Bercita-cita sebagai Homework for Life Anak Bangsa

Sesdilu 79, Diplomat Muda di Kementerian Luar Negeri
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Muhamad Adam Aprisal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Homework for Life” merupakan salah satu bab dari buku berjudul Story Worthy karya Matthew Dicks yang memberikan tips agar kita dapat melihat hari-hari yang dilalui sebagai anugerah yang berharga, dengan menempatkan catatan-catatan kecil di penghujung hari tersebut. Memahami bagian ini membuatku tergelitik ingin bercerita, meski tanpa lawan bicara dan perasaan campur aduk karena akan segera kembali ke Indonesia.
Aku sedang berada di depan toko buku Ink by Hudson di Boston Logan International Airport saat mulai mengetikkan kata-kata ini, sembari menunggu pesawat Qatar Airways yang akan kutumpangi untuk perjalanan pulang, setelah menuntaskan Pendidikan Master of Arts di Fletcher School of Law and Diplomacy, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) yang dimulai sejak musim gugur 2024 lalu. Aku mulai berkontemplasi atas serangkaian peristiwa yang terjadi di dalam hidupku.

Aku memang biasa menyelipkan catatan-catatan dalam keseharianku. Tak semuanya berupa muatan substansi yang mendetail, kadang hanya segelintir kata-kata yang mampu memicu daya ingat tentang hal menarik apa yang terjadi di hari itu.
Toko buku ini mengingatkanku, betapa bacaan bahkan mampu membawa seorang anak pelosok negeri sepertiku untuk berani bermimpi jauh, melampaui batasan pandangan yang dulu berlatarkan Bukit Barisan Sumatra Selatan. “Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”, potongan kalimat Andrea Hirata, seorang penulis favoritku yang juga asalnya anak kampung ini menjadi pemantik semangat sejak masa sekolah menengah atas (SMA) dulu. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk menyiapkan diri dalam bermimpi sebagai modalitas dasar untuk suatu pencapaian. Sejak saat itu, kusiapkan diriku agar layak melanjutkan studi dan belajar hingga ke sekolah-sekolah terbaik di luar negeri, sebagai batu penjuru mimpiku. William Tanuwijaya, seorang tokoh muda lainnya juga berkata, "ketika mimpi itu kita pikirkan, mimpi itu berubah bentuk menjadi rencana. Lalu ketika rencana itu kita ucapkan, ia berubah lagi menjadi komitmen. Selanjutnya ketika komitmen kita lakukan, ia menjadi kenyataan. Kenyataan membuatnya satu langkah lebih dekat dengan tujuan".
Mimpi untuk bisa belajar di sekolah terbaik di luar negeri ini terus kupupuk, meski setelah belasan tahun merampungkan pendidikan sarjana dari Universitas Bengkulu, bergumul dengan hiruk-pikuk pekerjaan di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) sejak tahun 2015, dan memikul peran baru sebagai seorang ayah dalam urusan rumah tangga.
Aku ingat betul, di awal masa kerja di Kemlu RI, aku dan beberapa rekan ditugaskan untuk magang di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Kerajaan Arab Saudi. Dalam kesempatan itu, kami dipercaya mendampingi Presiden Republik Indonesia Ketiga, Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie yang menghadiri pertemuan Islamic Development Bank. Dalam suatu jamuan santap malam yang cukup tertutup, di meja makan di Hotel Intercontinental Jeddah, beliau menekankan pentingnya kepercayaan diri bagi anak negeri kita untuk melangkah. “Mengganti kata mimpi dengan cita-cita”, kurang lebih begitulah katanya, membuat makna mimpi yang lebih abstrak menjadi terukur dengan menerjemahkannya pada cita-cita.
Di tahun 2017, aku sempat mendaftar dalam beberapa program beasiswa. Namun, karena kesiapan yang belum maksimal, aku terpaksa tersingkir bahkan di proses awal seleksi. Setelah memutuskan menikah di akhir tahun 2018, pandanganku lalu terfokus untuk membangun karir terlebih dahulu agar kondisi dapur lebih stabil. Alhasil, tawaran untuk bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Vientiane, Republik Demokratik Rakyat (RDR) Laos untuk periode Agustus 2019-Juli 2022 kusanggupi. Peran baru sebagai seorang diplomat yang ditugaskan ke perwakilan Indonesia di luar negeri membuatku harus mengasah diri, salah satunya dalam kapasitas selaku promotor trade, tourism and investment (TTI) pada fungsi ekonomi di KBRI Vientiane. Maka kuputuskan untuk belajar berkomunikasi, di mana salah satu skill komunikasi paling efektif dalam upaya promosi ini adalah dengan mekanisme storytelling, atau bercerita. Pada kesempatan itulah aku berkenalan dengan Matthew Dicks melalui buku Story Worthy-nya.
