Dampak Kesejahteraan Arus Modal Internasional

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Adam Putra Narendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Arus modal internasional adalah perpindahan dana lintas negara dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio, maupun pinjaman. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, arus ini sering dipandang sebagai sumber pembiayaan pembangunan yang sulit digantikan oleh tabungan do-mestik semata. Namun, besarnya dana yang masuk belum tentu sebanding dengan manfaat yang dirasakan masyarakat. Pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa banyak modal asing masuk, tetapi jenis modal apa yang masuk, ke sektor mana, dan seberapa stabil modal itu bertahan. Data 2026 memberi gambaran yang cukup lengkap tentang dua sisi arus modal tersebut.
Investasi Langsung: Modal yang Menetap dan Menyerap Tenaga Kerja
Bentuk arus modal yang paling dekat dengan kesejahteraan adalah investasi langsung, karena modalnya berwujud pabrik, tambang, dan usaha yang membutuhkan tenaga kerja. BKPM mencatat realisasi investasi triwulan I 2026 sebesar Rp498,8 triliun, naik 7,2% secara tahunan, dengan penyerapan 706.569 tenaga kerja atau naik 18,9%. Dari angka itu, Penanaman Modal Asing (PMA) sedikit lebih dominan, yakni Rp250 triliun atau sekitar 50,1%, dengan pertumbuhan 8,5%, lebih tinggi dibanding penanaman modal dalam negeri yang tumbuh sebesar 6,0%.
Tren berlanjut pada triwulan berikutnya. Realisasi investasi triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun, tumbuh 7,1% dan setara 25,1% dari target nasional, dengan 742.293 tenaga kerja terserap serta komposisi PMA sebesar 50,4%. Bagi masyarakat, angka penyerapan tenaga kerja ini penting karena pekerjaan baru berarti pendapatan rumah tangga, daya beli, dan perputaran ekonomi di sekitar lokasi usaha.
Sebaran daerahnya juga menarik. Pada triwulan II 2026, Maluku Utara menempati posisi pertama realisasi PMA sebesar Rp39,5 triliun, dan subsektor industri logam dasar menjadi yang terbesar dengan Rp81 triliun atau 15,8%. Artinya, modal asing tidak lagi hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Namun, manfaat bagi kesejahteraan daerah tetap bergantung pada kualitas lapangan kerja, keterkaitan dengan pelaku usaha lokal, dan pengelolaan dampak lingkungan. Aspek-aspek ini tidak tercermin dalam angka realisasi investasi sehingga perlu dipantau lewat kajian terpisah.
Dari Mana Modal Itu Datang?
Asal modal juga memengaruhi arah kerja sama ekonomi. Pada triwulan I 2026, lima negara investor terbesar adalah Singapura sekitar 4,6 miliar dolar AS, Hong Kong 2,7 miliar dolar AS, Tiong-kok 2,2 miliar dolar AS, Amerika Serikat 1,3 miliar dolar AS, dan Jepang 1 miliar dolar AS. Perlu dicatat bahwa angka realisasi BKPM berbeda cakupan dan metodologi dengan data investasi langsung dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang disusun Bank Indonesia, sehingga keduanya tidak boleh dijumlahkan atau disamakan begitu saja.
