Kemerdekaan dan Pendidikan, Sebuah Dialog Pembebasan Paulo Freire dan Neurosains

Pengajar di Banyumas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemerdekaan sebuah bangsa sering kali direduksi sebatas peristiwa geopolitik transisi kekuasaan. Padahal, bagi negara pascakolonial seperti Indonesia, tantangan terbesar pasca-proklamasi fisik adalah meruntuhkan struktur kesadaran kolonial yang masih tertinggal di dalam institusi sosial, terutama pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan nasional, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa pendidikan haruslah menjadi sarana memerdekakan hidup lahir dan batin. Di antara pernyataan beliau adalah: “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin terdapat dari pendidikan”. Dan “Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat)”
Lebih dari dua dekade setelah Indonesia merdeka, filsuf dan tokoh pendidikan Brasil, Paulo Freire menerbitkan buku Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed). Buku ini memberikan pisau analisis tajam mengenai bagaimana pendidikan formal kerap dijadikan instrumen penjinakan sosial ketimbang pembebasan. Di Indonesia modern, kegelisahan historis dan teoritis ini menemukan momentum reaktualisasinya melalui kebijakan Kurikulum Merdeka.
Dekonstruksi "Pendidikan Gaya Bank" dalam Realitas Pascakolonial
Kritik Freire terhadap sistem pendidikan konvensional berpusat pada apa yang ia sebut sebagai konsep pendidikan gaya bank (banking concept of education). Dalam model ini, pendidikan menjadi sebuah kegiatan menyetor. Siswa adalah celengan dan guru adalah penyetornya. Freire memberikan gambaran masyarakat tertindas di antaranya: guru mengajar dan murid diajar, guru mengetahui segalanya dan murid tidak mengetahui apa-apa, guru subyek proses belajar, murid hanya sekadar objek.
Tujuan kaum penindas, lanjut Freire, adalah “mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan situasi yang menindas mereka”. Mereka yang menggunakan gaya bank, sadar atau tidak sadar telah melakukan dehumanisasi, tidak memahami bahwa pengetahuan yang mereka tanamkan itu kontradiktif dengan realitas.
Dalam sistem tradisional ini, murid diperlakukan seperti wadah kosong yang dipasok informasi secara pasif, tanpa ruang untuk berpikir kritis, berefleksi, atau menyadari realitas sosialnya. Penindasan pada era Freire berwujud fisik, politik, dan struktural. Selama puluhan tahun, standarisasi kurikulum yang kaku, dan penyeragaman materi telah memaksa guru menjadi perpanjangan tangan birokrasi, dan menempatkan siswa sebagai objek mekanis. Pendidikan bukan lagi proses menumbuhkan kesadaran, melainkan alat produksi tenaga kerja yang konformis terhadap sistem.
Namun, di era digital saat ini, medan penindasan telah bergeser secara signifikan. Bentuk "penindasan" baru tidak lagi berwujud instruktur authoritarian di depan kelas, melainkan baris-baris algoritma media sosial yang dirancang untuk membajak atensi anak muda.
Jiwa murid masa kini tidak lagi dikungkung oleh propaganda negara atau dogma sekolah, melainkan dikontrol oleh sistem rekomendasi konten yang memenjarakan fokus mereka dalam siklus kecanduan digital. Fenomena yang populer adalah Fear of missing out (FOMO), yaitu rasa cemas atau takut ketinggalan pada apa yang sedang tren, akibat melihat unggahan di media sosial dan membandingkan kehidupannya dengan apa yang tersaji di media sosial. Kondisi ini tentu saja akan berdampak pada kesehatan mental.
Dilansir dari kanal psikologi UGM (25 Juni 2025), rata-rata orang Indonesia mengakses 3 jam sehari dengan jumlah total pengguna 143 juta aktif media sosial. Sebuah angka yang fantastis, dilihat dari waktu dan biaya kuota. Menurut Sri Kusrohmaniah dkk. (2024), seorang dosen sekaligus pakar di bidang neuropsikologi, menyatakan bahwa penggunaan media sosial dapat menurunkan kemampuan konsentrasi dan menimbulkan kecanduan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah scrolling menurunkan materi abu-abu (Gray matter) pada amygdala yang pada gilirannya berdampak pada hipokampus.
Mengapa orang yang sebenarnya ingin membuka layar hanya 10 menit, menjadi 30 menit atau satu jam? Ini tidak lain karena adanya dopamine loop. Siklus umpan balik otak yang didorong oleh antisipasi dan penghargaan yang membuat seseorang ingin mengulangi suatu perilaku.
