Ingin Makan Bergizi, tetapi Terbentur Daya Beli dan Harga Pangan

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang PeminatanJurnalistik
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ade Nadya Achral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah tren real food, makanan berbasis tepung menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia yang turut dipengaruhi harga pangan, daya beli, dan akses terhadap makanan bergizi.
Makan bergizi tidak selalu menjadi pilihan yang mudah ketika daya beli masyarakat terbatas dan harga pangan terus menjadi pertimbangan rumah tangga. Di tengah tren real food yang mendorong pola makan sehat, akses pangan bergizi masih berkaitan dengan kemampuan ekonomi, ketersediaan bahan makanan, dan waktu untuk mengolahnya. Dalam kondisi tersebut, makanan berbasis tepung menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari yang perlu dilihat bukan hanya dari sisi gizi, tetapi juga dari sisi sosial dan ekonomi.
Pagi hari, aroma gorengan mulai memenuhi sudut jalan. Bakwan dan tahu goreng berpindah dari wajan ke tangan pembeli, sementara roti dan mi instan menjadi pilihan praktis untuk mengawali aktivitas. Inilah wajah kuliner Indonesia, ketika makanan berbasis tepung hadir sebagai pilihan yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau.
Namun, di balik kepraktisannya, ada pertimbangan yang lebih besar daripada sekadar selera. Daya beli masyarakat turut menentukan pilihan makanan, terutama ketika harga pangan terus menjadi bagian dari perhitungan sehari-hari.
Di tengah tren real food yang mendorong konsumsi sayur, buah, dan sumber protein, muncul pertanyaan: apakah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerapkan pola makan sehat? Sebab, akses pangan bergizi tidak hanya bergantung pada kesadaran, tetapi juga harga, ketersediaan bahan makanan, waktu, dan kemampuan untuk mengolahnya.
Makanan Berbasis Tepung di Tengah Keterbatasan Daya Beli
Bagi rumah tangga dengan anggaran terbatas, pengeluaran makanan harus disesuaikan dengan kebutuhan lain, seperti transportasi, pendidikan, dan tempat tinggal. Ketika harga pangan meningkat sementara pendapatan terbatas, pilihan makanan pun dapat berubah.
Dalam situasi ini, makanan berbasis tepung seperti gorengan, roti, dan mi instan menjadi pilihan praktis bagi sebagian masyarakat karena mudah ditemukan dan tersedia dalam berbagai rentang harga. Namun, keputusan konsumsi tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, melainkan juga selera, kebiasaan, dan kemudahan penyajian.
Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia September 2025, dapat menjadi rujukan untuk memahami pola pengeluaran rumah tangga. Meski demikian, data pengeluaran tidak secara langsung membuktikan bahwa masyarakat memilih makanan berbasis tepung karena harganya lebih murah.
Tepung sendiri bukan musuh. Produk berbahan tepung tetap dapat menjadi bagian dari pola makan beragam, bergantung pada komposisi, cara pengolahan, dan frekuensi konsumsi. Persoalan muncul ketika konsumsi kurang bervariasi dan kebutuhan gizi lain tidak terpenuhi. Karena itu, pembahasan makanan berbasis tepung perlu melihat bukan hanya jenis makanannya, tetapi juga daya beli dan akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
Tren Real Food dan Akses Pangan Bergizi
Di media sosial, tren real food kerap ditampilkan melalui menu berisi sayur, buah, telur, ikan, dan sumber protein lainnya. Konten ini dapat meningkatkan kesadaran tentang makanan sehat, tetapi sering kali belum membahas hambatan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap bahan pangan segar. Harga, jarak ke pasar, keterbatasan waktu, dan fasilitas penyimpanan dapat memengaruhi pilihan makanan. Membeli bahan mentah juga membutuhkan waktu untuk menyiapkan dan memasak, sementara sebagian orang harus membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan urusan rumah tangga.
Kementerian Kesehatan melalui panduan [Isi Piringku]https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang menekankan pentingnya keseimbangan dan keberagaman makanan. Artinya, pola makan sehat bukan berarti menghapus seluruh makanan berbasis tepung, melainkan memperhatikan variasi, porsi, dan komposisi makanan sesuai kebutuhan.
Kesadaran gizi memang penting, tetapi tidak otomatis membuat bahan pangan lebih terjangkau. Karena itu, real food seharusnya tidak menjadi standar gaya hidup yang membuat masyarakat merasa bersalah ketika belum mampu menerapkannya. Makanan sehat perlu dipahami sebagai kebutuhan yang harus didukung oleh akses dan kemampuan ekonomi.
Peran Media dalam Membingkai Konsumsi Makanan
Sebagai mahasiswa jurnalistik, fenomena makanan berbasis tepung dan tren real food dapat dilihat sebagai persoalan komunikasi publik. Media berperan membentuk cara masyarakat memahami makanan, kesehatan, dan pilihan hidup.
Konten edukasi dapat membantu masyarakat mengenali informasi gizi. Namun, penyederhanaan informasi juga berisiko membuat makanan tertentu dianggap sepenuhnya buruk, sementara pola makan sehat digambarkan sebagai gaya hidup yang mudah diterapkan semua orang.
Pemberitaan tentang pola makan masyarakat Indonesia seharusnya tidak berhenti pada rekomendasi makanan atau tren kuliner yang viral. Media juga perlu membahas harga pangan, pengeluaran rumah tangga, distribusi bahan makanan, serta pengalaman konsumen dari berbagai kelompok ekonomi.
Wawancara dengan konsumen, pedagang, dan ahli gizi dapat membantu menghadirkan perspektif yang lebih utuh. Dengan begitu, masyarakat tidak langsung disalahkan karena memilih makanan murah dan praktis. Pilihan tersebut dapat dipengaruhi oleh pendapatan, waktu, dan akses yang tersedia.
Jurnalisme yang bertanggung jawab perlu memeriksa klaim, menggunakan sumber tepercaya, dan menghindari framing yang menyamakan konsumsi makanan berbasis tepung dengan kemalasan atau ketidakpedulian terhadap kesehatan. Media seharusnya membantu publik memahami persoalan di balik pilihan makan, bukan sekadar menentukan makanan yang dianggap benar atau salah.
Membangun Pilihan Pangan, Bukan Menghakimi Kebiasaan
Persoalan pangan tidak cukup diselesaikan melalui edukasi gizi. Upaya tersebut perlu berjalan bersama kebijakan yang menjaga keterjangkauan harga, memperbaiki distribusi, dan memperluas akses terhadap bahan pangan bergizi.
Pemerintah berperan dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan, pelaku usaha dapat menyediakan pilihan makanan yang beragam, sedangkan media perlu menyampaikan informasi secara akurat dan kritis. Masyarakat pun dapat memperbaiki pola makan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Pada akhirnya, makanan berbasis tepung tidak perlu dijadikan kambing hitam, sebagaimana real food tidak seharusnya menjadi standar yang menghakimi pilihan konsumsi seseorang. Persoalan utamanya adalah memastikan masyarakat memiliki pilihan makanan yang beragam dan bergizi sesuai kemampuan ekonominya.
Kenyang bisa murah, tetapi membuat makanan bergizi lebih mudah dijangkau membutuhkan lebih dari sekadar niat. Dibutuhkan akses pangan yang lebih baik, kebijakan yang mendukung kebutuhan masyarakat, dan media yang mampu melihat persoalan di balik sepiring makanan.