Neraca Pembayaran: Modal Masuk Menutup Defisit
Dari sudut pandang makroekonomi, arus modal membantu menutup kesenjangan antara devisa yang dibutuhkan dan yang diperoleh dari transaksi berjalan. Bank Indonesia melaporkan NPI triwulan II 2026 mengalami defisit 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibanding defisit 9,1 mil-iar dolar AS pada triwulan I 2026. Perbaikan ini ditopang transaksi modal dan finansial, yang mencatat surplus 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026, berbalik dari defisit 4,8 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Bank Indonesia menjelaskan bahwa investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi karena persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik, sedangkan investasi portofolio meningkat seiring naiknya imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Di sisi lain, data yang sama menunjukkan bahwa ketergantungan pada modal masuk tidak datang tanpa biaya. Defisit transaksi berjalan melebar menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3% dari PDB pada triwulan II 2026, dari 3,6 miliar dolar AS atau 1,0% dari PDB pada triwulan sebelumnya. Bank Indonesia juga mencatat bahwa defisit neraca pendapatan primer meningkat seiring pembayaran pendapatan primer. Pendapatan primer antara lain mencakup imbal hasil atas investasi asing. Dengan kata lain, makin besar modal asing yang tertanam, makin besar pula keuntungan dan bunga yang pada waktunya mengalir kembali ke luar negeri. Inilah alasan mengapa manfaat arus modal bagi kesejahteraan harus dilihat sebagai manfaat bersih, bukan sekadar jumlah dana yang masuk.
Investasi Portofolio: Cepat Masuk, Cepat Keluar
Karakter paling berbeda tampak pada investasi portofolio. Modal jenis ini bisa meninggalkan pasar dalam hitungan hari ketika persepsi risiko berubah. Sepanjang 2026, pergerakannya cukup fluktuatif. Nilai tukar rupiah cenderung melemah akibat aksi jual investor asing di pasar obligasi dan saham, dengan net sell asing mencapai Rp49,03 triliun di pasar saham secara year to date per 7 Mei 2026. Tekanan tersebut berdampak pada rupiah, yang pada 12 Juni 2026 sempat melemah ke level 17.959 per dolar AS.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar. Barang impor, bahan baku industri, dan komponen produksi menjadi lebih mahal, sehingga tekanan harga dapat menjalar ke kebutuhan sehari-hari. Karena itu stabilitas nilai tukar adalah bagian dari kesejahteraan.
Bank Indonesia merespons dengan instrumen kebijakan. Setelah BI menaikkan suku bunga acuan, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) menguat dan menarik kembali minat investor global. Hasilnya terlihat pada Juni 2026, ketika investor asing mencatat net inflow Rp21,03 triliun ke SBN dan Rp70,39 triliun ke SRBI, sementara di pasar saham asing masih melakukan net sell Rp19,63 triliun. Pola ini menunjukkan modal asing berpindah antarinstrumen, bukan hanya masuk atau keluar secara total. Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi untuk menarik modal juga punya konsekuensi, yaitu biaya pinjaman dalam negeri berpotensi ikut naik.
Apakah Arus Modal Selalu Menopang Rupiah?
Analis pasar mengingatkan bahwa penguatan rupiah tidak selalu berasal dari derasnya modal asing. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai bahwa pada September 2026 arus modal asing bersih hanya sekitar 0,13 miliar dolar AS, sehingga penguatan rupiah lebih dipengaruhi pelemahan dolar secara global dan membaiknya permintaan SBN. Ia juga berpendapat bahwa penguatan rupiah akan lebih sehat apabila dana asing lebih banyak masuk ke SBN dan investasi langsung, bukan hanya berpindah masuk-keluar dari SRBI. Pandangan ini sejalan dengan prinsip umum dalam literatur ekonomi bahwa modal jangka panjang lebih menopang pembangunan daripada modal jangka pendek.
Bukti Akademik: Hasilnya Beragam
Kajian akademik di Indonesia selama ini tidak memberi satu jawaban tunggal. Sebagian penelitian menemukan penanaman modal asing berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara penelitian lain, terutama pada periode yang lebih lama, menyimpulkan pengaruhnya kecil karena arus masuk bersih tergerus pembayaran utang dan transfer keuntungan. Perbedaan ini wajar. Dampak arus modal bergantung pada jenis modal, sektor tujuan, periode analisis, serta kualitas kebijakan yang menyertainya. Kajian terbaru juga mulai menggunakan laporan NPI Bank Indonesia sebagai dasar analisis, sehingga pembaca dapat menelusuri data primernya langsung.