Otak anak-anak sedang dibajak oleh sistem penghargaan cepat seperti: visual cepat dan stimulasi konstan. Game on line tidak hanya bikin candu, tapi bisa membuka akses ke pornografi, dan judi online. Ketika orang tertawan oleh dopamin instan (atau sering disebut instant gratification), maka belajar menjadi malas, membaca terasa berat, tidak tahan menanti waktu dan kurang sabaran. Keadaan itu tidak lain karena paparan stimulus cepat yang merusak sistem penghargaan otak alami (The brain’s reward system). Maka pendidikan sudah seharusnya menerapkan detoks digital secara bijaksana.
Fitrah Ontologis Manusia
Binatang oleh Freire disebut sebagai makhluk yang tidak historis. Binatang tidak tahu kalau diri mereka bisa dirusak oleh kehidupan karena mereka tidak dapat memperluas dunia “pelengkap” mereka menjadi sebuah dunia yang bermakna dengan kebudayaan dan sejarah. Berbeda dengan binatang, manusia adalah makhluk historis, mereka tidak hanya hidup, tetapi bertindak secara sadar untuk mengubah, menciptakan, dan memperbaiki kondisi hidup serta kebudayaannya.
Binatang tidak mampu merenungkan keberadaan mereka atau mengambil jarak dari realitas untuk mengubahnya secara sadar. Manusia menyadari masa lalu, hidup di masa kini, dan merancang masa depan, sehingga sejarah terus berlanjut karena karya dan pemikiran mereka.
Sejatinya manusia adalah pejuang dan fitrah ontologisnya adalah humanisasi, seiring waktu mereka akan sadar butuh pembebasan. Usaha nyata manusia sebagai fitrah ontologis adalah panggilan kodrati untuk menjadi subjek aktif yang mengenali, merefleksikan, dan mengubah dunianya demi mencapai kemanusiaan yang utuh (humanisasi).
Paulo Freire mengembangkan konsep dalam pemikirannya yaitu konsientisasi atau kesadaran kritis. Kesadaran kritis merupakan kemampuan individu memahami realitas sosial, mengenali struktur ketidakadilan, dan bertindak untuk melakukan perubahan.
Neurosains Pembelajaran
Untuk menghubungkan pemikiran Freire dengan neurosains dibatasi hanya kegiatan murid sebagai subjek didik yang dirangsang otaknya untuk berkembang. Di antara solusi yang ditawarkan Freire adalah Pendidikan hadap-masalah (Problem-Posing Education), yaitu pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Pengetahuan tidak dipindahkan secara satu arah dari guru kepada murid, melainkan dibangun melalui dialog, refleksi kritis, dan pemecahan masalah nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Praksis menurut Paulo Freire adalah kesatuan yang tidak terpisahkan antara refleksi kritis dan tindakan nyata untuk mengubah dunia.
Menurut neurosains para peneliti memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana otak belajar, membangun makna, mengingat, mengambil keputusan, serta mengembangkan kreativitas. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang bersifat dialogis, kontekstual, reflektif, dan kolaboratif lebih sesuai dengan cara kerja otak dibandingkan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan.
Dalam dialog atau diskusi, ada dua kegiatan yaitu mendengar dan berbicara. Mendengarkan merupakan aktivitas kognitif yang lebih kompleks dibandingkan sekadar menerima informasi secara pasif. Ketika seseorang menyimak sebuah gagasan otak mengaktifkan jaringan saraf yang lebih luas. Jaringan ini berperan dalam proses pemeliharaan perhatian secara berkelanjutan (sustained attention), pengambilan memori (memory retrieval), serta kognisi sosial (social cognition).
Di era digital, pembelajaran yang membebaskan murid dari jeratan dopamine loop yang berasal dari paparan layar adalah dengan melibatkan murid pada kegiatan yang memberikan kepuasan alami. Di antara pembelajaran yang memicu dopamin adalah: kolaborasi, berinteraksi dengan teman, pengakuan dari anggota tim, dan dukungan dalam kerja kelompok dapat menjadi pembangkit dopamin yang efektif. Dopamin bukan sekadar zat kimia yang membuat seseorang merasa senang, melainkan neurotransmitter yang berperan penting dalam motivasi, antisipasi, dan dorongan untuk mengejar reward.
Pembelajaran yang menantang dan menarik, seperti investigasi, eksplorasi dan eksperimen dapat menjadi cara yang bagus untuk meniscayakan lonjakan dopamin. Kuncinya adalah memposisikan pengalaman belajar agar cukup menantang dan butuh effort, tetapi juga tidak terlalu sulit sehingga jauh dari jangkauan. Semoga bermanfaat dan tetap semangat. Merdeka!
