Meneruskan Bisnis Keluarga Tak Segampang Membalik Telapak Tangan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari adawiya durrotul hikma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang saat ini berpikir bahwa lebih baik melanjutkan bisnis keluarga daripada memulai sendiri. Tetapi kenyataannya berbeda, menjalankan bisnis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harapan dan kepercayaan yang tinggi dari berbagai pihak merupakan tantangan bagi generasi selanjutnya.
Hal ini juga dialami oleh salah satu Mahasiswa UMY Argo (21) yang memutuskan untuk meneruskan toko sepeda milik kakeknya, Sudiono. Butuh usaha dan tekad lebih untuk mempertahankan kesuksesan yang diraih kakeknya. Dulunya sang kakek hanya menjual sepeda di pasar dengan jenis sepeda yang terbatas, pendapatan yang dihasilkan juga sekitar 300 Ribu. Tetapi sang kakek memberikan keunggulan dari tokonya, dia menyediakan layanan servis, tukar tambah, dan jual beli. Jadi masyarakat yang datang ke tokonya tidak hanya membeli sepeda saja. Hal itu dilakukan untuk memancing para pengunjung pasar.
Seiring berjalan waktu, toko itu diteruskan kepada Argo yang sebelumnya dipegang Ibunda. Toko mulai lagi dari awal dengan tempat yang berbeda, yaitu di samping rumah. Berawal dari tanah kosong yang tidak luas, sekarang toko itu mempunyai banyak karyawan dan tempat yang luas. Masih dengan keunggulan yang sama yaitu servis, tukar tambah, dan jual beli kini bertambah dengan berbagai macam aksesoris untuk sepeda yang dipajang.
Meski menyandang predikat sebagai penerus usaha, Argo tidak langsung menginginkan posisi istimewa ini. Argo menjelaskan bahwa memang benar sejak kecil sudah diajak membantu. Mulai dari belajar di kasir, proses pemesanan sepeda, bagian pelayanan, memahami sepeda, hingga di bagian servis. Ditambah lagi Argo sudah dibekali ilmu kewirausahaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. “Kalau keraguan pasti ada, bahkan tidak di awal saja. Pasti bisnis itu ada resikonya, kita terima saja resikonya yang penting ada untungnya mengapa tidak dicoba,” ujar Argo yang merupakan putra tunggal keluarga.
Tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah mempertahankan pelanggan setia dan mencari pelanggan potensial baru untuk datang ke toko sepeda. Butuh usaha lebih untuk menjaring mereka dan memenangkan persaingan karena saat ini makin banyak pemain di bidang yang sama. Diperlukan program pemasaran yang tepat untuk mempertahankan kesuksesan usaha yang dirintis kakeknya sejak tahun 1990 ini.
Pertama-tama Argo mengembangkan Media Sosial yang dia kuasai, yaitu Instagram dan Google. Argo sadar bahwa di era yang makin modern seperti saat ini, konsumen lebih memilih mencari informasi mengenai produk dan jasa mereka melalui media sosial dibandingkan harus jauh-jauh datang langsung. Media sosial tersebut berisi profil usaha toko Raihan Bike Shop, stok sepeda yang ditawarkan dari berbagai merek lengkap dengan spesifikasi dan harga serta jasa yang mereka tawarkan.
“Untuk di google maps, kami meminta pelanggan untuk menuliskan review dari layanan kami, tidak hanya untuk evaluasi dari toko kami tetapi juga sebagai bahan acuan pembeli lain yang melihat review di toko kami. Untuk Instagram, kami memberi tahu stok sepeda yang ada di toko," lanjut pria kelahiran Agustus 2001 ini.
Untuk menjaring pelanggan potensial, Penempatan toko sangat strategis.
"Toko kami punya target pasar tuh di daerah sleman awalnya, karena kalau di kota sudah banyak toko sepeda. Tempat kami juga strategis karena dekat juga untuk masyarakat magelang. Karena awalnya masih di daerah perkampungan, kami memberikan harga lebih menengah ke bawah. Dibuat harga menengah agar lebih cepat laku, mungkin paling mahal Polytron," jelas Argo.
Kini toko sepeda yang dulunya hanya tanah kosong, bisa Argo kembangkan. Sekarang Raihan Bike Shop sedang pembangunan untuk toko kedua. Argo secara tidak langsung memberikan lapangan pekerjaan kepada banyak pegawainya, dia juga membuat inovasi dengan memberikan seragam untuk pegawainya agar pelanggan dan pegawai nyaman. Dan ke depannya dia ingin menjual lewat platform daring, dan membuat tim di bidang marketing dan urusan platform daring.
“Banyak sekarang orang memulai usaha dengan mudah, bisa lewat bank, lewat pinjol. tetapi mempertahankan dan mengembangkan itu yang sulit, apalagi harus ikut perkembangan zaman,” jelas Argo.
