Solidaritas ke Formalitas: Krisis Kolaborasi dalam Organisasi Mahasiswa

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang PeminatanJurnalistik
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ade Nadya Achral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Organisasi mahasiswa sering kali menjadi ruang pertama bagi anak muda untuk belajar tentang solidaritas, kolaborasi, dan tanggung jawab.
Kita sebagai mahasiswa baru datang dengan semangat, membawa gagasan, dan percaya bahwa sekumpulan orang dengan tujuan yang sama dapat menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan masing-masing. Di dalamnya, kita belajar menyusun rencana, menyampaikan pendapat, membangun komunikasi organisasi, hingga memahami pentingnya akuntabilitas dalam kerja bersama.
Ada masa ketika bergabung dengan organisasi mahasiswa terasa seperti menemukan rumah baru. Kita datang dengan semangat, membawa gagasan, dan percaya bahwa sekumpulan orang dengan tujuan yang sama dapat menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan masing-masing. Di dalamnya, kita belajar menyusun rencana, menyampaikan pendapat, mengelola perbedaan, hingga memahami bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan.
Namun, seiring berjalannya waktu, rumah itu kadang terasa seperti ruang yang penghuninya semakin sibuk dengan urusan masing-masing. Rapat tetap berlangsung, agenda tetap disusun, dan program kerja tetap tercantum dalam kalender. Dari luar, organisasi terlihat bergerak. Akan tetapi, di balik kesibukan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak selalu berani disampaikan: apakah kita benar-benar bekerja bersama, atau sekadar berada dalam struktur yang sama?
Di sinilah paradoks organisasi mahasiswa bermula. Kita membangun organisasi atas nama solidaritas, tetapi dalam praktiknya, tanggung jawab bisa terkonsentrasi pada orang-orang yang itu-itu saja.
Solidaritas Organisasi Mahasiswa Tak Lagi Berujung pada Kolaborasi
Solidaritas sering menjadi kata yang mudah diucapkan dalam organisasi mahasiswa. Ia hadir dalam sambutan kepengurusan, forum evaluasi, hingga percakapan tentang pentingnya menjaga kekompakan. Sayangnya, kebersamaan tidak selalu tumbuh hanya karena sekelompok orang menggunakan istilah yang sama.
Solidaritas seharusnya terlihat ketika seseorang bersedia membantu rekannya yang mengalami kesulitan, ketika sebuah divisi tidak membiarkan divisi lain bekerja sendirian, atau ketika tanggung jawab bersama tidak dianggap sebagai urusan satu orang semata.
Masalah muncul ketika semangat tersebut berhenti pada kesepakatan verbal. Tugas sudah dibagi, tetapi pelaksanaannya tidak selalu berjalan seimbang. Pesan koordinasi dikirim, tetapi tidak segera memperoleh tanggapan. Tenggat waktu ditetapkan, tetapi pekerjaan baru bergerak ketika seseorang kembali mengingatkan. Pada akhirnya, mereka yang masih memiliki kepedulian mengambil alih pekerjaan yang tertunda agar program tetap terlaksana.
Siklus itu dapat berulang tanpa banyak disadari. Orang yang aktif semakin terbebani karena dianggap mampu diandalkan, sementara orang yang kurang berkontribusi tidak selalu menghadapi konsekuensi yang sepadan. Tanpa evaluasi yang jelas, keadaan tersebut berisiko menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.
Ironisnya, kemampuan seseorang untuk diandalkan justru dapat berubah menjadi alasan mengapa ia terus diberi beban tambahan. Kepercayaan yang semestinya menguatkan kerja tim perlahan berubah menjadi ketergantungan terhadap individu tertentu.
Organisasi pun menghadapi persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar keterlambatan program kerja: ketimpangan antara semangat kolektif dan praktik tanggung jawab.
Jabatan Dibagi, Tanggung Jawab Beban Tak Selalu Terbagi
Ketua memiliki kewenangan, kepala departemen mengoordinasikan divisi, sekretaris mengelola administrasi, dan bendahara bertanggung jawab atas keuangan. Semua posisi memiliki fungsi masing-masing. Namun, pembagian jabatan baru menjadi berarti ketika diikuti pelaksanaan tanggung jawab yang nyata.
Di sinilah organisasi mahasiswa dapat terjebak dalam paradoks administratif: setiap orang memiliki posisi, tetapi tidak semua posisi berjalan dengan kontribusi yang seimbang.
Ketika pekerjaan tidak selesai, pertanyaan yang muncul sering kali hanya berkisar pada siapa yang akan mengambil alih. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa pekerjaan tersebut tidak berjalan sejak awal, apa hambatannya, dan bagaimana mencegah masalah yang sama terulang.
Mengambil alih pekerjaan memang terkadang diperlukan demi menjaga keberlangsungan program. Namun, jika terus dilakukan tanpa evaluasi, tindakan tersebut berpotensi menyelesaikan masalah hari ini sekaligus memelihara masalah untuk esok hari.
