Masa Pandemi, Era Manusia Mabok dengan Webinar

Mahasiswa dan peneliti university of szeged Bekerja sebagai dosen di universitas muhammadiyah surabaya
Tulisan dari Achmad Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi saya inilah momen merasakan mabok. Wabilkhusus bagi saya dan anda semua yang belum pernah merasakan mabuk karena berbagai sebab. Era pandemi ini menjadi momentum bagi anda untuk bermabuk-mabukan.
Tetapi jangan salah, yang saya maksud di sini mabuk bukan minum alkhol. Tetapi mabuk dengan webinar. Bagaimana tidak, hampir setiap hari banyak beredar promosi seminar gratis tentang pandemi dari perspektif, bisnis, pendidikan, kesehatan dll.
Mengisi kegiatan selama stay at home dengan seminar merupakan suatu yang positif, tetapi akan menjadi masalah manakala semua seminar diikuti.
Alih-alih membuat semakin berilmu, tetapi terkadang seperti menghujani otak dengan banyak informasi dari berbagai sudut namun setelah seminar menjadi miskin inspirasi untuk berbuat.
Bukan rahasia lagi saat ini banyak orang yang mengikuti seminar online untuk mengejar e-sertificate. Dari sekian ratus hingga ribuan peserta seminar, tidak ada yang bisa menjamin bahwa hadirin dan hadirot ikut dengan sungguh-sungguh.
Mabok Seminar dan Berburu e-Sertifikat.
Saya bertanya kepada beberapa teman yang sering mengikuti webinar. Meskipun tidak cukup mewakili semua orang, setidaknya memberikan gambaran bagaimana realitas itu ada. Beberapa dari mereka menyampaikan bagaimana berburu seminar online atau webinar dan berburu e-sertificate.
Alasannya saat ini momentum untuk mengumpulkan sertifikat, tujuanya untuk melengkapi profile dia aktif dalam berbagai seminar dan sertifikat buat persyaratan penunjang kepangkatan. Meskipun banyak orang yang sungguh-sungguh ikut.
Tak jarang pula mereka bisa ikut lebih dari dua seminar sekaligus dalam waktu yang sama. Untuk kasus ini biasanya mereka mengatasi dengan menggunakan lebih daru satu device, misal laptop dan hp. Itupun bisa terbagi jadi beberapa aplikasi, facebook, youtube, google meeting sampai zoom.
Setelah saya melakukan refleksi, ternyata tanpa sadar saya juga telah benyak mengikuti seminar online atau webinar. Meskipun banyak informasi seminar gratis plus free e-sertificate, tetapi tidak semuanya saya ikuti. Alasan sederhananya saya tidak tahan mendengar ceramah dalam waktu lama.
Jadi kalau saya ikutin semua seminar itu karena alasan tema, bahasan dan nara-Zoom-bernya bagus, saya bisa-bisa mabok. Liat leaflet beredar di berbagai grup whatssap saja membuat saya jengah, apalagi harus mengikutinya.
Meskipun tidak semua webinar saya ikuti, tetapi keseringan ikut seminar rasa-rasanya nya bikin saya mabok atau mendem seminar online. Orang mabok biasanya tidak sadarkan diri, karena berbagai macam.
Ada Mabok karena keracunan, dan ada mabok karena sengaja minum alkohol sehingga disebut sebagai alkoholik. Setelah mabok seseorang sadar namun tidak tau apa yang dia bicarakan.
Hampir sama dengan orang mabuk alkohol, bedanya mabuk seminar tidak membuat mulut berbusa dan harus dibawa ke RS, maka tidak perlu solusi dari dokter. Bagi saya mabuk seminar itu, keadaan jenuh selalu setelah keseringan ikut seminar.
Mirip bosan, tetapi masih tergoda untuk sering mengikuti seminar online. Setelah selesai seminar, tidak tau apa yang harus dilakukan, miskin inspirasi.
Bagaimana Menghadapi Era Mabok Weminar
Mengikuti seminar online atau webinar dan berburu e-seriticate dengan gratis sah-sah saja. Tetapi yang perlu dipahami, seminar diadakan tujuannya membahas topik tertentu misal masalah dan solusinya.
Jika kita hadir dalam sebuah seminar berarti kita ingin memahami sebuah masalah dan ingin mendapatkan sebuah solusi dari sebuah topik.
Jadi yang harus dipahami oleh peserta, seminar baik offline maupaun online bukanlah ajang jual beli atau pemberian sertifikat cuma-cuma. Tetapi forum ilmiah terhadap sebuah masalah dan mencari solusinya.
Oleh karena itu sebagai peserta webinar yang budiman, wajib dong menghargai penyelenggaraan seminar online atau webinar. Cara terbaik menghormati penyelenggara adalah menjadi peserta webinar yang budiman dengan serius. Menyimak topi pembahasan sehingga adan memiliki inspirasi.
Jadi anda tidak perlu khawatir jika tidak bisa mengisi google form evaluasi karena error. Google form evaluasi biasanya diberikan diakhir seminar sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat. Anda tidak perlu kecewa jika tidak mendapatkan sertifikat, karena anda sudah mendapatkan ilmunya.
Meskipun banyak webinar gratis dengan segala kelebihannya, maka seseorang perlu berpikir terlebih dahulu dan bertanya pada dirinya masing-masing. Apakah seminar tersebut benar-benar penting? Perlu pandai memilih, webinar mana yang benar-benar dibutuhkan.
Misalkan memilih untuk ikut webinar karena kebutuhan atau kesesuian dengan bidang kerja. Selain itu jangan sampai menjadi seminaris yang mabok seminar. Setelah ikut seminar tidak punya inpsirasi untuk apa yang akan dilakukan, seolah-olah hanya ikut setelah itu lupa semua apa isinya.
Oleh karena itu seseorang perlu, perlu menetapkan mana webinar yang menjadi prioritas. Jangan sampai dalam waktu yang sama bisa mengikuti 2-3 seminar sekaligus. Trik ini biasanya dilakukan oleh seseorang dengan alasan narasumber bagus ataupun agar dapat sertifikat.
Jadi mereka bisa mengikuti seminar dengan device minimal dua. Biasanya salah satu atau dua device camera videonya dimatikan, sehingga seolah-olah ia ikut seminar. Sedangkan host tidak akan mengetahuinya.
Bagi saya mengisi waktu kosong era pandemi ini dengan mengikuti seminar sangatlah bagus dan positif. Misalkan pengalaman saya mengikuti beberapa webinar mengenai topik yang sedang saya tekuni sekarang, hampir semua isinya sama.
