Konten dari Pengguna

Laila Majnun dan Teori Flow Mihaly Csikszentmihalyi

AD Sudarto

AD Sudarto

Pengajar di Banyumas

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi foto cerita Laila Majnun (sumber foto AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto cerita Laila Majnun (sumber foto AI)

Suatu hari, Majnun lewat di depan seseorang yang lagi khusyuk sholat. Kelar sholat, orang itu langsung menegur Majnun dengan nada agak kencang: "Hei, kamu tidak punya mata apa? Tak lihat kita lagi sholat, malah nyelonong aja di depan kita!"

Mendengar teguran itu, Majnun cuma tersenyum tipis lalu tanya balik:

"Jujur ya, kalau kalian memang beneran cinta sama Allah-seperti halnya aku yang lagi bucin setengah mati sama Laila-kalian pasti tak bakal perhatikan kehadiranku sama sekali."

Majnun melanjutkannya dengan santai tapi menohok:

"Pikir aja, kalian itu lagi menghadap langsung sama Penguasa Semesta Alam. Kok bisa-bisanya perhatian kalian terdistraksi cuma gara-gara ada orang yang lewat? Aku aja nih, pas lagi ngejar anjingnya Laila-yang cuma peliharaan dari pujaanku-dunia serasa milik berdua. Aku bahkan enggak notice kalau ada kalian di situ."

Kisah Laila Majnun sangat terkenal, sebuah hubungan cinta yang sangat emosional, indah dan menggetarkan, namun berakhir dengan menguras air mata. Bagaimana seorang yang bernama asli Qais, hanyut dalam pesona Laila. Bila Laila adalah bunga, maka Qais sudah mabuk hanya dengan memandang indah mahkotanya sebelum mencium aromanya. Laila adalah oase dan Qais pengembara gurun yang haus dan menjadi gila sebelum mereguk kesegaran airnya. Laila di mata Majnun adalah penari yang berirama dengan tarian semesta, dan Majnun hanya mampu memandang dengan mata pesona. Karena kegilaannya pada Laila itulah, dia dijuluki Majnun dalam arti umumnya adalah gila atau orang yang kehilangan akal.

Deep concentration

Ahli psikologi kognitif Mihaly Csikszentmihalyi mengemukakan teori flow, yaitu keadaan psikologis ketika seseorang begitu tenggelam dalam suatu aktivitas sehingga perhatian terpusat sepenuhnya, kesadaran terhadap diri berkurang, waktu terasa berubah, dan aktivitas itu sendiri terasa sangat bermakna.

Sesuatu yang bermakna akan dijadikan prioritas dalam bertindak, orang akan secara sukarela melakukan sesuatu karena makna. Adanya makna itulah orang akan melakukan kegiatan dengan sungguh-sunggu. Laila adalah makna bagi Majnun. Karena bermakna itulah menjadi fokus utamanya. Kehilangan Laila sama dengan kehilangan makna.

Ketika seseorang mengalami flow, perhatian tidak lagi terpecah oleh berbagai rangsangan yang tidak relevan. Ia tenggelam dalam aktivitas yang sedang dijalani. Seorang pembaca puisi dapat melupakan penontonnya, seorang pesepeda dapat begitu menikmati perjalanan hingga tidak menyadari waktu, dan seorang penulis dapat kehilangan kesadaran akan lingkungan ketika menemukan aliran gagasannya.

Persamaan antara flow dan kisah Majnun adalah sama-sama adanya keterpusatan perhatian, sehingga rangsangan luar tidak masuk dalam kesadaran. Energi batin manusia fokus pada apa yang sering menjadi perhatian, bila terus berulang itulah yang akan memungkinkan memengaruhi cara memandang pengalaman luar.

Otak akan melakukan seleksi informasi yang masuk. Kita punya indra dan setiap detik mengirim informasi ke otak, tetapi otak akan menyaring: hanya informasi yang penting saja yang akan diproses. Otak memblokir sinyal sensorik yang tidak relevan agar tidak mencapai otak besar, mencegah kelebihan beban informasi (information overload).

Pesan Satire Majnun

Ada perbedaan antara apa yang dialami Majnun dengan flow. Meskipun Majnun mengalami absorpsi perhatian, tetapi itu adalah kondisi ekstrem. Tidak setiap keadaan obsesif dapat disebut flow. Flow dalam teori Csikszentmihalyi pada dasarnya merupakan pengalaman optimal yang biasanya berkaitan dengan keterlibatan yang konstruktif dan perkembangan kemampuan. Kondisi Majnun justru memperlihatkan sisi tragis ketika keterpusatan pada satu objek menjadikan kehilangan keseimbangan dengan kehidupan lainnya.

Dalam dunia sufi kisah tersebut sering dijadikan perumpaan bahkan metafora bagaimana orang sebagai hamba dari Tuhan sedang menghadapNya tetapi pikiran terditraksi oleh pengalaman eksternal, sedangkan Majnun hanya cinta kepada makhluk tetapi begitu totalitas.

Kaum sufi membandingkan cerita Majnun yang mengalami perhatian penuh terhadap apa yang sedang dihadapi dengan kekhusukan ibadah. Meminjam istilah gaul, saat ada hal yang berhubungan dengan Laila dianggap sebagai notifikasi yang harus direspon. Laila telah menjadi sumber makna, kehadirannya adalah kebahagiaan, ini barangkali Laila menjadi sumber pemicu munculnya dopamine.

Majnun sedang mengajari kita tentang paradoks, yang indah yang paling dicintai akan menjadi pusat perhatian dan apa yang berada di luar pusat perhatian dapat menghilang dari kesadaran. Pernyataan ini sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar teguran kepada orang yang salat. Ia mempertanyakan: Seberapa utuh perhatian kita ketika melakukan sesuatu yang kita anggap paling penting?

Di sinilah konsep flow dapat bertemu secara menarik dengan konsep kekhusyukan. Secara psikologis, keduanya memiliki kemiripan pada aspek keterpusatan perhatian. Orang yang benar-benar khusyuk tidak sekadar melakukan gerakan salat secara fisik. Perhatiannya juga diarahkan kepada pengalaman ibadah. Demikian pula seseorang yang mengalami flow tidak sekadar melakukan suatu aktivitas, tetapi mengalami keterlibatan yang mendalam di dalamnya.

Majnun seolah mengatakan: "Aku kehilangan dunia karena cintaku kepada Laila. Sedang kalian beribadah tapi pikiran terpecah, terganggu deadline, rutinitas, kondisi burnout. Belajar tapi aktif memperhatikan notifikasi, berbicara atau berinteraksi sambil melihat HP dan membuka media sosial, bekerja sambil memikirkan berbagai persoalan lain."