CATATAN PERJALANAN KE JAKARTA ; SEMRAWUTNYA IBU KOTA

Tulisan dari Addarori Ibnu Wardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia selalu menarik perhatian dari masyarakat urban untuk mengadu nasib, liburan, dan agenda kunjungan yang lain. Saya sebagai orang desa, boleh lah merasa keren karena beberapa kali sudah nyampek ke Ibu Kota. Akan tetapi, dari awal sampai pada di Daerah yang katanya “Khusus Istimewa”, saya tidak pernah tertarik untuk berlibur kesana, apalagi menetap disana. Alasannya cukup Klise, yaitu Macet.
Beberapa hari ini saya mendapati pengalaman dan pengalaman cukup berharga, karena bisa bertemu dengan Seorang Supir yang wawasannya menurut saya luar biasa. Belum lagi, aku bertemu dengan kehidupan nyata yang sebelumnya aku pikir hanya ada di Senetron yang episodenya gak habis – habis. Misal, seorang bapak yang hanya menggunakan kaos tipis menggendong seorang anak kecil yang tidak menggunakan baju, lalu di genggaman tangannya membawa karung yang berisi rongsokan tapi tidak meminta – minta, sementara Tidak sedikit pengamen yang mampir ketempat Tongkrongan, justru memiliki baju bagus, badan sehat, dan Gitar yang kalau aku sendiri beli gak mampu (Baca, Bagus).
PERTAMA : Curhatan Supir Taksi Online
Pengalaman pertama saya ketemu dan berdiskusi dengan Supir Taksi Online yang mengaku orang asli padang, tapi sudah lama menetap di Jakarta. Beliau bercerita sebuah ketidak adilan dari sistem angkutan yang berbasi Online. Apa sebabnya? Saya rangkum, Aplikasi angkutan Online seperti Gojek, Grabb, dan aplikasi yang lain sebenarnya sama dengan aplikasi toko online. Tugasnya, sebenarnya adalah, mempertemukan antara supir taksi dengan penumpang yang memesan. Bedanya, kalau toko online seperti Bukalapak, Tokopedia, OLX dan yang lain, pihak penyedia layanan aplikasi tidak sampai berbicara mengenai tarif. Harga ditentukan oleh pihak penjual. Sementara, kalau penyedia layanan aplikasi angkutan online, mereka sampai ‘Mengintervensi’ yang namanya tarif. Jadi, penumpang yang memesan, membayar sesuai dengan tarif yang tertera di aplikasi yang ia pesan.
Semakin hari, penyedia aplikasi angkutan online tersebut membuat target agar para supir tadi bisa mendapatkan bonus, malah semakin gila – gilaan. Katanya, ada salah satu Aplikasi Jasa angkutan umum itu memberikan target minimal 16 trip atau perjalanan dalam sehari untuk mendapatkan Bonus. Di Jakarta, terget tersebut bisa sampai mencret. Sebab, lagi – lagi, faktornya adalah kemacetan. Bayangkan saja, saya pernah pesan dan, menunggu taksi onlinenya yang menerima order, 30 menit dari perjalanan 1 kiloan tidak nyampek juga. Akhirnya, pak supirnya minta cancel sendiri. Maka dari itu, Para supir online ini justru lebih tertarik dengan trip pendek – pendek.
Parahnya lagi, pihak penyedia aplikasi tersebut, justru mengukur secara haris besar hanya dari jarak tempuh. Lalu, persoalan kemacetan yang terjadi di Ibu Kota, mereka tidak terlalu, atau bahkan mungkin mereka tidak bisa memprediksi. Kalau di aplikasi Taksi online di Jakarta sudah mencapai 100 ribu untuk transport, kalau didaerah lain bisa sampai perjalanan 100 KM. Mungkin mereka hanya menggunakan asumsi, misal, di Jarkarta dari jam sekian sampai jam sekian biasanya macet. Udah begitu aja. Padahal, mereka tidak tau, seberapa panjang kemacetan yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, supir dirugikan. Pada Akhirnya, pihak penyedia aplikasi tidak bisa mengetahui secara Real seberapa banyak konsumsi BBM yang digunakan.