Lalu tanpa diduga, pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembatasan maksimal akses perhubungan internasional membuatku harus tinggal di Laos, dan tidak bisa kembali ke Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Bahkan, di saat Ibu menderita sakit dan sejak masa kritisnya hingga akhirnya berpulangpun, aku tidak bisa hadir dan mendampinginya. Sebagai anak tunggal yang sangat dekat dengan kedua orangtua, khususnya almarhumah Ibu, kala itu kehilangan sosoknya membuat batinku sangat terpukul. Di Tengah masa kedukaan itu, membaca bab “Homework for Life” dari buku Matthew membuatku tergerak, untuk kembali membuka catatan-catatan lamaku, khususnya tulisan yang memuat memori tentang sosok Ibu.
Di antara masa berkabung itu, Aku mulai meramu semua tulisan yang sempat kusimpan dalam berbagai bentuk dan media, menggali berbagai kenangan dan menyusunnya dalam suatu garis waktu yang mampu kuceritakan, hingga berbentuk dua buku seri berjudul Ketupat Bengkulu dan Sarjana Tunda. Sejak saat itu, aku kembali aktif menuliskan rangkuman kegiatan harian agar aku tak kehilangan kenangan.
Saat Kembali ke Indonesia di tahun 2022, kesibukan sebagai petugas protokol yang mengatur berbagai agenda konferensi internasional, kunjungan pejabat tertinggi di Indonesia yang akan ke Luar Negeri serta pejabat tinggi asing ke Indonesia membuatku merasa perlu meningkatkan kapasitas diri melalui ilmu. Oleh karena itu, persiapan intensif kulakukan sejak akhir tahun 2023 untuk berbagai program seleksi beasiswa di awal tahun 2024. Meski di antara padatnya jadwal pekerjaan, aku tetap menyempatkan mengikuti kelas dan kursus intensif guna mematangkan persiapan untuk seleksi beasiswa dan pendaftaran kampus-kampus impianku di luar negeri.
Kebiasaan menulis nyatanya berpengaruh besar terhadap pengenalan dan cara menarasikan diri dalam mendaftar beasiswa. Terlebih, beberapa persyaratan beasiswa seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan USINDO yang kuikuti membutuhkan narasi tentang calon penerimanya dan tujuan masa depan terkait dengan hasil studinya kelak.
Sebagai seorang diplomat dengan latar belakang seorang anak kampung yang lahir dan besar di bawah kaki Bukit Barisan Kabupaten Lahat, acapkali kami tertidur di bawah pohon-pohon tinggi seperti Pohon Cempedak dan Durian yang juga berperan dalam menaungi kebun kopi. “Alam terkembang jadi guru”, begitulah pesan nenek moyang yang membumi di kebudayaan kami. Seperti Pohon Cempedak, Durian dan Kopi yang saling melengkapi tadi, aliran sungai dan pematang sawah yang berundak-undakpun sarat makna filosofis yang akhirnya kupakai dalam menjabarkan tujuanku untuk menuntut ilmu di negeri orang yang jauh, merantau orang kami menyebutnya. Suatu proses pengumpulan bekal hidup, yang kelak manfaatnya dapat dibawa pulang untuk dikembangkan demi kebaikan orang banyak di kampung halaman.
Dayung bersambut; berkat doa, usaha dan persiapan serta dukungan berbagai pihak, pada pertengahan tahun 2024 aku dinyatakan diterima untuk kedua beasiswa yang kudaftar tersebut. Setelah menyesuaikan relevansi jurusan yang ingin kuambil dengan pekerjaan yang kujalani saat ini, serta peluang kontribusi kedepannya, aku memutuskan untuk mengambil beasiswa USINDO dengan tujuan belajar di Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University di Massachusetts, AS, salah satu sekolah terbaik untuk jurusan diplomasi secara global yang terbukti menelurkan tokoh terkemuka seperti Kevin Rudd yang pernah menjabat sebagai perdana menteri (PM) Australia (2007-2010) dan Hassan Wirajuda yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI (2001-2009).
