Konten dari Pengguna

Digital dan Diskursus Masyarakat Tanpa Sekolah

Achmad Hidayatullah

Achmad Hidayatullah

Mahasiswa dan peneliti university of szeged Bekerja sebagai dosen di universitas muhammadiyah surabaya

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Digital dan Diskursus Masyarakat Tanpa Sekolah
zoom-in-whitePerbesar

Era pandemi covid 19 menjadi momentum untuk membuka kembali ingatan saya terhadap diskursus deschooling society atau masyarakat tanpa sekolah. Gagasan deschooling society pertama kali dilontarkan oleh Ivan Illich sebagai kritik terhadap praktek sekolah yang anti pendidikan.

Salah satu kritiknya adalah pengetahuan justru akan terhambat jika pendidikan di lembagakan. Menurutnya justru sekolah antipendidikan, karena sekolah kemudian menjadi satu-satunya spesialis pendidikan. Sekolah terlalu banyak menyedot uang, tenaga dan kemauan baik yang diinginkan oleh pendidikan.

Bencana Covid 19 yang membuat pemerintah memberlakukan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), setidaknya memberikan pemahaman yang sejalan dengan gagasan Ivan Illich. Pendidikan tidak perlu mahal, pendidikan bukan berarti harus sekolah. Siswa dapat belajar secara mandiri dengan banyak pilihan tanpa harus mengikuti paket kurikulum.

Pada saat menempuh studi di Edinburgh University, Ivan Illich telah menyebutkan website jaringan internet dapat membantu seseorang belajar secara mandiri dan holistic. Meskipun saat itu teknologi digital belum secanggih saat ini dan bahkan belum ada smartphone.

Saat melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar dari rumah selama era pandemi ini, saya pikir kita sedang menuju deschooling society atau masyarakat tanpa sekolah. Anda tidak perlu lebih dulu marah dengan argumentasi ini.

Saya aka mencoba menguraikannya secara perlahan dari tiga persoalan yang telah diamati. Pertama masalah internet yang membantu kemandirian belajar, kedua internet menjadikan ruang kelas lebih fleksibel, dan ketiga inflasi akademis.

Belajar dari Rumah : Internet Membuat Lebih Mandiri

Ada seorang teman bercerita, bahwa saat masuk kuliah dia mendapatkan tugas dari dosennya untuk membuat sebuah materi yang tidak pernah disampaikan oleh sang dosen ketika selama di kelas. Akhirnya ia pergi ke perpustakaan dan membuka komputer yang terhubung dengan internet.

Melalui mesin pencari itu, ia menemukan materi yang menurut dia cocok. Ia simpan dalam bentuk power point. Menurutnya ini pasti baru dan sangat tepat. Namun tidak disangkan, saat di kelas justru sang dosen tidak percaya terhadap materi yang ia bawa. Bahkan curiga, mempersoalkan terkait sumber, apakah teman saya ini benar-benar punya bukunya.

Dia menjawab dengan tegas, kalau ia punya bukunya, walaupun yang ia maksud adalah buku e-book atau link buku tersebut masih disimpan. Namun tak disangka dosen itu marah, dan tidak percaya. Menurutnya mana mungkin teman saya punya buku itu. Alasannya, si dosen saja baru tau materi itu di kelas saat kuliah S3.

Cerita ini cukup menarik, karena bisa dilihat ada dua perbedaan yang cukup jelas. Mahasiswa adalah kaum millennial yang dapat belajar secara mandiri. Mahasiswa hidup ditengah lingkungan teknologi digital yang canggih. Sang dosen adalah gambaran generasi lama yang hidup ditengah teknologi.

Dia harus menyesuaikan diri dengan dunia digital, sehingga tidak berlebihan jika disebut sebagai digital immigrann. Peristiwa ini juga memberikan gambaran bagaimana seseorang mampu mencari pengetahuan melalui internet secara bebas. Tidak terikat paket kurikulum yang mengharuskan seseorang perlu belajar sebuah topik secara berjenjang.

