Konten dari Pengguna

Santri, Literasi dan Penguatan Memori

AD Sudarto

AD Sudarto

Pengajar di Banyumas

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi murid dan guru (Sumber: pexels.com/Muhammad Solikin)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi murid dan guru (Sumber: pexels.com/Muhammad Solikin)

Sering ditemui (apalagi di jaman medsos sekarang) banyak murid yang menerima pelajaran atau sudah belajar namun esoknya benar-benar lupa. Peristiwa semacam ini bukan semata-mata karena murid kurang cerdas atau kurang bersungguh-sungguh. Ada proses alamiah dalam kerja otak yang membuat informasi yang baru dipelajari perlahan-lahan sulit diingat kembali. Fenomena inilah yang dipelajari dalam psikologi memori, salah satunya melalui teori kurva lupa (Ebbinghaus Forgetting Curve) yang diperkenalkan oleh Hermann Ebbinghaus. Konsep ini menggambarkan bagaimana manusia melupakan informasi secara eksponensial seiring berjalannya waktu jika tidak ada upaya untuk mengingat atau mengulanginya. Bagaimana rahasia para santri bisa menghapal kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berisi 1.002 bait (nadzom) atau bahkan kitab suci Al-Qur'an? Kita simak dulu ilustrasi di bawah ini.

Di sebuah pondok pesantren, ada seorang santri bernama Mukhlis. Ia terkenal saleh, rajin mengaji, tetapi kalau disuruh menghafal, otaknya seperti sinyal HP di pelosok desa: kadang tersambung, kadang hilang.

Suatu malam, Kiai memberikan tugas kepada para santri untuk menghafal beberapa baris kitab imrithy.

“Besok pagi, kalian harus sudah hafal. Siapa yang belum hafal, silakan maju ke depan dan membaca di hadapan teman-temannya!” pesan Kiai.

Mukhlis langsung panik. Malam itu ia membaca kitab berulang-ulang. Setelah satu jam, ia merasa sudah hafal. Ia menutup kitabnya, lalu mencoba mengulang.

“Alhamdulillah, hafal!”

Keesokan paginya, Kiai memanggilnya.

“Mukhlis, coba baca hafalanmu!”

Mukhlis maju dengan penuh percaya diri. Ia membaca satu baris, dua baris, lalu tiba-tiba berhenti.

Kiai bertanya, “Kenapa berhenti?”

Mukhlis menjawab, “Mohon maaf, Yai. Hafalan saya hilang.”

“Lho, semalam katanya sudah hafal?”

“Sudah, Yai. Tapi semalam saya sulit tidur, sedangkan hafalan saya tidur duluan”

Para santri tertawa.

Kiai menggeleng sambil tersenyum. “Makanya, kalau belajar jangan hanya dibaca. Harus diulang terus supaya melekat di ingatan.”

Mukhlis mengangguk mantap. “Siap, Yai! Mulai malam ini saya akan menghafal sambil tidur!”

Kiai mengernyitkan dahi. “Maksudmu?”

“Supaya saya bisa menemani hafalan ikut tidur, Yai. Jadi besok pagi kami bisa bangun bersama-sama!” Seluruh santri pun tertawa terbahak-bahak.

Itu hanya cerita, tetapi sebenarnya mengandung unsur neurosainsnya. Tidur memberi efek pada penguatan memori. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidur mendukung konsolidasi sejumlah jenis memori.

Santri sering diidentikkan dengan suatu kaum bersarung dan berpeci, mendalami ajaran agama di pondok pesantren. Saya berkesempatan berkunjung ke pondok pesantren At taslim di Demak dengan dengan Pengasuh KH M Nurul Huda selama lebih kurang 1 minggu dan ponpes Roudotul Hikam di Pucang, Secang Magelang dengan pengasuh KH Zaenuri. Saya bersaksi bahwa para santri dari sikap lahiriah, terlihat saleh, penuh adab, rendah hati, sederhana dan pintar. Begitu pula dengan pengasuhnya menunjukkan pribadi yang cerdas, tawadu, luas wawasannya dan penuh integritas.

Dari pesantren di nusantara banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional baik yang secara struktural berjuang di lingkar istana atau justru mengambil jarak dengan kekuasaan. Perjuangan para santri sejak era kemerdekaan sampai Indonesia saat ini.

