Konten dari Pengguna

Anugerah Itu Bernama Transportasi Umum

Ahcmad Naufal Khairullah

Ahcmad Naufal Khairullah

Analis Politik dan Kebijakan Publik

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahcmad Naufal Khairullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak awal peradaban, manusia selalu bergerak. Mobilitas adalah syarat bagi keberlangsungan hidup mulai dari berburu, berdagang, hingga mencari tempat tinggal yang lebih baik. Zaman dahulu, nenek moyang kita berpindah tempat dengan berjalan kaki, lalu memanfaatkan hewan seperti kuda atau unta. Hingga revolusi besar terjadi ketika roda ditemukan, yang diyakini bahwa bangsa Sumeria di Mesopotamia lah (sekarang Irak) yang menemukan roda sekitar tahun 3500-4200 SM hingga lalu mereka menciptakan kereta kuda.

Kemudian penemuan mesin uap oleh James Watt seorang insinyur terkenal dari Skotlandia menjadi langkah awal dalam membawa penemuan kereta api modern di abad ke-19. Dari sanalah mobilitas massal mulai menjadi tulang punggung peradaban. Trem, kereta api, kapal laut, hingga pesawat membuka jalur-jalur perdagangan serta migrasi global.

Di Nusantara, kisahnya tidak kalah menarik. Pada masa kerajaan dahulu, masyarakat kita sudah mengenal pedati, delman, hingga sado. Hingga kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda transformasi seperti jalur kereta api pertama kali dibuka pada 1867 di Semarang hingga Yogyakarta, trem kemudian turut beroperasi di jalanan Batavia dan Surabaya serta becak pun hadir sebagai moda rakyat yang diadaptasi dari budaya Tionghoa.

Jalur kereta api sepanjang 63 km menjadi jalur kereta api pertama milik perusahaan Negara Staatssporwegen (SS). (Sumber: media-kitlv.nl)

Pasca kemerdekaan, wajah transportasi umum Indonesia memasuki babak baru. Oplet, mikrolet, bemo, bajaj, dan bus kota Kopaja menjadi ikon jalanan di era 1950–1970-an. Sebelum pada akhirnya pada 2004 muncul Transjakarta atau yang dulu lebih populer di kalangan masyarakat disebut “busway” yang mencatatkan sejarah sebagai Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Selatan dengan jalur lintasan terpanjang di dunia (208 km). Sistem BRT ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio di Bogota, Kolombia.

Hingga kini, transportasi di Indonesia kian mengalami transformasi seperti hadirnya KRL Jabodetabek yang padat tiap hari, MRT Jakarta yang mengubah wajah mobilitas urban, LRT Jabodebek dan Palembang, hingga kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh yang mencatatkan Indonesia di peta transportasi modern Asia.

Semua ini menunjukkan satu hal, penulis melihat transportasi umum bukanlah sekadar moda, melainkan ia merupakan bagian dari perjalanan bangsa dan anugerah yang sering kita lupakan nilainya.

Transportasi Umum sebagai Jawaban Masa Kini

Hari ini, di tengah hiruk-pikuk kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar hingga Medan, persoalan kemacetan, polusi udara, dan ketidakpastian waktu tempuh menjadi masalah struktural yang menggerus produktivitas dan kualitas hidup. Dalam kondisi ini, saya melihat transportasi umum bukan sekadar pilihan, melainkan jawaban kebijakan publik yang menyentuh tiga dimensi utama yakni ekonomi, lingkungan, dan keadilan sosial.

Lalu lintas di Jakarta mengalami kemacetan panjang di jam pulang kerja. (Sumber: Tribunnews/Irwan Rismawan)

Secara ekonomi, data dari hasil studi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui studi Jakarta Urban Transport Problems Integrated (JUTPI) menunjukkan kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp100 triliun per tahun. Angka ini Setara dengan 4% PDB Jabodetabek. Sementara laporan Katadata mencatat, warga Jakarta menghabiskan rata-rata 89 jam per tahun di jalan karena macet. Bayangkan kerugian produktivitas yang hilang jika jutaan orang mengalami hal yang sama.

Transportasi umum seperti Transjakarta, MRT, dan LRT jelas dapat berperan dalam mengurangi kerugian itu. Fakta bahwa Transjakarta mampu melayani lebih dari satu juta penumpang per hari adalah bukti keberhasilan mobilitas kolektif yang menyelamatkan biaya dan waktu jutaan warga.

Dari sisi lingkungan, Kementerian Perhubungan mencatat sektor transportasi menyumbang sekitar 20% emisi karbon nasional, yang mayoritasnya justru berasal dari kendaraan pribadi berbahan bakar fosil. Maka dengan beralihnya masyarakat ke moda publik berbasis listrik seperti bus listrik Transjakarta, MRT, atau KRL menjadi strategi penting dalam upaya menurunkan emisi.

Melting Pot: Ruang Egaliter yang Memanusiakan

Sebagai pengguna transportasi umum sehari-hari, ada hal lain yang membuat transportasi umum begitu istimewa. Menurut kacamata saya, ia dapat menciptakan ruang egaliter. Karena di dalam satu gerbong KRL, MRT, LRT atau bus Transjakarta, ternyata dapat menyatukan begitu banyak wajah, dimulai dari pegawai kantoran kalau kata anak zaman sekarang "karyawan area SCBD" dengan setelan necisnya, para pegawai ASN yang berseragam rapi, pelajar dengan seragam sekolah, para pedagang dengan tas belanja, bahkan pekerja konstruksi dengan kelengkapan atributnya. Semua duduk atau berdiri berdampingan, tanpa sekat kelas sosial. Inilah ruang egaliter yang jarang kita temui di tempat lain.

