Pembelajaran Mendalam dan Ultimate Intelligence

Pengajar di Banyumas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama berkaitan dengan pendidikan, maka sejak dulu sebelum era media sosial seperti sekarang, orang dari berbagai latar belakang akan mengupas topik bertema pendidikan dari berbagai sudut pandang. Terlebih zaman sekarang, semua kalangan yang merasa peduli bisa mengkritisi tentang pendidikan di media sosial, baik regulasi pendidikan, hasil asesmen nasional, perilaku murid, hasil asesmen PISA, IQ rata-rata, termasuk sumbangan ke sekolah, dan ini terjadi tidak hanya pada momen ketika hari pendidikan nasional atau hari guru.
Bila merujuk pada kebijakan yang digunakan pemerintah sekarang ini, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) sebenarnya menawarkan pembentukan kecerdasan yang lebih didukung penelitian neurosains, bukan hanya kecerdasan kognitif tetapi kecerdasan yang ada dalam kehidupan nyata.
Pendekatan ini fokus utamanya adalah mengurangi volume materi agar siswa dapat mengeksplorasi konsep esensial secara mendalam melalui tiga pilar utama: Mindful Learning (belajar penuh kesadaran), Meaningful Learning (belajar bermakna), dan Joyful Learning (belajar menyenangkan) melalui olah pikir, olah rasa, olah hati dan olah raga.
Kecerdasan
Kalau kita pahami maka pendekatan deep learning lebih mengacu pada kecerdasan intelektual, emosional, spiritual. Ketiga kecerdasan tersebut dapat menyatu menjadi sebuah kecerdasan tertinggi yaitu Ultimate Intelligence. Istilah ini dipakai oleh Danah Zohar untuk menggambarkan kasta tertinggi dari sebuah kecerdasan spiritual. Sampai saat ini penulis belum pernah mendengar penjelasan tentang pendekatan tersebut dalam kerangka kecerdasan.
Olah rasa itu adalah sebuah kecerdasan, bila kita telaah lebih dalam “bisa merasa” itu adalah kemampuan anak dalam mengelola suasana hati. Olah rasa adalah proses mengasah kepekaan emosi, estetika, dan empati sosial. Dalam ranah Emotional Intelligence seperti buku yang ditulis oleh Daniel Goleman, olah rasa di antaranya mencakup dua hal: kemampuan memahami emosi diri sendiri (self-awareness) dan kemampuan memahami perasaan orang lain (empathy).
Kesadaran diri ini sangatlah penting bagi pendidik, murid, dan orang tua agar memiliki kecakapan mengenali emosi yang sedang dialami, memahami penyebabnya, serta menyadari bagaimana emosi memengaruhi pikiran dan perilaku.
Ada kearifan lokal dalam bahasa Jawa yang menyatakan “sing bisa rumangsa, aja rumangsa bisa” artinya orang hendaknya memiliki kepekaan rasa, introspeksi atau mawas diri, jangan menjadi orang yang merasa pintar dan sombong. Secara singkat kecerdasan ini adalah bagaimana melatih otak menjinakkan amygdala dan memperkuat jalur prefrontal korteks.
Seseorang yang melakukan olah rasa dengan baik tidak akan menjadi orang yang egois atau "tuli" terhadap penderitaan sekitarnya. Mereka mampu mengendalikan emosi negatif seperti amarah atau cemburu dan mengubahnya menjadi energi positif seperti kasih sayang dan kepedulian, ini adalah kemampuan self regulation.
Karakter yang Terbentuk: Empati tinggi, toleran, mampu bekerja sama, gotong royong, dan memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam. Komponen-komponen tersebut bisa dicapai dalam pembelajaran kokurikuler dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Olah hati, bagi penulis lebih memahami sebagai sebuah kecerdasan spiritual, karena kecerdasan emosionalnya sudah ada dalam olah rasa. Hati tempat rasa, tapi di hati juga ada pertimbangan moral tentang baik buruk, integritas dan keterhubungan dengan Pencipta semesta.
Karena itu dalam khazanah kebudayaan di Indonesia dikenal istilah suara hati, hati nurani atau kalbu untuk menyebut tentang kebenaran dari dalam yang muncul ketika seseorang melakukan suatu tindakan. Ia seperti kompas kebenaran sehingga manusia mampu bertindak sesuai hukum dan norma yang berlaku. Karena suara hati berkaitan dengan makna dan nilai, maka inilah yang menjadi kecerdasan spiritual.