Saat berkuliah di Fletcher School aku banyak terpapar dengan kelas-kelas yang terkait dengan isu global seperti perubahan iklim dan inovasi seperti energi terbarukan sebagai upaya untuk menghadapinya. Aku bahkan sempat mengikuti kompetisi ide bisnis dengan mengangkat potensi energi terbarukan seperti mikro hidro di Indonesia, sebagai solusi energi bersih dan murah bagi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, untuk menjadi negara maju dengan akses energi yang cukup dan ramah lingkungan. Selanjutnya, kerja sama dengan Fletcher School dan Harvard University memberikan akses bagi insan akademis kedua kampus ini untuk saling belajar antara satu sama lain. Jadilah, akhirnya aku pada semester kedua menyempatkan mengikuti perkuliahan di Harvard Business School, khususnya di kelas fundraising untuk permodalan usaha baru. Rasanya, kalua kuingat lagi perasaan di awal tahun ini, aku merasa menjadi salah satu manusia paling beruntung dengan jalan hidup yang terkabulkan untuk menggapai salah satu Impian, belajar di salah satu kampus ternama di dunia.
Namun memang, tak semua perjalanan hidup berjalan mulus. Manusia akan selalu menghadapi dinamika yang menempah kemampuannya untuk terus beradaptasi dan tumbuh. Beberapa bulan menjelang kurampungkan pendidikan, kudapati kabar yang menghancurkan kepercayaan diri. Perlakuan seseorang yang sangat kupercaya ribuan kilometer jauhnya di Indonesia nyatanya mampu menghantam kepercayaan diriku hingga hancur, luluh lantak tak berbentuk.
Aku menjalani sisa-sisa masa perkuliahanku dengan menghitung hari, berharap segera aku dapat pulang ke Indonesia dan menyelesaikan semua ini. Dalam diam aku bergulat dengan semua praduga dan amarah. Nyatanya, Tuhan kembali menyuguhkan homework for life sebagai salah satu cara untuk menghadapi pergulatan ini. Pada kelas Leadership in a Public Sphere oleh Presiden Carlos Alvarado dari Kosta Rika (periode 2018-2022), tugas rutin yang harus kami sampaikan adalah mengirimkan email terkait tinjauan dari bahan bacaan yang dia berikan. Kala itu, tugas pertama yang dia berikan adalah bagaimana kami dapat belajar dari sosok Nelson Mandela, seorang pemimpin besar dari Afrika Selatan yang puluhan tahun hidupnya dihabiskan menentang ketidakadilan dan dalam penjara. Meskipun pada akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk naik ke tampuk pimpinan tertinggi di negaranya, Mandela memilih untuk memaafkan, bukan perlakuan abusif untuk membalas. Di kelas terakhir, aku akhirnya berkesempatan berbicara empat mata dengan Presiden Alvarado, dan menyampaikan rasa syukurku atas kelas ini, serta betapa banyak aku terbantu dalam menghadapi permasalahan di hidupku dengan mempelajari teladan dari berbagai sosok yang disampaikannya, termasuk Mandella.
Kini aku sudah merampungkan pendidikan masterku dan kembali ke Indonesia. Rupanya, Pelajaran yang kudapatkan di kampus tidak selalu tentang hubungan internasional yang menjunjung tinggi upaya perdamaian dunia. Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan dengan cara memaafkan tak kalah pentingnya.
Namun secara substansi, penerapan ilmu di kampus berjalan setali tiga uang seperti harapanku sebelumnya. Beberapa saat lalu aku bahkan menyusun naskah kebijakan yang terkait dengan ilmu yang kupelajari di AS, yaitu tentang upaya diplomasi energi Indonesia sebagai langkah mewujudkan komitmen global untuk mencapai target bebas karbon di tahun 2060 dalam tugas akhir pendidikan Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) ke 79 yang diperuntukkan bagi Diplomat Muda Indonesia.
Aku percaya bahwa ujian hidup akan selalu menghampiri. Namun, alih-alih mengutuki kejadian yang terjadi dalam kurun waktu yang mungkin belum dapat kita mengerti, ada baiknya untuk menempatkannya dalam catatan-catatan homework for life terlebih dahulu, sembari mencerna pelajaran yang dapat dipetik darinya. Upaya mewujudkan cita-cita tentu tak selalu mudah namun aku yakin, berangkat dari salah satu pelajaran terbaik yang kudapati di Massachusetts; bahkan musim dingin yang kelam akan berganti dengan musim semi yang dihiasi bunga-bunga yang menyembul indah, berwarna-warni sebagai pembukanya. Penanda semua akan ada masanya. Maka sebagai sesama anak bangsa, tak ada salahnya untuk terus saling menyemangati agar terus berani menggenggam cita-cita yang tinggi.