Penutup
Arus modal internasional dapat meningkatkan kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan neraca pembayaran, dan pembiayaan pembangunan. Data 2026 mendukung sisi positif itu, antara lain serapan tenaga kerja yang tumbuh dan surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan II. Namun data yang sama menunjukkan sisi rentannya, yakni defisit transaksi berjalan yang melebar, pendapatan primer yang mengalir keluar, dan modal portofolio yang mudah berbalik arah sehingga menekan rupiah. Kesimpulannya, kesejahteraan tidak ditentukan oleh jumlah modal yang masuk, melainkan oleh kualitas dan stabilitasnya. Prioritasnya adalah menarik investasi yang menetap dan produktif, menjaga stabilitas makroekonomi, dan memastikan manfaatnya sampai ke masyarakat di berbagai daerah.
Daftar Pustaka
Semua sumber berasal dari lembaga atau media dalam negeri dan diakses pada 21 Oktober 2026.
1. Bank Indonesia. (2026, 21 Agustus). Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan II 2026 terjaga di tengah ketidakpastian global [Siaran pers]. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2816526.aspx
2. Bank Indonesia. (2026). Neraca Pembayaran Indonesia: Realisasi Triwulan II 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/NPI_Tw-II_2026.pdf
3. Kementerian Sekretariat Negara RI. (2026, 16 Juli). Investasi Triwulan II 2026 capai Rp511,8 triliun, pemerintah terus jaga iklim investasi. https://setneg.go.id/baca/index/investasi_triwulan_ii_2026_capai_rp5118_triliun_pemerintah_terus_jaga_iklim_investasi
4. ANTARA. (2026, 23 April). BKPM catat realisasi investasi triwulan I 2026 senilai Rp498,8 triliun. https://www.antaranews.com/berita/5538807/bkpm-catat-realisasi-investasi-triwulan-i-2026-senilai-rp4988-triliun
5. Katadata. (2026, 23 April). Realisasi investasi triwulan I 2026 capai Rp498,8 triliun, terbesar di Jakarta. https://katadata.co.id/finansial/makro/69e9a0d237cc7/realisasi-investasi-triwulan-i-2026-capai-rp498-8-triliun-terbesar-di-jakarta
6. JawaPos.com. (2026, 21 Agustus). BI catat neraca pembayaran kuartal II 2026 defisit USD 0,9 miliar. https://jawapos.com/ekonomi/2608210313/bi-catat-neraca-pembayaran-kuartal-ii-2026-defisit-usd-09-miliar
7. Bisnis.com. (2026, 8 Mei). Penyebab rupiah melemah pada 2026, investor asing keluar. https://market.bisnis.com/read/20260508/93/1972302/penyebab-rupiah-melemah-pada-2026-investor-asing-keluar
8. Katadata. (2026, 12 Juni). BI: Modal asing mulai masuk ke pasar SBN usai suku bunga naik. https://katadata.co.id/finansial/makro/6a2b7b74d8e5d/bi-modal-asing-mulai-masuk-ke-pasar-sbn-usai-suku-bunga-naik
9. Investortrust.id. (2026). Selama Juni 2026, sebesar Rp21 triliun dana asing masuk SBN dan Rp70 triliun masuk SRBI. https://investortrust.id/macro/108407/selama-juni-2026-sebesar-rp-21-triliun-dana-asing-masuk-sbn-dan-rp-70-triliun-masuk-srbi
10. Kontan. (2026, 13 September). Arus modal asing belum deras, otot rupiah masih ditopang SBN. https://investasi.kontan.co.id/news/arus-modal-asing-belum-deras-otot-rupiah-masih-ditopang-sbn
11. Analisis Neraca Pembayaran Indonesia pada Triwulan II Tahun 2026. Jurnal JERKIN. https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/download/8098/5804/45034
12. Wahyuni, U., & Putri, D. Z. Pengaruh Arus Modal Masuk (Capital Inflow) terhadap Perekonomian di Indonesia. Jurnal Ecosains, 8(2), 109–120. Universitas Negeri Padang. https://ejournal.unp.ac.id/index.php/ekosains/article/download/115226/105665