Danah Zohar dan Ian Marshall dalam buku spiritual intelligence menyebut “Titik Tuhan” untuk aktivitas otak di lobus temporal ketika orang melakukan praktik spiritualitas. Sekarang dengan penelitian yang lebih maju, spiritualitas tidak hanya mengaktifkan pada lobus temporal saja, tetapi juga area otak lain misalnya peningkatan aktivitas di lobus frontal dan diikuti penurunan aktivitas di lobus parietal. Pendekatan yang diharapkan oleh pemerintah sungguh merupakan tujuan mulia yang hendak membangun kecerdasan bagi anak bangsa.
Peran Pemerintah
Pemerintah sudah memberikan dasar-dasar untuk mengembangkan kecerdasan bagi murid, bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tidak menutup kemungkinan akan melahirkan manusia yang cerdas dan berkepribadian. Tetapi sampai saat ini tampaknya pemerintah belum melibatkan ahli neurosains untuk melakukan penelitian terkait kebijakan di luar pendekatan kurikulum.
Ada banyak yang perlu dikaji, misalnya di awal diluncurkan full day school telah menimbulkan pro dan kontra, akhirnya kebijakan diserahkan pada keputusan daerah, mau 5 hari atau 6 hari sekolah. Apabila ada penelitian tentang: Attention Span, Cognitive Fatigue, Ritme Sirkadian, tentu kebijakan FDS dapat diterima oleh semua pihak.
Attention Span: Durasi waktu di mana seseorang dapat berkonsentrasi pada satu tugas atau topik sebelum akhirnya terdistraksi. Rentang ini dipengaruhi oleh usia, minat, dan kebiasaan, seperti paparan konten digital pendek yang sering kali memperpendek kemampuan fokus.
Cognitive Fatigue: Kondisi kelelahan mental atau kognitif. Berbeda dengan lelah fisik, ini adalah penurunan kapasitas otak akibat aktivitas mental yang berkepanjangan, yang ditandai dengan sulit konsentrasi, menurunnya produktivitas, dan mudah marah.
Kualitas tidur: Ada ilmu saraf yang mempelajari bagaimana tidur memengaruhi otak dan sistem saraf. Ilmu ini meneliti pola gelombang otak, aktivitas neurotransmitter, serta bagaimana proses biologis saat tidur menguatkan memori, memperbaiki sel saraf, dan menjaga kesehatan mental.
Ritme Sirkadian: Jam biologis internal tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun, nafsu makan, dan produksi hormon selama periode 24 jam. Ritme ini disinkronkan oleh sinyal lingkungan seperti paparan cahaya.
Tentang penghapusan ujian nasional dan sekarang diberlakukan tes kemampuan akademik (TKA), perlu dikaji lebih teliti secara akademis bukan hanya opini masyarakat. Sudah ada penelitian tentang penurunan motivasi belajar setelah UN dihapus. Bagaimana tentang hasil TKA apakah cukup membuat motivasi belajar siswa meningkat?
Ketika ada ujian nasional barangkali ada siswa yang stress sehingga menurut neurosains dapat menyebabkan keluarnya hormon kortisol, namun neurosains juga menunjukkan bahwa tantangan dalam tingkat yang moderat justru dapat meningkatkan motivasi dan perhatian. Inilah perlunya penelitian yang melibatkan ahli neurosains.
Ada opini yang berkembang bahwa saat ini ada istilah auto naik dan auto lulus untuk menggambarkan begitu mudahnya siswa naik kelas dan lulus dengan nilai fantastis yang membuat generasi era 80-an atau 90-an tercengang.
Pemerintah memberi peluang untuk kenaikan dan kelulusan bagi siswa dengan merujuk pada penelitian di antaranya adalah: tinggal kelas tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk peserta didik bahkan cenderung memberikan dampak buruk bagi persepsi diri peserta didik (Jacobs dan Mantiri, 2022; OECD, 2020; Powel, 2010). Survey PISSA 2018 skor kognitif capaian peserta didik yang tinggal kelas secara statistik lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah tinggal kelas.
Hasil tes PISSA 2018 menyatakan bahwa di berbagai negara mayoritas siswa yang tinggal kelas adalah siswa dari keluarga menengah ke bawah. Sangat disarankan untuk melakukan penelitian sendiri bagaimana sebenarnya hubungan motivasi dan kenaikan kelas, pertanyaan penelitian yang relevan misalnya: Bagaimana pengaruh kebijakan kenaikan kelas terhadap motivasi belajar? Apakah ancaman tinggal kelas meningkatkan semangat belajar atau justru menimbulkan kecemasan yang menghambat pembelajaran?
Itulah agenda-agenda yang perlu dijawab oleh pemerintah dengan data berbasis penelitian yang lebih objektif.
