Industri Kaos Bandung, Masih Masing-Masing

Ketua Umum Asosiasi Industri Mineral Republik Indonesia (AIMRI) Kandidat Ph.D. Urban Planning, Tianjin University, Republik Rakyat Tiongkok Penikmat Indonesia-Tiongkok. Follow The Nation.
Tulisan dari Achyar Al Rasyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Republik Rakyat Tiongkok merupakan negara yang sama dengan Indonesia, perekonomian nasionalnya ditopang 80% oleh sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Namun, Tiongkok mampu mengelola potensi UMKM nya tersebut dengan sangat baik sehingga Tiongkok menjadi negara produsen besar di Asia bahkan dunia. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yaitu infrastruktur transportasi yang terhubung secara baik, sumber daya manusia (SDM) yang terdidik terampil, upah pekerja yang murah dengan sistem padat karya, canggihnya peralatan teknologi untuk produksi, digital marketing, dan national supply chain (rantai pasok dalam negeri) yang alurnya tersusun, tidak terlepas dari aglomerasi (berkelompoknya) industri.
Tulisan ini akan membahas bagaimana Kota Bandung dan Kabupaten Bandung dengan potensi industri yang ada, khususnya industri kaos, seharusnya mampu terhubung satu sama lain, saling menopang dan berkolaborasi sehingga mampu menguasai pasar dalam negeri, serta menahan derasnya gempuran impor. Dalam tulisan ini tidak akan membedah semua faktor, namun hanya akan membahas dari sisi rantai pasok antara kedua industri yang sudah berjalan.
Kota Bandung Sebagai Hilir
Kota Bandung sebagai Paris van Java -nya Indonesia. Kota Bandung sebagai Kota Fashion. Begitu kira-kira warisan istilah dari nenek moyang kita ketika bicara mengenai Kota Bandung. Tak jarang ketika orang mendengar produk fashion dari Kota Bandung, orang tersebut seakan “terhipnotis” bahwa produk ini sudah pasti bagus, minimal secara style pasti up to date atau bahasa zaman sekarangnya kekinian. Ditambah dengan kemampuan anak-anak muda Kota Bandung yang menciptakan local branding (merk lokal) dengan cita rasa luar negeri seperti barang-barang distro dan clothing. Trade mark yang melekat sejak lama ini menjadi keuntungan dari sisi nilai opini pasar atau pembeli lokal (Indonesia) terhadap barang hasil produksi di Kota Bandung sehingga untuk selanjutnya menjual barang ini agar laku dibeli tinggal bagaimana memastikan harga yang terjangkau serta kualitas yang unggul. Beberapa tempat atau lokasi di Kota Bandung dikenal sebagai pusat perbelanjaan pakaian, seperti distro-distro di Jalan Trunojoyo, Jalan Sultan Agung, serta toko-toko clothing di Plaza Parahyangan di daerah alun-alun Kota Bandung. Belum lagi Factory Outlet di Jalan R.E. Martadinata, hingga Pasa Gedebage yang juga dikenal dengan pusat perbelanjaan pakaian dan sepatu dengan harga yang murah, meskipun bercampur dengan merk luar negeri, selain itu ditambah dengan maraknya jual beli secara online yang bahkan mulai mengalahkan jual beli offline akibat Pandemi COVID-19 hal ini membuat produk fashion Kota Bandung sudah memiliki kepastian pembeli. Secara gamblang, jika labelnya buatan Bandung baik online maupun offline dijualnya, pasti "menghipnotis" calon pembeli. Semua peluang ini perlu diperkuat dengan cara memastikan sentra industri di Kota Bandung hidup secara bergairah, khususnya industri kaos.
Proses produksi dan pemasaran produk tersebut terkonsentrasi di 5 (lima) kawasan sentra industri dan perdagangan Kota Bandung antara lain Cihampelas; yang merupakan sentra penjualan jeans, Cibaduyut; yang merupakan sentra pembuatan dan penjualan sepatu, Cigondewah; yang merupakan sentra kain dan konveksi, Binong Jati; yang merupakan sentra produk rajutan, dan Suci; yang merupakan sentra sablon kaos. Sentra Industri Kaos Suci (SIKS) sendiri telah berdiri sejak tahun 1978.
Masyarakat masih sering datang untuk memesan dengan jumlah besar biasanya untuk dijual kembali atau untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Masih populer dikalangan masyarakat yang ingin memesan kaos, jaket, dan sejenisnya dengan jumlah besar maka datanglah ke Jalan Suci (nama jalan ini terdahulu). Bertempat di sepanjang jalan P.H.H. Mustofa hingga Jalan Surapati yang sekaligus merupakan kawasan padat penduduk, sentra industri ini memiliki outlet berjumlah sekitar 400 outlet dengan jumlah pengusaha kaos dan sablon sekitar 500 pengusaha. Salah satu cara agar industri ini dapat bersaing adalah dengan memperoleh pasokan barang setengah jadi dengan harga bahan dan ongkos yang murah agar dapat menekan biaya produksi, namun tetap berkualitas bagus.
