudi ojek online membuat Raka berhadapan dengan berbagai bentuk diskriminasi. Ia kerap menerima ejekan dari orang lain karena kondisi fisiknya. Namun, ia tetap memilih tersenyum dan melanjutkan hidup.

Melalui tokoh Raka, Kusuma Widjayanti menghadirkan representasi dari ribuan pekerja informal yang setiap hari bergantung pada jalanan. Mereka bekerja dari pagi hingga malam, menghirup asap kendaraan, menghadapi kemacetan, dan mempertaruhkan keselamatan demi memperoleh penghasilan yang tidak seberapa. Dalam konteks ini, jalanan bukan hanya ruang publik, tetapi juga ruang perjuangan dan ruang pengorbanan.

Hal tersebut tercermin ketika Raka mengatakan kepada Nadia agar tidak mencari jasadnya apabila suatu hari ia menghilang. Ia meminta adiknya mencari dirinya di aspal jalanan karena dirinya telah menyatu dengan jalan yang setiap hari ia lalui. Dialog tersebut bukan hanya ungkapan emosional, melainkan simbol bahwa kehidupan para pekerja kecil begitu erat dengan ruang yang mereka tempati. Jalan raya telah menjadi bagian dari identitas mereka.

Tragedi kemudian datang ketika demonstrasi besar terjadi. Gelombang protes rakyat yang menuntut keadilan ekonomi berubah menjadi kekacauan. Dalam peristiwa tersebut, Raka tewas tergilas truk aparat yang dalam cerita digambarkan sebagai "kerbau besi". Kematian Raka menjadi titik paling tragis dalam cerita. Namun, kematian itu bukan hanya menggambarkan berakhirnya kehidupan seseorang, melainkan menjadi simbol matinya harapan dan mimpi masyarakat kecil yang terus terhimpit oleh sistem.

Selain menggambarkan penderitaan rakyat kecil, cerpen ini juga menghadirkan kritik terhadap para penguasa melalui tokoh Darmawan. Ia digambarkan sebagai pejabat yang berpidato di ruang sidang mewah dengan penuh kepalsuan. Sementara rakyat kesulitan membeli kebutuhan pokok, para elite justru menikmati berbagai fasilitas dan kenyamanan. Kontras tersebut memperlihatkan jurang sosial yang semakin lebar antara penguasa dan masyarakat bawah.

Dalam salah satu bagian cerita, Raka kembali hadir melalui mimpi Nadia dan mengatakan bahwa para penguasa telah kenyang dengan kursi kekuasaan, sementara rakyat kecil hanya mampu mengunyah debu jalanan. Kalimat tersebut menjadi kritik yang sangat kuat terhadap ketidakpekaan elite terhadap kehidupan rakyat. Mereka yang berada di atas sering kali lupa bahwa di luar ruang-ruang berpendingin udara, masih banyak masyarakat yang harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menariknya, cerpen ini tidak berhenti pada suasana duka. Kehadiran kamera tua milik Bagas, seorang jurnalis yang menghilang secara misterius, menghadirkan unsur realisme magis yang memperkuat cerita. Dari kamera tersebut, wajah dan suara Raka kembali muncul di layar besar ruang sidang para pejabat. Kehadirannya menghentikan pidato Darmawan dan mengguncang seluruh ruangan.

Melalui suara yang menggema, Raka mengatakan bahwa dirinya tidak benar-benar mati. Ia hidup dalam luka kota yang tidak pernah sembuh. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kematian fisik tidak mampu menghapus semangat perlawanan. Selama masih ada orang yang mengingat penderitaan dan ketidakadilan, suara mereka yang tertindas akan terus hidup.

Jika ditinjau dari teori sastra, Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa karya fiksi merupakan hasil kreativitas pengarang yang berangkat dari berbagai persoalan kehidupan manusia. Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu mengajak pembaca merenungkan berbagai masalah kehidupan dan memanusiakan manusia.

Pandangan tersebut terlihat jelas dalam cerpen Kota yang Memakan Anak-Anaknya. Walaupun cerita dipenuhi unsur imajinatif dan realisme magis, persoalan yang diangkat tetap bersumber dari realitas sosial yang nyata. Menurut Nurgiyantoro, dunia fiksi merupakan perpaduan antara unsur mimetik atau peniruan terhadap kenyataan dengan kreativitas pengarang dalam membangun dunia yang baru.

Dengan demikian, cerpen ini dapat dipahami sebagai refleksi kehidupan masyarakat perkotaan yang dibungkus dengan kekuatan imajinasi. Kehadiran tokoh Raka setelah kematiannya memang tidak mungkin terjadi dalam kenyataan, tetapi justru melalui unsur tersebut pengarang ingin mempertegas bahwa suara kaum tertindas tidak pernah benar-benar hilang.

Pada akhirnya, Kota yang Memakan Anak-Anaknya bukan sekadar cerita tentang seorang pengemudi ojek online yang meninggal di jalanan. Cerpen ini merupakan potret tentang ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan ketidakadilan yang masih membayangi kehidupan masyarakat kota. Kusuma Widjayanti mengingatkan bahwa kemajuan tidak seharusnya hanya diukur dari tingginya gedung atau besarnya investasi, melainkan dari kemampuan sebuah kota dalam menjaga martabat manusia yang hidup di dalamnya.

Ketika masyarakat kecil terus diabaikan, ketika suara mereka tidak lagi didengar, dan ketika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang, saat itulah sebuah kota perlahan berubah menjadi tempat yang memakan anak-anaknya sendiri. Dan pertanyaan yang ditinggalkan cerpen ini masih tetap relevan hingga hari ini: apakah kota dibangun untuk manusia, atau manusia yang terus dikorbankan demi ambisi pembangunan?

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Widjayanti, Kusuma. Kota yang Memakan Anak-Anaknya. Cerpen Kompas.