Konten dari Pengguna

Efek Payung Hitam: Bernaung Dalam Diam

A Cholil Suryamadhan Bahy

A Cholil Suryamadhan Bahy

Graduate from Bachelor of Mathematics Education at Muhammadiyah University Surabaya / cadres from PK IMM Blue Savant / Founder of Kafilah

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Cholil Suryamadhan Bahy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi payung hitam (dok. Pixabay.com/PEBF_Multimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi payung hitam (dok. Pixabay.com/PEBF_Multimedia)

Mengutip kalimat filosofis dari Ayolebihbaik.com,

Payung tidak mampu menghentikan hujan, tetapi dengan bernaung di bawah payung maka kita mampu berdiri di dalam hujan tanpa kebasahan.

Kalimat ini mengandung motivasi yang mendalam bagi segelintir mahasiswa yang memahaminya atau bahkan tidak sama sekali. Bagi yang memahaminya, akan terlahir sebagai mahasiswa yang memiliki kepekaan terhadap lingkungannya. Dan bagi yang tidak memahaminya, akan terlahir sebagai mahasiswa apatis yang dapat kita terminologikan dengan Payung Hitam.

Warna hitam melambangkan kemalangan, kematian, kesedihan dan kesesatan. Melihat kondisi mahasiswa sekarang sudah jauh dan tersesat dari perannya sebagai agent of change, iron stock, penjaga nilai, kekuatan moral dan sebagai pengontrol dalam kehidupan sosial di masyarakat. Sehingga keadaan ini sangat cocok jika di frasakan dengan Efek Payung Hitam.

Respon kritis mahasiswa sekarang sudah berubah menjadi respon apatis, entah kemana mahasiswa saat masyarakat membutuhkan gerakan intelektual. Mengutip dari Kedaipena.com, seorang Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menjelaskan faktor yang menjadi penyebab dari sikap apatis mahasiswa saat ini.

"Secara internal mahasiswa lemah secara diskursus intelektual, karena maunya instan. Mereka minim kedalaman ontologis. Malas baca buku, malas mendalami data dan informasi serta malas riset yang mendalam,” ujar Ubed.

Sebagai mahasiswa sudah semestinya proporsional dengan fungsi intelektualitasnya. Rendahnya responsif mahasiswa terhadap isu-isu yang merugikan rakyat seperti pelanggaran HAM, isu agraria, KKN maupun penyalahgunaan konstitusi yang menggerogoti organ tubuh bangsa. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar dari masyarakat, dimanakah peran mahasiswa?

Mahasiswa zaman now terlalu larut di bawah naungan payung yang nyaman, sehingga mereka lupa jika masyarakat masih terjebak dalam derasnya hujan. Kondisi ini menimbulkan kedukaan yang mendalam, karena suara mahasiswa dianggap mati dan tenggelam. Esensi dan eksistensi mahasiswa ibarat payung hitam yang mudah kering, semakin lama kian meredup lalu menghilang.

Dalam sebuah serial TV web Amerika Serikat berjudul The Umbrella Academy, dijelaskan bahwa Umbrella Effect adalah kondisi dimana kita tidak sedang berada dalam kejadian atau keadaan yang sebenarnya sehingga perlu dilakukan rekonstruksi dengan gerakan yang disebut Cleanse.

Gerakan Cleanse dapat dilakukan dengan rekonstruksi intelektual mahasiswa. Pembentukan kembali kesadaran kritis mahasiswa untuk mengoptimalkan peran akademisi bangsa yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menekankan pada poin membaca, mengikuti organisasi mahasiswa yang sah, melakukan kajian-kajian serta melibatkan diri dalam komunitas pemberdayaan masyarakat maupun lingkungan.