Konten dari Pengguna

Uang, Kebahagiaan, dan Rasa Aman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adam Adhe Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keluarga di Singapura. Foto: imtmphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga di Singapura. Foto: imtmphoto/Shutterstock

Pertengahan Maret lalu, World Happiness Report (WHR) 2026 dirilis dan hasilnya seperti dejavu. Finlandia kembali dikukuhkan sebagai negara dengan skor kebahagiaan tertinggi sedunia, sembilan tahun beruntun, dengan skor 7,764 dari skala 0-10.

Namun, yang membuat saya berhenti sejenak bukan Finlandia, melainkan negara di posisi keempat: Kosta Rika, dengan skor 7,439, mengungguli Swedia dan Norwegia yang selama ini identik dengan kemakmuran Skandinavia. Padahal menurut estimasi IMF 2025, uang atau PDB per kapita Kosta Rika hanya sekitar USD19,1 ribu atau kurang dari sepertiga PDB per kapita Denmark (USD75 ribu) atau Finlandia (USD54,2 ribu)

Ada kejanggalan lain yang lebih dekat dengan kita. Dalam laporan yang sama, Indonesia berada di peringkat 87 dari 147 negara-kalah dari Vietnam, Thailand, Filipina, bahkan Malaysia. Namun survei Ipsos Global Happiness yang terbit terpisah justru menemukan 85 persen responden Indonesia mengaku dirinya bahagia, tertinggi di antara 29 negara yang disurvei. Lantas mana yang benar: peringkat 87 atau bahagia nomor satu?

Jawabannya adalah dua-duanya benar, karena keduanya mengukur hal berbeda. WHR memakai "tangga Cantril" yang membuat responden membayangkan angka terbaik dari 0 sampai 10 dan menilai posisi mereka hari ini, lalu skor itu dijelaskan lewat enam variabel: PDB per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan membuat pilihan hidup, kedermawanan, dan persepsi korupsi. Ipsos bertanya lebih sederhana, yaitu apakah Anda bahagia?

Di lain sisi, Daniel Kahneman dan Angus Deaton, ekonom peraih Nobel, sejak 2010 sudah membedakan dua hal ini: evaluative wellbeing (penilaian menyeluruh atas hidup, terus naik seiring pendapatan) dan experienced wellbeing (rasa senang harian, cenderung mendatar setelah kebutuhan dasar terpenuhi). Studi lanjutan Kahneman bersama Matthew Killingsworth pada 2023 mempertegas bahwa kebahagiaan mayoritas orang terus naik seiring pendapatan, tapi kelompok minoritas yang tak bahagia berhenti membaik di kisaran USD100 ribu per tahun.

Daniel Kahneman dan Angus Deaton, ekonom peraih Nobel, sejak 2010 sudah membedakan dua hal ini lewat studi atas lebih dari 450 ribu responden rumah tangga di Amerika Serikat: evaluative wellbeing atau penilaian menyeluruh atas hidup yang terus naik seiring pendapatan, dan experienced wellbeing atau rasa senang harian yang saat itu ditemukan mendatar di kisaran pendapatan rumah tangga USD75 ribu per tahun. Studi lanjutan Kahneman bersama Matthew Killingsworth dan Barbara Mellers pada 2023 mempertegas bahwa kebahagiaan mayoritas orang terus naik seiring pendapatan, tapi kelompok minoritas yang tak bahagia berhenti membaik di kisaran USD100 ribu per tahun.

Hasil penelitian di atas dapat dibaca bahwa uang mungkin lebih konsisten meningkatkan rasa aman dan penilaian seseorang atas hidupnya, ketimbang menjamin kegembiraan pada setiap hari yang dijalaninya. Hal ini sejalan dengan Easterlin Paradox yang sudah lama dikenal, yang menyebutkan bahwa dalam satu negara orang kaya cenderung lebih bahagia dari yang miskin, tapi ketika sebuah negara makin kaya dari tahun ke tahun, kebahagiaan rata-rata warganya belum tentu ikut naik.

Finlandia dan Denmark membuktikan uang bisa dikonversi jadi rasa aman lewat institusi. Rasio pajak terhadap PDB Denmark pada 2024 mencapai 45,2 persen dan Finlandia 42,2 persen, dua di antara yang tertinggi di dunia menurut OECD Revenue Statistics 2025.

Pajak setinggi itu diterima kembali dalam bentuk pendidikan dan kesehatan gratis, jaring pengaman sosial, serta kepercayaan tinggi pada institusi publik. Kosta Rika menempuh jalan berbeda dengan banyak mengalihkan anggaran pertahanan ke pendidikan dan pelestarian lingkungan sejak 1948 dengan ditopang ikatan sosial-keluarga yang kuat.

Fenomena ini kemudian oleh para peneliti disebut "paradoks Amerika Latin" di mana skor kebahagiaan yang jauh melampaui prediksi dari PDB semata. Sebagai pembanding, di dasar peringkat WHR 2026 ada Afghanistan (skor 1,446 dan PDB per kapita cuma USD418 menurut IMF) yang membuktikan bahwa di bawah ambang tertentu, kekurangan uang memang benar-benar mengikis kebahagiaan.

Artinya bagi Indonesia bukan meniru tarif pajak Nordik yang tak realistis secara fiskal maupun politik, melainkan meniru cara uang publik dikonversi jadi rasa aman warganya. Setidaknya ada tiga agenda yang bisa segera didorong.

Pertama, mempercepat penetrasi asuransi nasional. Penetrasi asuransi Indonesia baru 2,7 persen dari PDB per Februari 2025 (OJK), jauh di bawah Malaysia (3,8 persen) apalagi Singapura (7,4 persen). Insentif bagi produk asuransi mikro dan penyederhanaan proses klaim bisa mempercepat tertutupnya kesenjangan ini.

Kedua, memperluas cakupan pensiun wajib. Dari sekitar 144 juta angkatan kerja Indonesia, baru sekitar 23,6 juta pekerja atau 16 persen yang tercatat dalam program pensiun wajib. UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) sebenarnya sudah mengamanatkan program pensiun tambahan yang wajib, namun peraturan pemerintah sebagai aturan pelaksananya belum juga terbit.

Ketiga, menyandingkan perluasan cakupan dengan literasi. Literasi dan inklusi keuangan terkait dana pensiun di Indonesia pun masih rendah, masing-masing 27,79 persen dan 5,37 persen menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Oleh karena itu, memperluas cakupan program saja tak cukup tanpa dibarengi edukasi yang menjangkau langsung tempat kerja dan komunitas.

Ketiga langkah ini memang tidak akan membuat Indonesia mengejar Finlandia dalam semalam. Namun, dua dari enam variabel penjelas kebahagiaan dalam WHR, yaitu kebebasan membuat pilihan hidup dan dukungan social, merupakan yang paling dekat dengan wilayah kerja penguatan asuransi dan dana pensiun ini dan jauh lebih realistis untuk dikejar, ketimbang menunggu PDB per kapita naik setara Skandinavia.

Pada akhirnya, kebahagiaan sebuah bangsa bukan ditentukan oleh seberapa besar pendapatan per kapitanya, melainkan oleh sejauh mana negara mampu mengubah setiap rupiah yang dihimpunnya menjadi rasa aman yang bisa diandalkan rakyatnya esok hari.