Konten dari Pengguna

Mengelola Paradoks

AD Sudarto

AD Sudarto

Pengajar di Banyumas

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengendalikan di antara dua tarikan (sumber: pexels.com/Angke Widya)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengendalikan di antara dua tarikan (sumber: pexels.com/Angke Widya)

Manusia itu kadang bersikap atau bertindak aneh. Suatu saat ingin berkumpul, lebur dalam komunitas sosial saat lain ingin menyendiri. Kadang ingin menyenangkan orang lain kadang ingin membuat orang lain menderita. Orang memilih kata agar tidak menyinggung orang lain, suatu saat sengaja menyindir. Di media sosial kadang ingin membuat bahagia anggota kadang melakukan perundungan dengan meme, video parodi atau ledekan lainnya.

Pagi hari berharap masuk kerja, belum saatnya pulang sudah ingin pulang. Kalau libur ingin masuk kantor saat di kantor ingin rebahan di rumah, mirip kondisi murid-murid malas bersekolah saat pandemi justru kangen sekolah. Saat kerja ingat suasana di rumah bisa habiskan waktu di tempat indah, minum kopi, bercanda atau kegiatan hedon lainnya, saat gabut rindu suasana kerja dengan kolega.

Untuk membedakan dengan komunitas lain, manusia ingin membuat tanda pengenal misalnya baju seragam atau dress code sebagai identitas, tetapi kadang juga aneh dalam komunitas yang sudah seragam beberapa orang mengenakan keunikan tertentu lagi. Ini barangkali berkaitan dengan aturan, manusia ingin bebas tidak mau diatur tetapi pada saat yang sama ketika tidak ada ikatan, justru malah ingin terikat. Inilah paradoksnya: kita ingin bebas, tetapi kita juga ingin menjadi bagian dari sesuatu.

Coba saja lihat, seorang suami tentu tidak mau diatur istri, pelarangan tentang segala hal yang disukai dan mematuhi perrmintaan istri, tetapi ketika istri tidak melakukan apapun, hanya diam maka di situlah rindu muncul (saya menuliskan kalimat ini dengan sedih sekaligus tertawa dalam hati, karena ingat teman saya yang takut istri, andaikata pantas akan kutulis huhuhu/menangis dan hahaha/tertawa, paradoks bukan?)

Anehnya, manusia juga ingin bahagia atau hiburan tapi justru lihat film yang sedih, menguras air mata, dan emosional. Ingin rileks lepas dari burnout dan beroleh fresh tetapi malah lihat film horor yang membikin jantung berdegup, cemas dan memicu hormon seperti kortisol, adrenalin, dan norepinefrin.

Kadang saya berpikir kalau hanya ingin takut, mengapa tidak pergi ke kuburan saja pada malam hari yang jauh dari pemukiman? Tapi kata teman saya dari generasi Z menyatakan bahwa film horor jaman sekarang tidak seperti jaman dulu waktu aktris Suzzanna dijuluki ratu horor Indonesia. Teman saya membela diri, film horor sekarang ada unsur lucunya sehingga kita tahu persis bahwa itu bukan nyata, kita dapat lepas dari rasa takut dengan tertawa, selain itu di wilayah otak yang berkaitan dengan proses visual dan pendengaran menjadi lebih aktif.

Kita ingin sukses, tetapi takut gagal. Kita ingin berubah, tetapi merasa nyaman dengan kebiasaan lama. Kita ingin dipahami orang lain, tetapi tidak selalu mampu memahami diri sendiri.

Paradoks dalam hidup

Ahli-ahli psikologi memahami manusia sebagai makhluk paradoks. Menurut Louis Leahy, manusia disebut sebagai makhluk paradoksal karena eksistensinya dipenuhi oleh ketegangan antara dua kutub yang saling bertolak belakang, namun keduanya sama-sama nyata dan melekat di dalam diri manusia. Manusia adalah sebuah "misteri" yang tidak bisa disederhanakan ke dalam satu definisi tunggal.

Manusia adalah makhluk rohani dan jekaligus jasmani. Manusia terikat pada hukum alam, ruang, waktu, dan kelemahan fisik (sakit, menua, dan mati). Di saat yang sama, manusia memiliki kesadaran, pikiran, dan kehendak bebas yang mampu melampaui batas-batas fisik tersebut. Manusia bisa memikirkan masa depan atau konsep abstrak yang tak berwujud.

Manusia memiliki kebaikan tertinggi sekaligus keburukan terendah. Manusia memiliki kapasitas luar biasa untuk mencintai, berkorban, menciptakan keindahan, dan mencari kebenaran sejati, inilah potensi mulianya. Di sisi lain, manusia juga menjadi satu-satunya makhluk yang mampu melakukan kekejaman terstruktur, egoisme buta, dan destruksi terhadap sesamanya. Itulah potensi merusak seperti eksploitasi, membakar hutan, menindas dan perang.

Manusia adalah "raja" di bumi yang mampu menaklukkan alam melalui sains dan teknologi. Dalam bahasa agama manusia adalah khalifah. Saat yang sama di hadapan alam semesta, manusia sangat kecil, rapuh, dan selalu dihantui oleh kecemasan akan ketiadaan atau kematian.