Para penumpang MRT Jakarta tengah menunggu keberangkatan. (Sumber: MRT Jakarta)

Transportasi umum adalah melting pot yang memanusiakan manusia. Inilah wajah paling demokratis dari transportasi umum. Ia menyatukan keberagaman Indonesia dalam ruang yang sederhana dengan adanya halte, stasiun, atau rangkaian kereta. Yang kemudian menyadarkan saya bahwa mobilitas bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang bertemu dengan “yang lain” dan menyadari bahwa kota ini, bangsa ini, adalah milik bersama.

Namun, sayangnya masyarakat pengguna transportasi umum baru mencapai 2,5 juta atau 23,43% dari total penduduk. Persentase masyarakat yang menggunakan transportasi umum berupa kereta dan bus masih kurang dari 20%. Dengan alasan masih banyak persoalan kenyamanan, keandalan, dan kepastian. Banyak yang masih trauma dengan Transjakarta yang tidak tepat waktu, KRL yang penuh sesak, atau jalur MRT dan LRT yang belum menjangkau banyak titik. Yang jelas masih banyak masyarakat kita yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama.

Tantangan Integrasi

Saya masih melihat banyak sekali tantangan besar yang dihadapi transportasi publik kita. Seperti masih banyaknya moda transportasi yang masih berjalan sendiri-sendiri. Rutenya kerap tidak sinkron, sistem pembayaran belum sepenuhnya terintegrasi, manajemennya masih parsial, dan kenyamanan belum merata. Akibatnya, masyarakat masih ragu meninggalkan kendaraan pribadi karena pengalaman menggunakan transportasi umum sering identik dengan ketidakpastian.

Bagi saya, kunci transformasi ada pada integrasi menyeluruh dengan rute yang terhubung tanpa hambatan, jadwal yang sinkron, tarif yang bisa dibayar dengan satu kartu atau aplikasi, serta manajemen lintas moda yang bersatu di bawah visi yang sama. Program JakLingko adalah langkah awal yang patut diapresiasi, tetapi saya percaya ekosistem transportasi publik Indonesia baru akan matang jika integrasi ini diwujudkan di semua kota besar.

Belakangan saya juga memperhatikan langkah yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, patut dicatat. Ia mendorong agar transportasi publik tidak berhenti di batas administratif Jakarta, melainkan menjangkau kota-kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Sumber: Pemprov DKI)

Pernyataannya sederhana tapi penting: “Jakarta tidak bisa maju sendiri."

Saya sepakat, Karena faktanya, jutaan orang dari daerah penyangga masuk ke ibu kota setiap hari dan menambah jumlah volume kendaraan pribadi di Jakarta. Tanpa integrasi, maka Jakarta akan terus didera macet, dan daerah penyangga pun ikut merugi dengan kondisi ini.

Integrasi menurut saya bukan hanya sekadar membuka rute baru. Bagi saya, ada tiga hal yang harus berjalan bersamaan rute yang saling terkoneksi, sistem pembayaran yang satu pintu, serta manajemen lintas moda yang seragam.

JakLingko adalah contoh awal yang baik, tapi belum cukup. Saya membayangkan suatu hari kita dapat menjangkau berbagai destinasi di kota-kota besar di Indonesia dimanapun tanpa perlu takut dengan masalah waktu, memiliki rasa aman, menghadirkan kenyamanan serta dengan harga yang relatif terjangkau.

Bagi saya, transportasi umum bukan hanya soal mobilitas. Melainkan ia adalah cermin kualitas sebuah kota, apakah kota ini berpihak pada semua manusia atau hanya segelintir kaum yang berada. Kota yang sehat seharusnya memberi ruang yang lebih luas untuk banyak manusia dimulai dari pejalan kaki, jalur sepeda, dan transportasi publik yang terjangkau. Bukan sebaliknya dimana kendaraan pribadi mendominasi ruang jalan, sementara manusia hanya diberi trotoar seadanya.

Warga mengantre untuk berfoto di Anjungan Halte Transjakarta Bundaran HI Astra, Jakarta. (Sumber: Liputan6.com/Angga Yuniar)

Transportasi umum yang terintegrasi memberi kita lebih dari sekadar perjalanan murah dan cepat. Ia memberi rasa egaliter, inklusif dan demokratis. Dalam keberagaman Indonesia, ia dapat menjadi ruang kecil yang merefleksikan seperti apa seharusnya konstelasi peradaban kita yakni peradaban yang saling setara, saling menghormati, dan bergerak menuju tujuan yang sama serta transportasi umum turut dapat menciptakan kota yang efisien, ramah lingkungan, dan yang terpenting memanusiakan manusia.

Penutup

Pada akhirnya, saya melihat transportasi umum sebagai anugerah terbesar yang bisa diberikan negara kepada rakyatnya. Ia menyelamatkan waktu, menurunkan biaya, menjaga lingkungan, sekaligus menciptakan ruang egaliter yang menyatukan kita semua. Tantangannya memang besar, tetapi dengan komitmen pemerintah pada integrasi, perubahan pola pikir masyarakat, serta dukungan sektor swasta, transportasi umum dapat menjadi penopang kota Indonesia menjadi kota yang modern, sehat, dan berkeadilan.