Konten dari Pengguna

Motivated Reasoning: Mencari Alasan, Merawat Pembenaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Nadya Achral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana bias kognitif dan cara kerja otak memengaruhi keyakinan, penalaran, dan respons komunikasi manusia.

Motivated reasoning menjelaskan bagaimana keinginan mempertahankan keyakinan dapat memengaruhi cara manusia menilai informasi, menerima bukti, dan menyusun alasan. Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan [penalaran bermotivasi dan bias dalam pengambilan keputusan], sementara neurosains membantu menelusuri proses otak yang terlibat ketika keyakinan, emosi, dan informasi saling berhadapan. Persoalannya bukan semata-mata apakah manusia mampu berpikir logis, melainkan apakah logika itu digunakan untuk menemukan kebenaran atau justru mempertahankan sesuatu yang telanjur dipercaya.

Bayangkan seseorang membeli barang mahal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Beberapa hari kemudian, ia mulai menjelaskan bahwa barang tersebut berkualitas tinggi, berguna untuk jangka panjang, dan sepadan dengan harganya. Alasan itu mungkin benar. Namun, ketika ia hanya mengumpulkan keuntungan pembelian sambil mengabaikan kerugian yang nyata, muncul pertanyaan: apakah ia sedang mengevaluasi keputusan secara objektif atau berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan tersebut memang tepat?

Situasi sederhana itu memperlihatkan bagaimana manusia dapat mencari alasan setelah mengambil keputusan. Kita tidak selalu menyadari kapan penilaian berubah menjadi pembelaan. Sebab, mempertahankan keyakinan sering kali terasa seperti mempertahankan sesuatu yang masuk akal, bukan seperti sedang melakukan pembenaran.

Ketika Nalar Berpihak pada Keyakinan

motivated reasoning, yaitu kecenderungan seseorang mencari alasan untuk mempertahankan keyakinan dan membenarkan keputusan pribadi, meskipun terdapat informasi yang perlu dipertimbangkan kembali, Illustrasi : Chat GPT AI

Dalam proses motivated reasoning, motivasi seseorang dapat memengaruhi bagaimana informasi diproses. Ketika suatu kesimpulan sesuai dengan keinginan atau identitasnya, ia mungkin lebih mudah menerima bukti pendukung. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dapat diperiksa dengan lebih ketat, diragukan sumbernya, atau dianggap tidak relevan.

Kecenderungan ini tidak berarti setiap orang sengaja memanipulasi fakta. Justru, prosesnya dapat berlangsung tanpa disadari. Seseorang bisa merasa dirinya sedang bersikap kritis, padahal standar yang digunakan untuk menilai dua informasi berbeda karena salah satunya mengancam keyakinan pribadi.

Hal tersebut terlihat dalam komunikasi politik dan media sosial. Pendukung seorang tokoh, misalnya, dapat menganggap keberhasilan sebagai bukti kompetensi, tetapi menilai kritik terhadap tokoh yang sama sebagai serangan politik. Ketika tokoh yang tidak disukai melakukan hal serupa, penilaiannya mungkin berubah. Fakta yang diperiksa sama-sama penting, tetapi cara menafsirkannya dapat dipengaruhi oleh posisi awal seseorang.

Di sinilah perbedaan antara berpikir kritis dan sekadar mencari pembenaran menjadi penting. Berpikir kritis membuka kemungkinan bahwa kesimpulan awal keliru. Sebaliknya, penalaran yang bermotivasi dapat membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan kesimpulan daripada menguji apakah kesimpulan itu benar.

Otak dan Ketidaknyamanan karena Bertentangan

Mengapa manusia tetap mempertahankan keyakinan ketika berhadapan dengan informasi yang berlawanan? Salah satu penjelasannya dapat ditelusuri melalui teori cognitive dissonance yang diperkenalkan Leon Festinger pada 1957.

Teori ini menjelaskan ketidaknyamanan psikologis ketika keyakinan, sikap, atau tindakan seseorang tidak selaras. Seseorang yang menganggap dirinya rasional, misalnya, dapat merasa tidak nyaman ketika menyadari bahwa keputusan yang dibuatnya ternyata kurang tepat. Untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut, ia bisa mengubah keputusan, menerima bukti baru, atau menyusun alasan yang membuat pilihannya kembali terasa masuk akal.