Kearifan spiritual dalam mengelola paradoks

Ilustrasi dua sayap mengepak (sumber: pexels.com: Vitaliy Mitrofanenko)

Pilihan yang bertentangan itu sering terjadi pada waktu bersamaan, misalnya antara belas kasihan dengan ketegasan. Manusia pada saat yang sama dituntut untuk memilih berdamai tidak menempuh jalur hukum pada suatu kasus kecil atau justru melaporkan ke petugas untuk memberi efek jera.

Pada pembangunan, memilih dari atas ke bawah (top-down), keputusan dibuat oleh manajemen senior atau pimpinan pusat, lalu diteruskan ke bawahan untuk dijalankan atau ide dari bawah agar dapat memenuhi kebutuhan lokal (bottom-up).

Barangkali di antara kita pernah ke toko untuk beli baju, karena banyaknya pilihan justru kita menjadi bingung. Ini adalah paradoks pilihan dan bisa mengakibatkan decision fatigue yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan mental dan penurunan kualitas berpikir akibat terlalu sering atau terlalu banyak mengambil keputusan dalam waktu berdekatan.

Mengelola paradoks harus dilihat pada konteks permasalahannya. Pada kasus iba dengan ketegasan itu mengelola paradoks berarti memberi tempat kepada perasaan dan pikiran untuk berdialog. Dan barangkali, justru di dalam semua pertentangan itulah kita menemukan keindahan menjadi manusia.

Kita tidak selalu harus memilih salah satu sisi. Kadang kebijaksanaan justru lahir ketika kita mampu memeluk dua hal yang tampaknya bertentangan, lalu menemukan keseimbangan di antara keduanya.

Sebelum Dr. Barry Johnson memperkenalkan polarity mapping, tokoh tasawuf Imam Al Ghazali sudah membahas tentang takut (khauf) dan harap (raja’). Ia menggunakan gambaran yang sangat kuat: keduanya seperti dua sayap yang memungkinkan seorang hamba menempuh perjalanan spiritual.

Khauf dan roja’adalah dua obat untuk hati. Maka keutamaannya adalah dengan melihat penyakit yang ada. Jika perasaan aman dari takdir Allah SWT lebih menguasai, maka khauf lebih utama. Dan jika yang lebih menguasai adalah rasa putus asa, maka roja’ lebih utama. Demikian juga bila maksiat lebih menguasai seorang hamba, maka khauf lebih utama.

Al Ghazali menjelaskan khauf dan roja’ dalam kaitannya menyembah kepada Tuhan. Orang yang tidak memiliki khauf dapat terjerumus dalam perbuatan maksiat. Bila seseorang tidak memiliki rasa takut atau khawatir tentu sangat berbahaya, seperti anak kecil yang tidak takut terhadap sesuatu yang sangat berbahaya.

Mengelola khauf dan raja’ bukan berarti menentukan angka: 50% takut dan 50% berharap. Kehidupan spiritual tidak bekerja seperti timbangan matematis. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin membutuhkan penguatan harapan. Seseorang yang telah tenggelam dalam keputusasaan membutuhkan pesan tentang rahmat Allah. Sebaliknya, orang yang terlena, meremehkan kesalahan, dan merasa “pasti aman” mungkin membutuhkan kesadaran tentang tanggung jawab dan konsekuensi.

Dengan kata lain: Keseimbangan bukan selalu titik tengah. Keseimbangan adalah ketepatan respons terhadap keadaan. Dengan bahasa polarity management, kita dapat mengatakan: Khauf dan raja’ bukan problem yang harus diselesaikan, melainkan polaritas yang harus dikelola. Ini adalah jembatan yang sangat menarik antara kebijaksanaan klasik Islam dan teori modern tentang polaritas.

Paradoks bukanlah tanda kegagalan berpikir. Dalam banyak aspek kehidupan, paradoks muncul karena manusia berhadapan dengan dua nilai yang sama-sama penting. Tradisi modern menawarkan berbagai perangkat untuk mengelolanya, seperti mindfulness, dialectical thinking, dan Polarity Mapping. Sementara itu, tradisi spiritual Islam telah lama mengenal pentingnya mengelola keadaan-keadaan batin yang tampak berlawanan, seperti khauf dan raja’, ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar tanpa tawakal dapat menghasilkan ilusi bahwa manusia dapat mengendalikan semuanya. Tawakal tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi kepasifan.

Dengan demikian, kedewasaan bukanlah kemenangan salah satu kutub atas kutub lainnya, melainkan kemampuan menempatkan setiap kutub secara proporsional sesuai konteks, nilai, dan tujuan kehidupan.

Paradoks ini bukan berarti manusia itu cacat atau rusak, melainkan sebuah sintesis hidup. Rahasia menjadi manusia yang utuh adalah bukan dengan membuang salah satu sisi, melainkan merangkul dan menyeimbangkan kedua kutub yang bertentangan tersebut di dalam keseharian. Justru itulah kesempurnaan manusia. Jika kutub satu menarik kuat misalnya akan bertindak melawan hukum, ingat akan konsekuensi yang bakal diterima, bila kutub satunya membuat putus harapan dan pasif ingat akan kemurahan Tuhan. Menurut Ali Shariati manusia adalah makhluk dua dimensi maka manusia membutuhkan Alloh yaitu Tuhannya Musa yang memiliki siksa sangat pedih sekaligus Tuhannya Isa yang sangat Pengasih dan Penyayang.