Rayakan 109 Tahun Saridjah Niung, Siapa Dia?

Lulusan Ilmu Komunikasi yang pernah menjadi buruh bank BUMN dan hijrah menjadi freelance content writer dan KOL Specialist untuk survive di industri digital. #BloggerEksis
Tulisan dari Achmad Humaidy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kupu-kupu yang lucu
Kemana engkau terbang
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun Pada tangkai yang lemah Tidakkah sayapmu Merasa lelah
Sepenggal lirik lagu di atas mungkin tidak dikenal anak kecil kekinian. Mereka tidak mengetahui lagu berjudul “Kupu-Kupu” tersebut. Mereka lebih sering mendengar lagu-lagu dari girlband JKT48 atau lagu-lagi dari drama korea.
Miris sekali rasanya karena mereka kurang peka dengan lagu-lagu ciptaan Ibu Soed yang mengalir dengan nada-nada manis dan menggugah masa kecil dengan lirik lagu yang menyenangkan. Lirik lagu di atas pun mengingatkan ku pada masa kecil dahulu.
Sekarang, lagu tersebut tinggal kenangan tak ada lagi penyanyi yang menyanyikannya kembali. Mungkin saja para orang tua kekinian juga enggan mengajarkan lagu anak-anak yang penuh keceriaan ini.
Penulis mengenang lirik lagu tersebut setelah melihat Google Doodle pada hari ini. Google Doodle itu merupakan tampilan animasi yang dibuat di halaman depan (cover) saat kita membuka situs google.
Setelah sosok Pramoedya Ananta Toer yang mencuri perhatianku melalui Google Doodle. Hari ini giliran sosok Saridjah Niung berkacamata yang sedang bernyanyi dihadapan anak-anak kecil dengan ornamen bentuk-bentuk partitur atau tangga nada yang pernah kita pelajari di masa sekolah dulu.
Saridjah Niung merupakan nama lengkap dari seorang guru musik dan pencipta lagu anak-anak yang dikenal dengan panggilan Ibu Soed. Ia lahir tanggal 26 Maret 1908 di Sukabumi, Jawa Barat.
Ia terlahir sebagai putri bungsu dari 12 bersaudara. Ayah kandungnya bernama Mohamad Niung, seorang pelaut asal Bugis yang menetap di Sukabumi dan menjadi pengawal J.F. Kramer.
Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer adalah seorang pensiunan Wakil Ketua Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Batavia yang menghabiskan masa tuanya di Sukabumi. J.F. Kramer juga seorang indo-Belanda yang memiliki ibu dengan keturunan Jawa ningrat.
Saridjah pun dianggap sebagai anak angkat. Lalu, dididik dengan seni suara dan seni musik dengan memperdalam ilmu di Hoogere Kweek School (HKS) Bandung. Latar belakang ini yang membuat Saridjah menjadi patriotis dan nasionalis.
Saridjah Niung dikenal sebagai tokoh musik yang memulai kariernya sebelum kemerdekaan Indonesia. Ibu Soed mulai menjadi guru musik di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna yang pada masa itu (sekitar tahun 1925-1941) masih menggunakan Bahasa Belanda.
Keprihatinannya terhadap anak-anak Indonesia yang kurang gembira dalam menjalani masa kecil, membuatnya berpikir kreatif untuk menciptakan lagu-lagu ceria. Karyanya pun diterima semua kalangan dan terasa menyenangkan.
Tidak hanya aktif dibidang musik, Saridjah pernah menjadi anggota organisasi Indonesia Muda pada tahun 1926. Ia membentuk grup Tonil Amatir. Grup sandiwara yang tampil menggalang dana acara penginapan mahasiswa Club Indonesia. Selain itu, Ia terjun ke dunia radio sebagai pengasuh siaran anak-anak pada tahun 1927-1962.
Tahun 1927, Saridjah Niung resmi dipersunting Raden Bintang Soedibjo. Ia pun mulai dikenal dengan panggilan Ibu Soed, singkatan dari Soedibjo. Selanjutnya, tanggal 28 Oktober 1928, Ibu Soed turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Supratman dengan biola saat lagu itu pertama kali dikumandangkan dalam acara Sumpah Pemuda di Gedung Pemuda.
Selain mencipta lagu, Ibu Soed juga pernah menulis naskah sandiwara dan mementaskannya. Opret Balet kanak-kanak ciptaannya yang berjudul ‘Sumi’ dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 1955.
Pemerintah Indonesia memberi penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dan Museum Rekor Indonesia (MURI) juga memberi penghargaan Empu Lagu Anak-Anak Indonesia karena menciptakan 480 lagu anak-anak Indonesia dan Perintis Batik Terang Bulan (Konsepsi Bung Karno untuk menciptakan batik khas Indonesia).
Begitu banyak karya yang diciptakan Ibu Soed dan menjadi viral di kalangan pendidikan Taman Kanak-Kanak Indonesia. Walaupun ada sekitar 480 lagu yang diciptakan, hanya beberapa lagu yang bisa bertahan dan terdengar hingga saat ini.
Seperti Burung Kutilang, Tik Tik Bunyi Hujan, Nenek Moyang, Kereta Apiku, dan lagu wajib nasional yang berjudul ‘Berkibarlah Benderaku’.
Kini, Ibu Soed telah tiada sejak meninggal usia 85 tahun pada tahun 1993. Karya-karyanya dibidang musik tetap menjadi legenda. Ia akan menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Semoga saja lagu-lagunya tak akan pernah berhenti terdengar di telinga kita, melainkan bisa menjadi warisan untuk generasi anak dan cucu kita nanti. Salah satu lagu wajib nasional yang juga aku suka ciptaan Ibu Soed, berjudul Tanah Airku.
Tanah air ku tidak kulupakan kan terkenang selama hidupku Biarpun saya pergi jauh tidak kan hilang dari kalbu Tanah ku yang kucintai Engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri kujalani yang masyhur permai dikata orang Tetapi kampung dan rumahku Disinilah ku rasa senang Tanah ku tak kulupakan Engkau ku banggakan
Tepat di 109 tahun usianya, Penulis hanya bisa mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN, IBU SOED. Terima kasih telah mengisi masa kecil kami dengan lagu anak-anak yang riang gembira sehingga kami bisa bersenandung bahagia.