Organisasi akhirnya terlihat berhasil karena acaranya terlaksana, bukan karena seluruh prosesnya berjalan sehat. Hasil akhir menjadi ukuran keberhasilan, sementara ketimpangan dalam proses luput dari perhatian.
Padahal, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diselenggarakan, tetapi juga oleh bagaimana tanggung jawab dibagikan dan orang-orang di dalamnya bertumbuh.
Komunikasi Organisasi Ramai, Koordinasi Sunyi
Sebagai ruang belajar, organisasi mahasiswa semestinya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan komunikasi. Namun, banyaknya komunikasi tidak selalu berarti efektifnya koordinasi.
Grup percakapan dapat dipenuhi pesan, rapat dapat berlangsung berjam-jam, dan evaluasi dapat menghasilkan banyak catatan. Meski demikian, keputusan belum tentu ditindaklanjuti, informasi belum tentu dipahami secara merata, dan kesepakatan belum tentu berubah menjadi tindakan.
Komunikasi yang berhenti pada penyampaian informasi hanya menciptakan kesan bahwa semua orang telah mengetahui persoalan. Padahal, mengetahui tugas berbeda dengan memahami tanggung jawab, sebagaimana menyetujui rencana berbeda dengan bersedia menjalankannya.
Kolaborasi membutuhkan lebih dari sekadar pesan yang terkirim. Ia memerlukan kejelasan mengenai siapa yang bertugas, kapan pekerjaan harus selesai, bagaimana perkembangan dilaporkan, dan apa yang dilakukan ketika seseorang menghadapi hambatan.
Di sisi lain, persoalan koordinasi tidak selalu dapat dijelaskan dengan menyebut anggota sebagai tidak peduli. Bisa jadi pembagian tugas tidak realistis, beban akademik tidak diperhitungkan, arahan berubah-ubah, atau anggota tidak merasa memiliki ruang untuk menyampaikan kesulitan.
Karena itu, organisasi perlu membedakan ketidakmauan berkontribusi dari ketidakmampuan menjalankan tugas akibat kendala yang nyata. Keduanya membutuhkan respons yang berbeda. Tanpa komunikasi dua arah dan evaluasi yang adil, organisasi berisiko menghukum orang yang mengalami kesulitan sekaligus membiarkan orang yang mengabaikan tanggung jawab.
Mengembalikan Makna Solidaritas
Krisis kolaborasi tidak akan selesai hanya dengan menuntut setiap anggota agar lebih aktif. Seruan tentang kekompakan perlu diterjemahkan menjadi sistem kerja yang memungkinkan setiap orang berkontribusi secara jelas dan bertanggung jawab.
Pembagian tugas harus disertai target yang realistis. Koordinasi perlu menghasilkan tindak lanjut, bukan sekadar dokumentasi rapat. Evaluasi harus berani mengidentifikasi hambatan, menilai kontribusi secara proporsional, dan memperbaiki pola kerja yang tidak efektif. Pemimpin juga perlu menciptakan ruang dialog agar anggota dapat menyampaikan persoalan tanpa takut langsung dicap tidak loyal.
Yang tidak kalah penting, solidaritas harus berjalan beriringan dengan akuntabilitas. Membantu rekan bukan berarti terus-menerus menggantikan tanggung jawabnya. Memahami kesulitan seseorang bukan berarti menghapus kewajibannya. Begitu pula menegakkan tanggung jawab tidak harus dilakukan dengan mempermalukan atau menjatuhkan orang lain.
Organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa konflik, keterlambatan, atau perbedaan pendapat. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengakui masalah, membicarakannya secara terbuka, dan memastikan bahwa kesalahan tidak terus diwariskan sebagai kebiasaan.
Pada akhirnya, organisasi mahasiswa bukan hanya tempat menyelesaikan program kerja atau menambah pengalaman dalam curriculum vitae. Ia juga merupakan ruang untuk belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Kita mungkin tidak selalu memiliki tingkat kesibukan, kemampuan, atau komitmen yang sama. Namun, perbedaan itu semestinya menjadi alasan untuk membangun pembagian kerja yang adil, bukan pembenaran bagi sebagian orang untuk terus menanggung beban yang sama.
Sebab, ada perbedaan antara organisasi yang bertahan karena semua orang saling menguatkan dan organisasi yang tetap berjalan karena beberapa orang tidak pernah diizinkan berhenti menguatkan orang lain.
Jika solidaritas hanya terdengar ketika rapat dan menghilang ketika pekerjaan harus diselesaikan, yang tersisa hanyalah formalitas dengan nama kebersamaan.
Barangkali, pertanyaan terpenting bagi setiap organisasi mahasiswa bukan lagi seberapa kompak kita terlihat, melainkan seberapa adil kita bekerja bersama. Sebab, kebersamaan tidak diuji ketika semua orang berdiri dalam satu barisan, tetapi ketika tanggung jawab datang dan setiap orang memilih untuk tidak meninggalkan barisan itu sendirian.
