Cerita Rakyat dan Literasi Ekologis

Universitas Telkom Purwokerto
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Achmad Sultoni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membuka gawai atau menyalakan televisi akhir-akhir ini terasa seperti sedang membaca katalog duka dari alam. Kabar mengenai banjir yang merendam pemukiman hingga tanah longsor yang menimbun rumah warga seolah menjadi "menu harian" di kolom berita kita. Bencana ekologis bukan lagi sekadar prediksi jauh di masa depan atau narasi dalam film bertema kiamat. Bencana ekologis telah nyata hadir di depan mata, mengetuk pintu rumah kita, dan mengingatkan dengan keras bahwa alam sedang mengirimkan sinyal darurat yang tak bisa lagi kita abaikan hanya dengan sekali hela napas.
Sepertinya, alam sedang tidak ingin lagi berbasa-basi dengan kita. Drama bencana ekologis—mulai dari banjir yang "bertamu" tanpa diundang dan prediksi waktu, hingga tanah longsor yang merobek lereng-lereng perbukitan semestinya menjadi alarm keras, bahwa manusia seharusnya melakukan pertobatan ekologis. Dalam menyikapi bencana kita sering kali hanya terpaku pada angka kerugian dan jumlah pengungsi, namun lupa pada akar masalahnya bahwa rentetan bencana ini adalah reaksi balik dari cara kita memperlakukan alam. Apakah kita akan terus menganggap ini sebagai "takdir" semata, atau mulai berani mengakui bahwa ada peran tangan kita di balik setiap luapan air dan runtuhan tanah tersebut?
Masih kuat ingatan kita pada kejadian banjir dahsyat di wilayah Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat pada penghujung tahun 2025 yang begitu memilukan. Ribuan nyawa melayang dan ribuan warga mengungsi akibat lenyapnya rumah dan kampung halaman mereka. Makin sedih karena bencana banjir dan tanah longsor juga terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia. Bencana juga berdampak traumatis panjang kepada saudara-saudara kita tersebut karena kehilangan-kehilangan orang-orang yang mereka cintai, ingatan akan kampung halaman, serta bagaimana mereka menata ulang masa depan.
Moral Ekologis
Pada dasarnya, bencana memang menjadi rahasia Tuhan. Namun, dalam konteks bencana ekologis, sesungguhnya manusia punya kuasa untuk mengupayakan agar hal itu tidak terjadi. Langkah nyata yang harus dilakukan umat manusia adalah memperbaiki moral terhadap semesta. Kita perlu menyadari bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan warisan berharga bagi anak cucu yang harus dirawat dengan penuh kehormatan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam setiap sendi kehidupan—baik dalam kebijakan ekonomi maupun kebiasaan sehari-hari—kita sedang melakukan investasi keberlangsungan hidup jangka panjang. Menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk syukur paling nyata kepada Sang Pencipta atas kehidupan yang diberikan.
Konsep moral ekologis inilah yang sesungguhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia, diwariskan oleh leluhur kepada generasi berikutnya melalui cerita rakyat. Jauh sebelum istilah sustainability atau pembangunan berkelanjutan menjadi tren global, nenek moyang kita telah mengonsep pesan pelestarian alam dalam balutan mitos, legenda, dan dongeng yang memikat. Dari larangan menebang pohon di "hutan larangan" hingga kisah-kisah tentang dewi penjaga mata air. Narasi tersebut sebenarnya adalah cara tersembunyi leluhur kita untuk menjaga etika lingkungan dalam ingatan kolektif. Mereka mengajarkan bahwa alam bukanlah objek yang pasif, melainkan entitas hidup yang akan memberikan keberkahan jika dirawat, namun bisa membawa petaka jika dirusak.
Cerita rakyat Nyi Roro Kidul misalnya, sebuah mitos tentang seorang Ratu Penjaga Laut Selatan. Cerita rakyat ini sangat populer di masyarakat Jawa, bahkan mungkin oleh masyarakat Indonesia. Sosok Nyi Roro Kidul diyakini memiliki kekuatan gaib untuk menjaga kelestarian laut dan penduduk di Pesisir Selatan. Cerita rakyat ini memberi pesan ekologis bahwa laut merupakan entitas alam yang harus dijaga keberadaannya demi keberlangsungan hidup manusia. Manusia tidak boleh sembrono (sembarangan) dalam memperlakukan alam.
Mengutip penelitian Yanuar Bagas Arwansyah, Suyitno, dan Retno Winarni dalam tulisan berjudul The Value of Disaster Mitigation in Nyai Roro Kidul Folklore Through Geomythological Analysis (2025) menyatakan bahwa cerita rakyat Nyai Roro Kidul mengandung banyak elemen yang dapat diinterpretasikan sebagai pedoman mitigasi bencana, seperti peringatan tentang bahaya tsunami. Pesan-pesan ini tertanam dalam narasi mitos tersebut dan simbolisme yang menunjukkan kesadaran lokal tentang posisi manusia di hadapan kekuatan alam. Melalui mitos tersebut masyarakat sadar akan kekuatan alam yang sewaktu-waktu mungkin saja coba ditunjukkan. Manusia diajarkan untuk tanggap bencana.
