Konten dari Pengguna

Penembakan di Thailand dan Ketahanan Diri

AD Sudarto

AD Sudarto

Pengajar di Banyumas

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak setelah mengalami perundungan (Sumber foto AI Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak setelah mengalami perundungan (Sumber foto AI Gemini)

Tragedi penembakan massal yang terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Thailand, menjadi nestapa mendalam dan peringatan bahaya bagi dunia pendidikan. Tidak terpikirkan bahwa peristiwa tragis itu dilakukan oleh seorang siswa berusia 14 tahun. Kejadian ini merenggut nyawa guru, staf sekolah, kakek dan neneknya sendiri serta pelaku. Total yang meninggal ada 9 orang. Betapa mengerikan jerit korban dan siswa lain yang terancam nyawanya, bersembunyi dengan suara tembakan terdengar nyaring di telinga, pastilah mereka dicekam ketakutan dan kemungkinan meninggalkan trauma.

Berita yang muncul menyebutkan bahwa investigasi awal dan kesaksian mengindikasikan bahwa tindakan brutal tersebut dipicu oleh akumulasi stres akademik yang berat, serta riwayat perundungan (bullying) yang dialami pelaku. Peristiwa ini membuka kembali kesadaran publik bahwa lingkungan pendidikan bukan hanya tempat mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga area rentan di mana krisis mental dan konflik sosial dapat bereskalasi menjadi tragedi mematikan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Peran Orang Tua

Dalam tokoh wayang ada satria tampan dan sakti, namanya Adipati Karna. Dia telah mengalami serangkaian penganiayaan emosional, karena status sosialnya yang dianggap anak kusir, penghinaan bertubi-tubi karena kastanya hingga menyebabkan luka psikologis.

Ia akhirnya menerima kebaikan Duryudana, seorang raja antagonis dan inilah awal penderitaan sesungguhnya hingga harus berperang dengan saudara sendiri dan mati di Kurusetra dalam perang Baratayuda. Ternyata luka emosional itu merusak kepribadian, dan mengubah cara pandang terhadap dunia, ini akhirnya berkorelasi bagaimana berinteraksi dengan lingkungan.

Seharusnyalah keluarga menjadi tempat yang aman bagi anak, orang tua menjadi teladan, tempat untuk bertumbuh secara dewasa, membimbing dalam pengalaman spiritual dan membangun integritas dari kecil. Orang tua adalah guru pertama yang meniscayakan anak memiliki karakter mulia.

Pengawasan guru dan orang tua tetap perlu dilakukan terhadap penggunaan HP serta kemudahan akses terhadap barang-barang berbahaya seperti narkoba atau senjata tajam di dalam rumah.

Orang tua dan pendidik harus tahu dinamika sosial dan lingkungan. Budaya perundungan yang dibiarkan, kurangnya empati antar teman, serta lemahnya deteksi dini dari orang tua atau pendidik terhadap perubahan perilaku anak, dapat memicu perbuatan brutal. Pengetatan aturan atau pengawasan fisik semata tidak akan menyelesaikan akar masalah jika trauma emosional dan dinamika perundungan di lingkungan anak tetap dibiarkan tumbuh subur.

Pendidikan Anti-Bullying dan Regulasi Emosi

Pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah berakar pada dua pilar edukasi utama yang harus berjalan berdampingan

a. Pendidikan Anti-Bullying yang Tegas dan Inklusif.

Sekolah harus membangun ekosistem yang tidak memberi ruang sedikit pun bagi segala bentuk perundungan, baik verbal, fisik, maupun psikologis. Sistem pelaporan yang aman: menyediakan saluran aduan anonim agar korban atau saksi tidak takut melapor. Edukasi empati dan inklusi: mengintegrasikan pembelajaran karakter yang mengajarkan siswa menghargai perbedaan, merangkul teman yang tertutup, dan menghentikan kebiasaan mengisolasi sesama. Tindakan tegas: Menindak pelaku perundungan secara konstruktif melalui pembinaan dan konsekuensi yang mendidik, bukan sekadar pembiaran.

b. Edukasi Manajemen Emosi dan Ketahanan Diri (Emotional Resilience ).

Pernahkah terlintas dalam pikiran, mungkinkah perundungan benar-benar akan hilang? Realitanya perundungan tetap terjadi di mana-mana, baik lembaga atau instansi formal, di masyarakat, di dunia maya (Cyberbullying), atau di komunitas. Ini terjadi sejak dulu, sejak jaman Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad saw.

Di kampung, saya menemukan banyak perundungan verbal, menyebut nama seseorang dengan ciri fisiknya, dan itu menjadi normal, yang membuat tidak habis pikir adalah anak-anak kecil juga ikut memanggil dengan panggilan itu, tapi lebih sopan ditambahi “Pak”. Berarti perundungan itu terjadi dalam waktu yang lama dan massal. Ketika anak-anak itu menjadi dewasa baru tahu nama sebenarnya dari bapak-bapak yang disebut dengan sebutan cemoohan.

Mungkin karena sudah lelah dan tidak kuasa dipanggil orang sekampung dengan sebutan ejekan, akhirnya sangat terpaksa menerima keaadaan. Seperti dalam wayang, Kurawa menyebut Pandawa adalah anak dari Si Pucat atau Si Tengeng (lehernya miring), sebaliknya Pandawa menyebut Kurawa adalah anak dari Si Buta. Barangkali anak-anak mereka menyebut Pak Tengeng atau Pak Buta.

Jadi justru yang paling penting bagi dunia pendidikan dan orang tua untuk melatih anak agar memiliki resiliensi emosional ketika berhadapan dengan situasi sulit atau tindakan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Bisa mengambil contoh bagaimana Nabi mengatasi kekerasan verbal dan fisik dari elite Quraisy waktu itu.

Pengendalian Impuls dan Regulasi Emosi: Mengajarkan anak cara mengenali ledakan kemarahan, memproses rasa sakit hati, dan tidak mengambil keputusan impulsif saat merasa tertekan atau terpojok. Bahasa neurosainsnya adalah: menjinakkan amygdala dan mengaktifkan prefrontal korteks.

Literasi Coping Mechanism yang Sehat: Membekali siswa dengan pemahaman bahwa membalas dendam atau kekerasan bukanlah jalan keluar dari rasa sakit. Siswa diajarkan untuk mencari bantuan profesional, berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling (BK), atau bercerita kepada pihak terpercaya saat menghadapi perundungan.

Latihan Mental Resiliensi: Mendidik siswa agar tidak mudah larut dalam penilaian negatif orang lain, serta membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada penerimaan kelompok perundung.

Tragedi di Thailand menjadi pengingat keras bagi seluruh orang tua dan pemangku kepentingan pendidikan di mana pun. Melalui pendekatan berpikir yang utuh, penguatan iklim sekolah anti-perundungan, dan pembekalan ketahanan emosional pada anak, kita dapat mencegah akumulasi kekecewaan dan rasa benci berubah menjadi aksi kekerasan yang merenggut masa depan.