ASN dan Godaan Media Sosial : Antara Eksistensi Diri dan Integritas

Guru SMAN 1 Sragen, Traveller low budget, Food Vloger tapi gak doyan pedas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Achmad Hambali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan media sosial di era digital seperti sekarang ini tentunya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hanya dengan duduk manis maupun tiduran sambil menggerakkan beberapa sentuhan jari, seseorang dapat dengan mudah membagikan aktivitas, menyampaikan pendapat, membangun jejaring, hingga memperoleh pengakuan (validasi) dari orang lain. Media sosial menawarkan ruang eksistensi yang sangat luas bagi siapa pun tapa memandang usia maupun status sosial di masyarakat. Tidak terkecuali Aparatur Sipil Negara (ASN).
Menjadi seorang ASN tentunya bukan berarti harus bersih dari media sosial. Menjadi seorang ASN juga memiliki hak untuk berekspresi, berkomunikasi, membangun jejaring, bahkan memanfaatkan media sosial sebagai edukasi dan pelayanan publik. Namun, persoalan muncul ketika media sosial tidak lagi ditempatkan sebagai sarana edukasi dan pelayanan publik, melainkan sebagai sarana eksistensi untuk menjadi pusat perhatian. Ketika notifikasi lebih ditunggu dari pada masyarakat yang membutuhkan pelayanan dari seorang ASN, ketika jumlah like lebih diperhatikan dibandingkan kualitas pekerjaan, di situlah integritas ASN mulai diuji.
Tentunya kita tidak sedang membicarakan semua ASN, masih banyak ASN yang bekerja dengan penuh dedikasi, disiplin, melayani masyarakat dengan ramah, menyelesaikan tugas tanpa banyak publikasi, dan bekerja dengan penuh integritas. Akan tetapi, fenomena sebagian besar ASN yang terlalu larut dalam euforia dan aktivitas media sosial patut menjadi bahan refleksi. Sebab, di balik layar gawai yang sederhana menyimpan banyak persoalan besar tentang profesionalisme dan tanggung jawab sebagai ASN yang seharusnya bekerja menjadi pelayan publik.
Media sosial menawarkan penghargaan instan kepada penggunanya. Dalam hitungan menit dengan mudah unggahan kita mendapatkan tanda suka (like), komentar, atau dibagikan (repost) oleh orang lain. Dalam hitungan menit pula, seseorang dapat merasakan bagaimana menjadi manusia yang sangat diperhatikan dan diakui oleh orang lain.
Di sinilah godaan itu dimulai. Seorang ASN bisa saja tergoda untuk lebih membangun citra diri dari pada membangun kualitas pelayanan. Foto kegiatan di kantor diunggah, aktivitas pribadi dibagikan, pendapat pribadi bebas disampaikan, bahkan rutinitas pribadi dipertontonkan publik dengan bebas. Sebenarnya semua hal itu tidak salah. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas tersebut menggeser prioritas utama seorang ASN, yakni : bekerja dan melayani.
Namun pada kenyataannya banyak di antara kita sering terjebak pada apa yang tampak dipermukaan. ASN yang rajin mengunggah aktivitas positif mungkin dianggap mempunyai kinerja yang baik. Padahal media sosial hanyalah sebuah etalase. Ia tidak selalu menggambarkan apa yang terjadi di balik layar. Ironisnya pengguna media sosial lainnya selalu beranggapan aktivitas yang diunggah di media sosial menjadi tolak ukur sebuah prestasi yang telah dicapai.
Integritas yang sesungguhnya ketika tidak ada kamera. Ia terlihat ketika seorang ASN tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada yang memotretnya. Ia terlihat ketika seorang pegawai tetap ramah menghadapi masyarakat yang datang dengan berbagai persoalan. Ia terlihat ketika pekerjaan diselesaikan dengan benar meskipun tidak mendapatkan pujian. Dengan kata lain, ukuran integritas seorang ASN bukan seberapa sering terlihat di media sosial, melainkan seberapa sanggup ia menjaga konsistensi dalam menjalankan tangungjawab ketika tidak sedang ada kamera yang mengabadikan atau dilihat oleh publik.
Media sosial sebenarnya dapat digunakan sebagai media menyampaikan informasi, menerima pengaduan, mengedukasi masyarakat, dan membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Namun, sebaliknya, media sosial dapat menjadi musuh pelayanan publik apabila tidak dapat memanfaatkannya dengan bijak sesuai kondisi dan kebutuhan. Permasalahannya ada pada seseorang yang menggunakan dan memanfaatkannya. Media sosial dapat menjadi alat produktivitas dalam melakukan pelayanan, atau menjadi sumber distraksi.
Pada masalah inilah kedewasaan digital seorang ASN diperlukan. Seorang ASN harus mampu membedakan kapan menjadi pengguna media sosial dan kapan menjadi pelayanan publik. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya tidak ditempatkan sebagai penonton dalam panggung digital ASN. Seorang ASN diperbolehkan memiliki akun di media sosial yang menarik. Boleh membuat konten. Boleh membangun personal branding. Bahkan, jika dilakukan secara positif dan proporsional, aktivitas tersebut dapat memperkuat citra institusi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Akan tetapi jangan sampai personal branding mengalahkan public service branding. Karena citra terbaik seorang ASN bukanlah berfoto memakai seragam yang bagus, bukan juga jumlah followers (pengikut) media sosial yang banyak, akan tetapi citra terbaik seorang ASN adalah ketika masyarakat berkata, “Saya dilayani dengan sangat baik.” Kalimat sederhana itu jauh lebih berharga dari pada ribuan like atau komentar semu di media sosial. Menjadi seorang ASN tidak perlu menjauhi media sosial, yang diperlukan adalah kemampuan menempatkan penggunaan media sosial secara proporsional.
Sudah waktunya seorang ASN bertanya kepada diri sendiri sebelum membuka media sosial pada jam kerja. Apakah yang saya lakukan ini dengan berkaitan dengan pekerjaan? Apakah masyarakat sedang menunggu pelayanan saya? Apakah aktivitas saya akan meningkatkan kualitas pekerjaan atau justru menguranginya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem bagi godaan digital. ASN yang sesungguhnya tidak harus selalu terlihat. Ia cukup hadir, pekerja, melayani, dan memberikan manfaat. Suatu saat masyarakat tidak lagi mengingat berapa jumlah unggahan yang pernah dibuat oleh seorang ASN, akan tetapi mereka masih mengingat keramahan, kecepatan, dan ketulusan pelayanannya, barangkali di situlah eksistensi yang sesungguhnya telah menemukan maknanya.
