Konten dari Pengguna

Mencontoh KH Ahmad Dahlan: Belajar Secara Autentik di Era Pandemi

Achmad Hidayatullah

Achmad Hidayatullah

Mahasiswa dan peneliti university of szeged Bekerja sebagai dosen di universitas muhammadiyah surabaya

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

illustrasi belajar otentik. gambar diambil dari https://www.edtechtj.com/
zoom-in-whitePerbesar
illustrasi belajar otentik. gambar diambil dari https://www.edtechtj.com/

Era pandemic memiliki dampak terhadap model pembelajaran. Proses pembelajaran dilakukan dari rumah melalui daring. Namun, tidak ada yang menjamin apakah siswa benar-benar bisa melakukan pembelajaran otentik. Salah satu yang bisa dijadikan contoh adalah konsep pembelajaran KH.Ahmad Dahlan yang dilakukan bersama muridnya di bumi Yogyakarta.

KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai tokoh nasional pendiri Muhammadiyah. Salah satu kontribusi dari gerakannya dalam bidang pendidikan yang sampai saat ini telah berkembang menjadi ribuan amal usaha dalam bentuk sekolah hingga perguruan tinggi.

Ia membangun gerakan penyadaran masyarakat melalui edukasi. Bahkan menurut Deliar Noer (1994), ia telah melakukan edukasi langsung terhadap masyarakat sebelum pendidikan formal. Ia mengorganisir peserta didik di kauman untuk sukarela untuk membebaskan rakyat.

Ketika melakukan edukasi terhadap peserta didik, Ia berusaha membawa siswanya berpikir reflektif, berpikir kritis dan solutif terhadap masalah yag dihadapi masyarakat, bahkan ia tak segan mengulang-ulang topik yang dibahas jika belum diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Langkah ini cukup efektif karena murid-muridnya kemudian mengimplementasikan apa yang mereka pelajari untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat, salah satunya dengan menyantuni fakir miskin. Apa yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan tersebut sejalan dengan strategi Authentic Learning.

Artinya cara-cara edukasi Dahlan memiliki prinsip-prinsip pembelajaran otentik. sebagaimana disebutkan oleh Lombardi dalam bukunya yang berjudul Authentic Learning for the 21st Century: An Overview, bahwa Authentic learning memiliki tipikal fokus terhadap dunia nyata, permasalahan kompleks dan solusinya, menggunakan latihan, pembiasaan, studi kasus dan termasuk partisipasi dalam dunia virtual.

Autentic learning terjadi ketika seorang pendidik memberikan peluang berarti dan dukungan yang tepat untuk seluruh siswa untuk mengarahkan diri mereka sendiri, melakukan pemecahan masalah, berfikir kritis, dan reflektif dalam dunia nyata dalam konteks kreatif (State University of New York at Oswego School of Education;1998).

Kontekstualisasi di Era Pandemic

Apa yang bisa dikontekstualisasikan terhadap pembelajaran saat ini di tengah pandemic yang mengancam kehidupan masyarakat masyarakat?

Pada masa pandemic ini, pembelajaran telah dilakukan dari rumah selama kurang lebih 3 bulan. Metodenya dengan distem daring atau online. Tetapi faktanya, peserta didik mendapatkan setumpuk tugas teori dari guru yang mempengaruhi motivasi belajar tidak semakin baik.

Berdiam diri di rumah akan mengakibatkan kebosanan dan bahkan depresi, terlebih jika peserta didik harus mengerjakan setumpuk tugas dari pengajar yang tidak kreatif. Bisa dibayangkan jika mereka harus mengerjakan tugas pagi siang malam. Yang ada bukan pembelajaran autentik, tetapi depresi autentik.

Belajar dari Dahlan, maka pembelajaran daring dapat menggunakan strategi autentic learning. Peserta didik perlu rangsangan agar mereka bisa memahami permasalahan dirinya sendiri dan masyarakat sekitar, bukan masalah dalam bentuk tugas yang dikirim oleh pengajar. Dengan demikian mereka secara tidak langsung mengintegrasikan pembelajaran dengan permasalahan kehidupan nyata.

Pembelajaran dengan strategi ini tidak akan membuat depresi dengan menguras energi untuk mengerjakan soal teoritis. Belajar dari Dahlan, ia berhasil membangun pribadi peserta didik yang kritis dan memiliki problem solving terhadap permasalahan masyarakat. Oleh karena itu pembelajaran di era pandemic, proses pembelajaran diarahkan pada satu titik fokus permasalahan masyarakat.

Fokus terhadap permasalahan dan problem solvingnya. Sehingga peserta didik tidak menghabiskan energy yang begitu besar untuk mengerjakan tugas teoritis. Tetapi mereka cukup memikirkan sebuah permasalahan dalam masyarakat dan apa yang bisa diperbuat untuk menyelesaikannya.

Aktivitas Autentik

Selain itu strategi autentik learning akan mengakibatkan aktivitas yang otentik dari peserta didik. Untuk menjelaskan bagaimana aktivitas yang otentik, berikut saya turunkan pendapat Jan Herrington dan Ron Oliver dalam artikelnya yang berjudul Patterns of engagement in authentic online learning environments yang diterbitkan dalam jurnal Australian Journal of Educational Technology pada tahun 2003.

Herrington dan Oliver menyebutkan bahwa aktivitas otentik memungkinkan peserta didik untuk memilih dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran mereka baik secara individual maupun sosial.

Aktivitas yang otentik bisa berupa pembelajaran collaboratif baik dalam melakukan pembelajaran ataupun memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

Belajar tentang masalah sendiri dan masyarakat bukan berarti mewajibkan siswa untuk turun secara fisik kepada masyarakat untuk memecahkan masalah. Tetapi setidaknya dengan strategi autentic learning siswa bisa belajar tentang lifeskill.

Peserta didik dapat memahami persoalan yang mereka dan masyarakat hadapi, yaitu masalah pandemic yang berdampak pada berbagai aspek. Peserta didik dirangsang kesadarannya untuk bisa aktif ikut memotong mata rantai penyebaran virus misal dengan kampanye yang menarik melalui virtual.

Sekolah tak perlu terlalu banyak memberikan pekerjaan yang bersifat teoritis, toh faktanya sebagian tugas teoritis dikerjakan oleh orang tua siswa. Pendidik (Guru dan Orang Tua) bisa menggantinya dengan membimbing peserta didik untuk menjadi pribadi yang merdeka, memahami life skill, dan mampu memecahkan masalah kehidupan sebenarnya.