Industri Masih Masing-Masing
Dari hasil penelitian sdri. Putri Adelina (2018) dengan judul Pengaruh Penerapan Supply Chain Management Practices (SCMP) Terhadap Supply Chain Performance (SCP) Pada Sentra Industri Kaos Suci Bandung, dalam pelaksanaan kegiatan bisnisnya industri ini tidak memiliki pemasok yang pasti dalam artian mayoritas pelaku usaha memiliki multi supplier. Pembelian bahan baku dilakukan di beberapa daerah seperti Cigondewah, Rancaekek, hingga Pasar Baru yang pembeliannya bersifat short-term. Putri Adelina (2018) menambahkan dalam penelitiannya dilihat dari permasalahan yang ada, Sentra Industri Kaos Suci (SIKS) belum menerapkan kinerja rantai pasok yang baik terkait dengan pengadaan bahan baku yang dilakukan dengan pembelian putus. Fakta ini menunjukkan keanehan, yang tentunya perlu segera dibenahi. Keanehan yang pertama, industri UMKM Sentra Industri Kaos Suci ini sudah berdiri sejak lama yaitu sejak tahun 1978, artinya sepanjang sekitar 40 tahun lamanya (hingga sekarang) industri UMKM ini belum memiliki supplier (pemasok) bahan baku tetap yang dapat menopang produksi tentunya dengan segala bentuk kemudahan skema pembayaran. Keanehan yang kedua, dengan outlet berjumlah sekitar 400 outlet dengan jumlah pengusaha kaos dan sablon sekitar 500 pengusaha, produksi kaos yang dihasilkan SIKS mencapai kapasitas produksi per tahunnya sebanyak 177.300 Lusin dengan nilai investasi Rp. 115,403 Milyar (Dinas Koperasi dan UMKM pemerintahan kota Bandung, 2012), maka aneh ketika SIKS tidak menjadi sasaran untuk menjual bahan baku dari para produsen bahan baku kaos.
Dua keanehan ini menunjukkan secara nyata bahwa tidak adanya upaya untuk merekayasa industri dalam hal membangun ekosistem untuk menopang SIKS yang sudah hidup, berjalan lama, dan cenderung telah telah memiliki kepastian pasar. Ada siklus ekosistem produksi yang sebenarnya bisa ditata, yaitu dalam hal menyuplai bahan baku sehingga harga kaos jadi bisa ditekan efeknya adalah dapat jumlah pemesan dapat meningkat karena harga dapat bersaing.
Kondisi idealnya adalah dengan SIKS yang sudah berjalan puluhan tahun juga dengan ratusan pengusaha kaos, ditambah dengan trademark yang sudah melekat : “kalo mau bikin kaos ya ke Jalan Suci Bandung ajah”. Maka seharusnya tidak menjadi keraguan para produsen bahan baku untuk mau secara langsung memasok bahan bakunya ke SIKS ini karena secara logika produksi pasti akan selalu ada pembeli dan pemesan ke SIKS ini yang berefek pada digunakannya bahan baku untuk diproduksi yang ujungnya akan melahirkan repeat order.
Potensi untuk membuat kondisi ini tercapai sebenarnya sangat ada, bahkan besar. Di Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Majalaya memiliki beberapa pabrik-pabrik tekstil bahan baku kaos yang eksis. Bahkan terdapat salah satu pabrik tekstil yang menjadi klien produk-produk luar negeri (orientasi ekspor). Hal ini sangat membanggakan dan tentunya perlu tetap didukung untuk terus eksis dan mampu merambah pasar global. Namun disisi lain, perlu ada upaya untuk merangkai agar pabrik bahan baku kaos ini mau untuk menjadi pemasok untuk SIKS. Memang jika secara margin keuntungan mungkin lebih menjanjikan untuk memasok bahan baku ke produk-produk luar negeri, namun SIKS ini juga sangat menjanjikkan, dapat diprediksi jika potensi rugi hampir tidak ada karena SIKS ini sudah memiliki kepastian pasar : berdiri sudah 40 tahun, memiliki 500 pengusaha pengrajin, dan sudah menjadi trademark dalam kepala masyarakat jika ingin membuat kaos. Justru perlu dimulai industri besar pabrikan tekstil bahan baku kaos di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung untuk memasok bahan baku ke SIKS di Kota Bandung agar industri SIKS di Kota Bandung dapat semakin tumbuh bahkan bukan tidak mungkin dapat memperluas pasarnya akibat harga dan kualitas yang semakin bisa bersaing akibat dipasok bahan bakunya oleh industri pabrikan tekstil bahan baku kaos dari Kabupaten Bandung. Sehingga SIKS kedepan dapat menjadi industri kaos besar yang betul-betul daat memenuhi kebutuhan pasar di Bandung, Jawa Barat, bahkan di Indonesia juga kuat dalam menahan gempuran produk-produk kaos impor dari luar negeri.