Menjaga kelestarian alam adalah hal yang sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem, seperti tergambar dalam cerita rakyat Asal Usul Orang Bajo di Makassar. Dalam catatan Ummu Fatimah Ria Lestari dalam risetnya bertajuk Pesan Kearifan Lingkungan dalam Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara (Sebuah Kajian Ekokritik Sastra) (2019) dikemukakan bahwa cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga ekosistem hutan, dilakukan dengan tidak sembarangan memasuki area hutan, apalagi jika bertujuan untuk merusaknya.
Kisah Asal Usul Orang Bajo ini menceritakan tentang masyarakat Bajo di Luwu yang diperintahkan Raja Sawerigading untuk menebang pohon raksasa, Welenrengnge, guna dijadikan perahu. Tanpa disadari, pohon tersebut merupakan habitat bagi seluruh burung di Sulawesi. Saat pohon tumbang, ribuan telur yang pecah menimbulkan banjir besar yang menghanyutkan orang Bajo hingga terdampar dan menetap di Malili. Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi mereka tentang dampak destruktif penebangan pohon sembarangan terhadap lingkungan. Bencana seperti halnya banjir adalah buah yang dipetik akibat keteledoran manusia memalingkan alam.
Tak kalah menarik literasi ekologis yang ditampilkan dalam cerita rakyat Bujang Beji dan Tumenggung Marubai dari Kalimantan Barat. Cerita rakyat ini menarasikan wujud kontras antara tindakan eksploitatif dan konservatif terhadap alam. Dikisahkan bahwa tokoh Bujang Beji dan Tumenggung Marubai adalah sama-sama seorang pemimpin, namun keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Tumenggung Marubai dikenal baik hati dan tidak sombong, sedangkan Bujang Beji dikenal serakah dan angkuh. Keduanya memiliki mata pencaharian yang sama yakni menangkap ikan. Tumenggung Marubai dan pengikutnya mencari ikan di Sungai Simpang Melawi, sedangkan Bujang Beji di Sungai Simpang Kapuas.
Di Sungai Simpang Melawi terdapat banyak aneka ikan, sehingga Tumenggung Marubai selalu mendapatkan tangkapan ikan yang melimpah. Bertolak belakang dengan Bujang Beji yang mendapatkan hasil tangkapan yang sedikit. Temenggung Marubai menggunakan alat penangkap ikan bubu yang ramah lingkungan dan hanya mengambil ikan besar. Sementara itu, Bujang Beji dalam cerita rakyat ini menangkap ikan dengan racun yang merusak lingkungan, sehingga mendapatkan tangkapan ikan melimpah hanya di awal-awal saja. Cerita ini mengajarkan bahwa keserakahan akan merusak alam, sementara kearifan menjaga keseimbangan ekologis.
Menarasikan Kembali
Cerita rakyat memiliki peran penting dalam isu tentang krisis ekologis dan perubahan iklim. Cerita rakyat mampu menggambarkan suatu kondisi alam. Pembaca dapat mengimajinasikan tentang kondisi yang dipresentasikan dalam cerita rakyat. Dengan cara tersebut, nantinya ada keterhubungan antara manusia dan alam, menumbuhkan makna bahwa alam memiliki fungsi penting bagi eksistensi manusia. Hal ini karena kesadaran pikiran manusia sangat dipengaruhi oleh bacaan yang mereka dapatkan. Literasi yang bagus tentang bagaimana pemahaman manusia terhadap alam akan mengubah cara pandang dan perilaku kepada alam (Hunter, 2020).
Di pelbagai wilayah Nusantara masih banyak cerita rakyat yang menarasikan pesan-pesan ekologis. Di tengah gejolak krisis ekologis yang melanda Indonesia akhir-akhir ini, cerita rakyat menjadi media menarik dalam melihat kembali bagaimana leluhur mengajarkan tali asih kepada alam. Narasi tentang aneka bencana ekologis memberikan gambaran konkret mengenai sebab-akibat kerusakan alam melalui cara yang lebih subtil namun membekas di ingatan. Ketika anak cucu kita mendengar bahwa alam bisa "marah" atau "menangis", mereka sedang diajarkan empati, sebuah nilai dasar yang jauh lebih kuat daripada sekadar ancaman denda atau regulasi. Dengan menghidupkan kembali cerita-cerita ini di ruang keluarga maupun ruang kelas, kita sebenarnya sedang menanamkan benih kesadaran bahwa menjaga lingkungan yang berakar pada identitas budaya.
Pada akhirnya, penyelamatan bumi di masa depan bergantung pada seberapa baik kita mengingat pesan-pesan dari masa lalu. Melalui tutur-tutur lisan para leluhur, pesannya tetap sama yakni manusia dan alam adalah satu kesatuan yang saling menghidupi. Jika kita terus abai dan memutus rantai komunikasi dengan moral ekologis ini, maka bencana yang selama ini hanya kita dengar dalam dongeng bisa jadi akan menjadi kenyataan pahit yang menetap di depan pintu rumah kita. Mari menengok kembali warisan tuturan Nusantara, bukan sebagai bentuk nostalgia semata, melainkan sebagai kompas untuk melangkah menuju masa depan yang lebih hijau, lebih selaras, dan lebih bermartabat bagi semesta.
*)
A. Sultoni, pengajar bahasa Indonesia di Telkom University Purwokerto. Buku Cerita Rakyat Banyumas (2024) dan Kearifan Ekologis Masyarakat Banyumas (2024) menjadi karya terbarunya. Karya-karyanya termuat di berbagai media massa lokal dan nasional, baik cetak maupun daring. Saat ini penulis bermukin di Cilacap, Jawa Tengah.
