Konten dari Pengguna

Patriarki dalam Budaya Kita: Diajarkan, Diwariskan, Dinormalisasikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Nadya Achral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patriarki mungkin terdengar seperti istilah yang berat. Padahal, bentuknya bisa sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Patriarki berkata : “Perempuan harus bisa masak.” “Laki-laki jangan cengeng.” “Kalau jadi istri, harus bisa melayani suami.” “Laki-laki harus punya penghasilan lebih besar.”

Kalimat-kalimat tersebut sering disampaikan sebagai nasihat. Tidak selalu dengan niat buruk. Bahkan, terkadang keluar begitu saja dari percakapan keluarga atau lingkungan pertemanan.

Namun, sesuatu yang terus diulang lama-lama bisa dianggap sebagai kebenaran. Di situlah patriarki bekerja. Bukan selalu melalui aturan yang melarang perempuan atau memaksa laki-laki, tetapi melalui kebiasaan yang terus diwariskan sampai akhirnya terasa normal.

Budaya patriarki dan tuntutan gender terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari.Sumber gambar: Ilustrasi AI, dibuat menggunakan ChatGPT.

Ketika Budaya Menentukan Peran

Sejak kecil, kita sudah diperkenalkan pada pembagian peran berdasarkan gender. Anak perempuan diberi dapur mainan dan diajarkan membantu pekerjaan rumah. Anak laki-laki diarahkan untuk berani, kuat, dan tidak mudah menangis.

Ketika dewasa, pembagian tersebut dapat berubah menjadi tuntutan yang lebih besar. Perempuan diharapkan mampu mengurus rumah, menjaga anak, sekaligus tetap terlihat baik sebagai pasangan. Sementara laki-laki dituntut menjadi pencari nafkah, pemimpin keluarga, dan sosok yang selalu kuat.

Padahal, tidak semua perempuan ingin menjalani peran tersebut dan tidak semua laki-laki mampu memenuhi standar tersebut.

Perbedaan antara sex dan gender menjadi penting untuk memahami persoalan ini. Sex berkaitan dengan karakteristik biologis, sedangkan gender berkaitan dengan peran, perilaku, dan harapan yang dibentuk oleh masyarakat.

Artinya, anggapan bahwa perempuan harus mengurus rumah atau laki-laki tidak boleh menangis bukanlah sesuatu yang otomatis muncul karena faktor biologis. Ada budaya yang mengajarkan kita untuk berpikir demikian.

Patriarki Tidak Selalu Terlihat

Sylvia Walby dalam Theorizing Patriarchy menjelaskan patriarki sebagai sistem struktur dan praktik sosial yang menempatkan laki-laki dalam posisi dominan terhadap perempuan.

Menurut Walby, patriarki bekerja melalui berbagai struktur, mulai dari keluarga, pekerjaan, negara, kekerasan, seksualitas, hingga institusi budaya.

Jika konsep tersebut ditarik ke kehidupan sehari-hari, kita bisa menemukan bentuknya tanpa harus mencari contoh yang ekstrem.

Misalnya, pekerjaan rumah. Ketika seorang perempuan memasak, mencuci, atau mengurus anak, pekerjaan tersebut sering dianggap sebagai kewajiban. Tetapi ketika laki-laki melakukan hal yang sama, ia terkadang disebut sedang “membantu istrinya”.

Pertanyaannya sederhana: kalau rumah adalah milik dan tanggung jawab bersama, mengapa pekerjaan rumah disebut bantuan ketika dilakukan laki-laki?

Hal kecil seperti ini menunjukkan bagaimana bahasa dan kebiasaan dapat ikut mempertahankan pembagian peran.

Ketika Laki-Laki Juga Terjebak

Membicarakan patriarki bukan berarti menyalahkan laki-laki. Justru, sistem yang sama juga dapat menciptakan tekanan terhadap laki-laki.Laki-laki harus kuat. Tidak boleh terlalu emosional. Harus mampu menghasilkan uang. Harus berani mengambil keputusan. Bahkan ketika sedang tidak baik-baik saja, mereka sering merasa harus tetap terlihat baik-baik saja.

Kalimat “laki-laki tidak boleh menangis” mungkin terdengar seperti candaan atau nasihat sederhana. Tetapi jika terus diberikan sejak kecil, anak laki-laki dapat belajar bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang memalukan.

Pada akhirnya, patriarki bukan hanya menentukan bagaimana perempuan seharusnya menjadi perempuan. Ia juga menentukan bagaimana laki-laki seharusnya menjadi laki-laki.

Masalahnya muncul ketika standar tersebut dianggap sebagai satu-satunya cara yang benar.

Media Sosial Ikut Memperpanjang Umurnya

Hari ini, keluarga bukan satu-satunya tempat kita belajar mengenai gender. Media sosial juga menjadi ruang tempat berbagai standar tentang perempuan dan laki-laki diproduksi setiap hari.

Kita melihat konten tentang “istri ideal”, “perempuan berkelas”, “laki-laki sejati”, pasangan ideal, pembagian peran dalam rumah tangga, sampai standar kesuksesan berdasarkan gender. Satu konten mungkin tidak terasa berpengaruh. Tetapi bagaimana jika pesan yang sama muncul setiap hari?

Lama-kelamaan, standar tersebut dapat terasa seperti sesuatu yang alamiah. Perempuan yang memilih fokus pada karier dianggap terlalu ambisius. Perempuan yang vokal dianggap terlalu keras. Laki-laki yang tidak menjadi pencari nafkah utama dianggap kurang berhasil.

Pada titik ini, media tidak hanya mencerminkan budaya. Media juga ikut membentuk cara masyarakat memandang dirinya sendiri dan orang lain.

Yang Paling Sulit: Ketika Kita Mulai Mengawasi Diri Sendiri

Menurut saya, bagian paling sulit dari patriarki bukan ketika seseorang secara langsung mengatakan, “Kamu tidak boleh.”

Yang lebih sulit adalah ketika seseorang sudah mengatakan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Perempuan merasa bersalah karena pulang terlalu malam. Laki-laki merasa malu ketika menangis. Perempuan merasa harus menikah karena takut dianggap tertinggal. Laki-laki merasa gagal ketika penghasilannya lebih rendah dari pasangan.

Tidak ada aturan tertulis yang selalu memaksa mereka. Namun, norma sosial sudah cukup kuat untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika keluar dari jalur yang dianggap “seharusnya”.

Patriarki akhirnya tidak hanya bekerja dari luar. Ia masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Budaya Bisa Diubah

Patriarki bertahan karena ia diwariskan. Tetapi justru karena diwariskan, ia juga bisa dipertanyakan.

Kita tidak harus menunggu perubahan besar untuk memulainya. Bisa dari rumah: membagi pekerjaan berdasarkan kesepakatan, bukan jenis kelamin. Bisa dari cara mendidik anak: mengajarkan anak perempuan untuk berani dan anak laki-laki untuk mengenali emosinya. Bisa juga dari media sosial: tidak langsung menganggap setiap standar gender sebagai sesuatu yang harus diikuti.

Sebab, tidak semua hal yang sudah lama dilakukan berarti harus terus dilakukan. Budaya memang diwariskan, tetapi budaya bukan benda mati. Ia dapat berubah ketika masyarakat mulai mempertanyakan nilai yang ada di dalamnya.

Patriarki mungkin telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial kita. Namun, bukan berarti ia harus terus menjadi bagian dari masa depan kita.

Sesuatu yang diajarkan dapat dipelajari ulang. Sesuatu yang diwariskan dapat ditinjau kembali. Dan sesuatu yang selama ini dianggap normal, tetap layak dipertanyakan.