Jika ditinjau dari jarak tempuh untuk mengirimkan barang (transportasi logistik) dapat dikatakankan jarak dari Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung ke Jalan PHH. Mustopa Kota Bandung tidaklah jauh, hanya berjarak 27 km, ditempuh menggunakan mobil sekitar 1 jam. Apalagi dengan kebijakan yang pro terhadap pembangunan infrastruktur saat ini dari pemerintah pusat, bukan tidak mungkin dimasa depan jarak tempuh ini semakin bisa terpangkas.
Peran Pemerintah Dalam Merangkai Local Supply Chain
Terdapat 3 aspek yang perlu dibangun agar rantai pasok bahan baku ini dapat terjadi. Pertama adalah aspek kepercayaan (trust), kedua adalah aspek kepastian, dan yang ketiga adalah aspek gotong royong. Ketiga aspek ini erat kaitannya dengan peran pemerintah untuk bisa mempercepat prosesnya. Pemerintah sebagai regulator dalam hal kebijakan dapat mengaffirmasi pelaku industri dan UMKM serta mampu mengorkestrasi agar keduanya dapat bertemu, berkolaborasi, hingga ekosistem ini berjalan dengan baik.
Aspek kepercayaan ini perlu dibangun dengan tujuan akhir kepada skema pembayaran/jual beli. Mungkin untuk mengawali dan memulai belum mencapai pada tahap skema pembayaran yang dapat meringankan SIKS, misal : mengubah pengadaan bahan baku yang biasanya short-term menjadi long-term dengan sistem stock diawal dan pembayaran mundur. Namun seiring berjalannya waktu akan muncul asas kepercayaan satu sama lain sehingga kondisi tersebut dapat tercapai dan berjalan hingga masa depan.
Berikutnya aspek kepastian, yaitu kepastian dalam hal pasar atau pembeli dan kepastian untuk selalu memberikan bahan baku sesuai dengan spesifikasi dan kualitas yang diinginkan. Kedua hal ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Ketika pembeli atau pemesan selalu ada dan meningkat maka akan memberikan semangat dan rasa optimis kepada pemasok bahan baku sehingga bahan baku yang dipasok adalah bahan baku terbaik sesuai yang diinginkan. Disisi lain pun sama, ketika pasokan bahan baku yang diberikan ternyata tidak memiliki kualitas yang baik, maka untuk menambah pembeli atau pemesan pun akan sulit. Sehingga kedua hal ini perlu dipastikan agar ekosistem berjalan dengan baik dan sehat.
Terakhir adalah aspek gotong royong. Mengubah kebiasaan dalam bergerak masing-masing ke arah bergerak bersama adalah kunci dari terjadinya rantai pasok ini. Peran pemerintah dalam aspek ini adalah yang paling besar karena pemerintah tidak bertindak sebagai pelaku pasar namun menjadi connector. Kementerian perindustrian dan perdagangan adalah saudara dekat Kementerian UMKM dan Koperasi, begitupun ditingkatan daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah saudara dekat Dinas UMKM dan Koperasi. Kerjanya bersama, gotong royong, dan tidak masing-masing. Sehingga para pelaku bisnis dan usaha dibawah masing-masing kementerian atau dinas dapat terhubung dan terbangun hubungan yang gotong royong juga. Sehingga ekosistem dapat terbangun. Sudah saatnya pemerintah kedepan tidak hanya mengejar lahirnya wirausaha baru namun juga fokus dalam membangun ekosistem antara inudstri besar dan UMKM sehingga terbangun rantai pasok yang kokoh dan berkelanjutan.
Selanjutnya peluang lain pemerintah dalam melihat SIKS ini adalah membangun industri bahan baku atau peralatan lain yang dapat menunjang SIKS ini, tidak hanya bahan baku kaos. Pemerintah dapat melihat peluang dan mengembangkan industri mesin jahit untuk UMKM misalnya, atau mengembangkan industri pembuatan jarum jahit, dsb. Sehingga pada akhirnya SIKS memiliki penopang industri bahan baku, peralatan, dan teknologi yang mumpuni, terhubung, dan berkelanjutan.