Fakta menariknya, penelitian neurosains telah mengamati proses pembenaran keputusan melalui pencitraan otak. Studi yang diterbitkan dalam jurnal NeuroImage pada 2013 melibatkan 24 partisipan muda di Amerika Serikat yang diminta memilih di antara pasangan album musik. Peneliti menemukan bahwa pilihan yang sulit berkaitan dengan aktivitas pada bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan konflik kognitif dan respons emosional. Aktivitas pada wilayah yang berkaitan dengan pemrosesan diri juga berhubungan dengan perubahan sikap yang membenarkan pilihan. [Baca penelitian Kitayama dan kolega].

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pembenaran keputusan bukan hanya persoalan kata-kata yang diucapkan setelah seseorang memilih. Proses evaluasi, konflik, dan penilaian terhadap pilihan juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas otak. Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa otak selalu mencari pembenaran atau bahwa satu bagian otak bekerja sendirian. Perilaku manusia melibatkan interaksi berbagai proses kognitif, emosional, dan sosial.

Ketika Komunikasi Menjadi Ruang Pembenaran

Dalam psikologi komunikasi, persoalan ini dapat menjelaskan mengapa pesan yang sama tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sama. Penerima pesan membawa pengalaman, nilai, harapan, dan keyakinan yang memengaruhi cara informasi ditafsirkan. Komunikasi pun bukan sekadar proses memindahkan informasi dari pengirim kepada penerima, melainkan juga proses pemaknaan.

Di media sosial, proses tersebut dapat semakin terlihat ketika orang memilih mengikuti akun yang sejalan dengan pandangannya atau membagikan informasi yang memperkuat posisi kelompoknya. Namun, perilaku tersebut tidak otomatis membuktikan adanya motivated reasoning. Untuk menyimpulkan adanya bias, perlu dilihat bagaimana seseorang mengevaluasi bukti, memperlakukan informasi yang bertentangan, dan mempertahankan kesimpulannya.

Fenomena ini juga berhubungan dengan literasi media dan penyebaran informasi keliru. Laporan UNESCO tentang [jurnalisme, disinformasi, dan misinformasi menggarisbawahi pentingnya kemampuan mengevaluasi informasi di tengah lingkungan komunikasi digital. Tantangannya bukan hanya membedakan fakta dan opini, tetapi juga menyadari bagaimana preferensi pribadi dapat memengaruhi penilaian terhadap sumber dan isi pesan.

Karena itu, kemampuan memeriksa informasi perlu disertai kesediaan memeriksa diri sendiri. Siapa yang menyampaikan pesan memang penting, tetapi begitu pula pertanyaan apakah kita menilai pesan berdasarkan bukti atau berdasarkan keinginan agar pesan itu salah atau benar.

Belajar Meragukan Alasan Sendiri

Manusia memang tidak pernah sepenuhnya lepas dari subjektivitas. Pengalaman dan emosi membantu kita memahami dunia, tetapi keduanya juga dapat membatasi cara kita melihat informasi. Mengakui kenyataan tersebut bukan berarti semua pendapat sama benarnya atau bahwa objektivitas tidak mungkin dicapai.

Sebaliknya, kesadaran terhadap *motivated reasoning* dapat menjadi awal untuk berpikir lebih reflektif. Ketika sebuah informasi bertentangan dengan keyakinan, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya: apakah bukti ini memang lemah, atau saya sekadar tidak menyukai kesimpulannya? Apakah saya menggunakan standar penilaian yang sama terhadap pihak yang saya dukung dan pihak yang saya kritik?

Pada akhirnya, kemampuan berpikir bukan hanya terletak pada kecakapan menyusun argumen. Kemampuan itu juga terlihat dari kesediaan menguji argumen sendiri, menerima koreksi, dan mengubah pandangan ketika bukti menuntutnya. Sebab, tidak semua alasan yang terdengar masuk akal membawa kita lebih dekat kepada kebenaran.

Terkadang, alasan justru menjadi tempat persembunyian bagi keyakinan yang enggan diperiksa.