Selama pelaksanaan belajar dari rumah, masyarakat bisa merasakan bagaiman internet mampu membantu proses pendidikan tetap berjalan. Internet memberikan kesempatan seseorang untuk belajar secara mandiri berdasarkan apa yang mereka inginkan.

Cooley dan Johnston (2000) menyebutkan masa depan pendidikan dunia sangatlah individual, siswa bisa mengendalikan pembelajaran mereka sendiri dengan dukungan elektronik.

Belajar dari Rumah : Kelas Tidak Hanya di Sekolah.

Selama pembelajaran dilakukan dari rumah secara online, ruang kelas menjadi fleksibel. siswa bisa belajar di manapun. Ruang kelas yang selama ini ada bukan tidak mungkin pada kemudian hari akan tergantukan dengan ruang virtual sama sekali.

Selama prose belajar dari rumah, banyak orang telah terbiasa belajar dengan daring. Sebagian mereka merasa nyaman dengan kuliah online yang memungkinkan video tatap muka, terlepas dari berbagai kendala seperti masalah jaringan internet yang eror dll.

Saya pikir hanya persoalan waktu mereka akan sepenuhnya untuk berpindah dari pertemuan fisik menuju tatap muka virtual. Toh pada saat ini baik pengajar maupun peserta didik telah sama-sama menikmati bagaimana proses belajar mengajar dilakukan secara virtual.

Bahkan beberapa wacana pembukaan sekolah dengan alternative kelas tidak diisi penuh, tidak menjamin siswa untuk tidak tertular covid 19. Karena tidak ada kepastian vaksin, maka tidak mustahil kelas akan kembali menjadi fleksibel menggunakan ruang virtual.

Era pandemi memberikan gambaran bahwa dinding kelas telah runtuh. Setiap orang bisa membuat ruang kelasnya sendiri di semua tempat, selama jaringan internet mendukung.

Internet dan Inflasi Akademis

Saat ini gelar sarjana tidak menjamin pekerjaan seseorang karena masa telah berubah. Beberapa dekade lalu gelar sarjana dapat digunakan untuk melamar berbagai pekerjaan . Tetapi era sekarang banyak prkerjaan membutuhkan gelar lebih tinggi.

Sedangkan banyak profesi baru justru tidak memiliki kaitan dengan gelar seseorang. Pada konteks ini maka bisa dilihat bagaimana dalam dunia pendidikan telah terjadi inflasi akademis.

Dalam sebuah percakapan di sebuah grup whatssap, ada beberapa kasus mengenai anak lulusan luar negeri. Selama ini orang beranggapan mereka yang berhasil menempuh pendidikan di luar negeri memiliki kemampuan lebih baik, dan berkualitas.

Tetapi tidak demikian, justru dalam beberapa instansi ada beberapa lulusan luar negeri yang bekerja tidak sesuai dengan bidang mereka. Bahkan cenderung sebagai pelengkap saja. Artinya pendidikan di seluruh mengalami persoalan besar, yaitu masalah kualitas yang menyebabkan inflasi akademis.

Betapa banyak lulusan sarjana kita baik dari dalam dan luar negeri, yang memiliki nasib serupa. Toh bukan rahasia selama ini banyak sarjana yang pulang kampung dan kembali menjadi beban orang tua karena tak punya kerja yang sesuai.

Peristiwa ini semakin tegas dengan program pra kerja dari pemerintah. Pelatihan yang menimbulkan pro kontra dari masyarakat. Karena pelatihan ini memberikan bekal digital dengan biaya cukup fantastis. Secara tidak langsung program ini semakin menguatkan anggapan betapa pendidikan telah mengalami inflasi.

Oleh karena itu dari ketiga hal di atas, bagi saya pembelajaran di era covid 19 yang sangat bergantung pada teknologi digital dan masalah inflasi akademis. Peristiwa ini membawa saya terhadap gagasan deschooling society atau masyarakat tanpa sekolah.

Karena dengan teknologi digital masyarakat bisa belajar secara mandiri, dan bahkan menciptakan pekerjaan yang tak membutuhkan gelar akademis.