Tradisi Literasi

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dikenal sebagai kutu buku sehingga beliau dapat menganalisis masalah mulai dari agama, politik, kesusteraaan, sepakbola, filsafat dan bahkan humor. Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pernah tertawa dan tanya tentang John F Kennedy yang baru saja diceritakan Gus Dur berasal dari buku apa. Gus Dur menjawab dari buku karya Ted Sorrensen. Presiden ke-4 itu memang dikenal piawai dalam mencairkan suasana, kapasitas ingatannya besar dan cerdas.

Santri tidak bisa dipisahkan dari aktivitas literasi. Di pesantren, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebuah budaya hidup. Saat membaca kitab kuning, Santri dilatih membaca teks Arab gundul (tanpa harakat) yang membutuhkan pemahaman tata bahasa (nahwu dan sharf) yang tinggi.

Saat menyimak santri memaknai kitabnya atau menerjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa lokal dengan simbol-simbol khusus (huruf hijaiyah), ini merupakan aktivitas literasi tingkat tinggi. Santri mencatat penjelasan kiai langsung di kitab mereka, menggabungkan proses mendengarkan, memahami, dan menulis. Metode itu disebut dengan bandongan. Dengan bekal itu, santri dapat membaca lagi sambil menerjemahkan per kata, dalam hal ini santri langsung praktik ilmu nahwu dan sharf untuk baca kitab gundul sekaligus menambah kosa kata bahasa Arab.

Selanjutnya dengan metode sorogan santri diwajibkan untuk membaca kitab dan menerjemahakannya dengan bimbingan langsung dari Kiai. Metode itu membuat santri efektif menguasai bacaan dan maknanya. Kiai juga dapat membimbing, mengevaluasi dan menilai secara langsung.

Konsolidasi Memori: Bagaimana Santri Mengikat Ilmu

Dalam psikologi kognitif, konsolidasi memori adalah proses di mana memori jangka pendek diubah menjadi memori jangka panjang yang stabil. Metode belajar tradisional santri sangat ilmiah dalam memicu proses ini melalui beberapa cara:

Sistem Hafalan:

Santri diwajibkan menghafal teks-teks penting seperti Imrithi, Alfiyah Ibn Malik, atau ayat Al-Qur'an. Proses mengulang-ulang hafalan ini secara biologis memperkuat sinapsis di otak, mengunci informasi ke dalam memori jangka panjang.

Derasan (Repetisi Berkelanjutan):

Aktivitas mengulang kembali hafalan atau bacaan kitab secara mandiri maupun berpasangan setelah salat subuh atau magrib. Repetisi berkala (spaced repetition) adalah kunci utama konsolidasi memori yang efektif.

Lalaran (Hafalan bersama), di lingkungan pondok pesantren ada tradisi atau kegiatan membaca, melafalkan, dan menghafal bait-bait nadzom secara berulang-ulang, biasanya dengan cara dilagukan bersama-sama maupun secara individu. Nadzhom merupakan kumpulan syair atau puisi berbahasa Arab yang berisi ringkasan materi ilmu-ilmu keagamaan seperti nahwu, sharaf, fiqih, tauhid, dan ilmu-ilmu lainnya yang disusun dalam bentuk bait-bait dengan pola rima tertentu.

Membaca bait-bait nadhom secara berirama bersama-sama. Melodi dan ritme membantu otak mengingat informasi lebih mudah (efek mnemonik). Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan ritme dan musik dapat meningkatkan aktivitas di area otak yang terkait dengan memori. Bagi santri, nadzom bukan sekadar rangkaian kata yang harus dihafalkan. Irama, pola bunyi, susunan bait, pengulangan, dan makna di dalamnya dapat menjadi sarana untuk membantu proses belajar dan mengingat.

Muthala'ah: Tradisi muthola’ah kitab salaf merupakan pilar utama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam serta merawat warisan pemikiran ulama pendahulu. Kegiatan ini tidak hanya menghidupkan tradisi ilmiah, tetapi juga mendukung terselenggaranya pendidikan agama yang berbobot dan berorientasi pada pemahaman Islam yang lurus.

Musyawarah (Fathul Kutub): Mendiskusikan masalah hukum atau teks kitab bersama santri lain. Debat dan diskusi aktif ini memaksa otak memanggil kembali (retrieval) informasi yang disimpan, yang merupakan cara terbaik untuk memperkuat konsolidasi memori.

Budaya literasi di pesantren bukan hanya tentang menumpuk informasi, melainkan tentang bagaimana informasi tersebut diinternalisasi. Melalui metode hafalan, repetisi, dan diskusi, terjadi konsolidasi memori yang kuat, sehingga ilmu yang dipelajari para santri tidak mudah hilang dan melekat menjadi karakter serta pemahaman yang mendalam hingga akhir hayat. Selamat hari santri 2026.