Peran Pendidikan dalam Melawan Rasisme

Mahasiswa dan peneliti university of szeged Bekerja sebagai dosen di universitas muhammadiyah surabaya
Tulisan dari Achmad Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gelombang protes dan kekacauan yang terjadi di Amerika adalah akumulasi kemarahan warga kulit hitam yang mencapai klimaks, setelah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang polisi kulit putih terhadap orang kulit hitam viral melalui video.
Diawali dengan penangkapan terhadap pria kulit hitam George Floyd oleh polisi kulit putih Derek Chauvin bersama rekannya. Pada video tersebut, si polisi tampak menekan leher George Floyd dengan lututnya sehingga menyebabkan lelaki kulit hitam ini meregang nyawa saat dilarikan ke rumah sakit.
Rasisme terhadap orang kulit hitam memang sering terjadi. Ketegangan kulit putih dengan hitam tidak pernah selesai. Sebagai contoh di era yang sudah maju seperti sekarang, perilaku rasis sering ditemui pertandingan sepakbola Eropa.
Saya masih ingat bagaimana Mario Balotelli sering mendapatkan perlakuan rasis dari penonton. Seperti nyanyian dan bahkan pelemparan pisang ke arahnya. Salah satunya terjadi ketika ia berseragam AC Milan dan bertanding melawan Napoli pada 9 februari 2014.
Sang pelatih terpaksa menariknya keluar karena tidak tega melihat Mario mendapat perlakuan rasis. Bahkan Mario sampai meneteskan air mata saat berjalan keluar. Ia cukup sering mendapatkan perlakuan rasis dari penonton.
Rasisme Berkelindan di Semua Tempat
Jangankan warga Amerika dan Eropa, terkadang kita juga rasis pada mereka yang memiliki warna kulit berbeda. Pada tahun lalu gelombang protes dan kekacauan terjadi di beberapa daerah. Pemicunya adalah perilaku rasis terhadap orang papua di Surabaya, beredar dalam sebuah video seseorang mengeluarkan kata-kata rasial sampai binatang terhadap mahasiswa papua. Perlakuan rasis tersebut memicu kemarahan mahasiswa papua di berbagai tempat.
Sekarang tidak usah jauh-jauh bahas diskriminasi terhadap kulit hitam, perilaku yang cenderung rasis misalnya stigma buruk terhadap orang dengan etnis tertentu. Misalkan mengatakan suku tertentu cenderung kasar, egois dan sering kawin. Bahkan ada orang yang sampai anti punya menantu suku tertentu karena stigma.
Padahal perilaku buruk bukan soal etnis. Perilaku buruk kasuistik tidak relevan untuk menjustifikasi bahwa semua orang pada etnis tertentu sifatnya sama.
Rasisme tidak hanya persoalan warna kulit, tentang diskriminasi terhadap orang lain seperti karena bahasa, budaya, gender, orientasi seksual, agama, status sosial ekonomi. Umumnya perilaku rasis didasarkan pada penyederhanaan terhadap dunia, misalkan mengelompokkan individu pada penampilan, menilai sebuah kelompok lebih unggul atau lebih rendah dari orang lain, dan ketiga, menganggap bahwa sifat tertentu diwariskan pada kelompok tertentu.
Potensi untuk melakukan rasisme hampir ada dan melekat pada setiap manusia. Pikiran rasis berkelindan dalam alam manusia. Kecenderungan untuk melakukan diskriminasi terhadap mereka yang berbeda hampir terjadi di semua tempat. Sama halnya dengan perilaku buruk, karena keburukan tidak akan pernah berhenti, tetapi manusia bisa menekannya.
Berharap pada Pendidikan
Ki Hajar Dewantara menyebut Pendidikan adalah upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Melalui pendidikan seseorang dapat menyaring dan menimbang bukti, membedakan yang benar dan salah, yang nyata dan tidak, fakta dan fiktif.
Oleh karena itu pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Pendidikan adalah alat terbaik untuk menangkal rasisme dan diskriminasi serta membangun masyarakat yang inklusif. Sikap menghargai terhadap perbedaan warna kulit, gender, bahasa dan budaya tidak cukup dipelajari sendiri.
Artinya sikap tersebut perlu dilatih dan ditanamkan melalui pendidikan. Melalui pendidikan seseorang bisa menyadari tentang masalah yang dihadapi dalam dunia nyata. Anak diajarkan sejak dini mengenai pentingnya kesetaraan, menghormati dan toleransi.
Jika komitmen terhadap demokrasi dan kesetaraan menjadi dasar pendekatan sepanjang hayat, maka siswa saat ini lebih siap untuk menghadapi tekanan sosial serta memahami terhadap perbedaan. Guru perlu bersikap hati-hati dalam melakukan interaksi dengan siswa. Karena terkadang pengajar baik di perguruan tinggi ataupun sekolah tanpa sadar melakukan bullying dan rasisme.
Selain itu sekolah perlu mendukung penuh pendidik untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam implementasi kurikulum yang relevan secara budaya. Sekolah harus mengembangkan profesionalitas guru bagaimana bersikap adil dan menciptakan ruang belajar yang aman terhadap mereka yang berbeda dan mengalami korban rasisme.
Selain itu sekolah dapat membantu siswa mengembangkan pikiran positif terhadap identitas etnis atau ras seseorang, dengan memberikan mereka kesempatan menjadi role model, memberikan ruang yang aman untuk menikmati perbedaan.
Salah satu contoh bagaimana guru berhasil memberikan ruang bagi perbedaan ras adalah film Freedom Writers. Film ini dirilis pada tahun 2007 disutradarai oleh Richar LaGravenese yang diangkat dari kisah nyata.
Pada film ini guru berhasil mendamaikan gap rasial, memberikan pemahaman perbedaan identitas bukan suatu masalah. Bahkan untuk mendamaikan perbedaan tersebut sang guru membawa siswa pada Museum Holocaust, Amerika Serikat. Sehingga siswa benar-benar memahami perbedaan dan menghargai orang lain.