Lalu, cerita berikutnya adalah, prilaku penumpang yang entah mau saya beri Nilai Cerdas atau Psikopat karena dengan mudah menekan menu Cancel atau membatalkan pesanan karena alasan macem – macem. Biasanya, kata supir yang saya ikuti ini, mereka mempunyai banyak aplikasi, sehingga mereka dengan bersamaan memesan, lalu membatalkan salah satu dari mereka yang lebih murah beberapa ribu rupiah saja, atau mereka mencari taksi online yang paling cepat sampai di penjemputan si penumpang tadi.
Supir taksi Online yang saya ikuti ini bahkan cerita, sebelum menerima orderan saya, dia sudah menerima orderan orang lain, lalu, ketika sampai ditempat penumpang yang mau dijemput, penumpang tadi membatalkan. Kejadian ini, membuat sang supir rugi dua kali. Pertama, mereka jelas rugi waktu dan perjalanan. Hal ini tidak usah saya jelaskan, pembaca semua mungkin sudah paham. Kedua, supir tersebut bisa kehilangan bonus atau yang sebagian penyedia aplikasi menyebut ‘jaminan’ pendapatan. Sebab, untuk mendapatkan jaminan pendapatan itu, mereka harus menyelesaikan beberapa trip yang disesuaikan dengan target itu tadi, serta menjaga rating yang biasanya diisi oleh penumpang yang sudah selesai diantar. Dan, pembatalan yang dilakukan oleh seorang penumpang itu, sangatlah mempengaruhi pada rating dari sang supir. Bayangkan, jika seorang supir sudah menyelesaikan 15 trip, lalu tinggal satu trip lagi untuk mencapai target, bisa – bisa katanya sang supir harus menambah beberapa trip lagi agar bisa mendapatkan bonus tersebut.
Disisi lain, pihak penyedia aplikasi dengan mudah mendapatkan laba dari banyaknya pengunjung yang ngeklik setiap hari. Rumus dasar aplikasi seperti itu sama kiranya dengan main blog, youtube, web dan lain – lain yang berbau internet. Semakin banyak pengunjung, semakin banyak sponsor yang melirik, dan disitulah, pundi – pundi laba masuk ke kantong masing – masing pemilik. Belum lagi, kerjasama antara aplikasi dengan perusahaan lain, semisal Perusahaan Finance, atau Perbankan dengan metode pembayaran Elektronik.
KEDUA : Macet
Selanjutnya, aku ketemu dengan ibu – ibu saya taksir umurnya sudah lebih dari 55 tahun membawa tas banyak sendirian. Waktu itu, saya mau masuk ke ruang tunggu penumpang atas Bandara Soekarno – Hatta jam 13.00 wib kurang lebihnya begitu. Ibu tersebut tertunduk lesu balik dari arah pintu pemeriksaan. Melihat dari jauh, aku merasa sangat tidak tega sekali, akhirnya, ‘Iseng’ saya tanya ; “Ibu kenapa?”. Beliau menjawab “Saya ketinggalan Pesawat. Saya mau ke Jambi. Tadi pesawatnya berangkat jam 12.30 Wib”. Lalu saya tanya lagi, “Lalu bagaimana bu?”. Beliau menjawab “ya sudah mau gimana lagi? Tadi saya sudah pakai taksi, tapi macet dimana – mana. Saya mau sholat dulu biar tenang pikiran, nanti beli tiket lagi”.
Mendengar jawaban ibu itu, saya tertegun sejenak, lalu melihat aplikasi yang menyediakan layanan pemesanan tiket secara online. Bukan bermaksud membelikan tiket , tapi sekedar cek harga tiket Jakarta – Jambi. Saya bisa mengelus dada, harga tiket paling murah waktu saya cek sekitar 400.000 an paling murah. Gara – gara kemacetan, ibu tadi kalau saya asumsikan yang harga paling murah tersebut, beliau harus mengeluarkan uang 800.000 rupiah karena tiket pertama hangus. Dengan uang 400 ribu yang menjadi sia – sia, jelas ibu itu tidak bisa meminta ganti pada siapapun. Karena macet, uang 400.000 itu melayang, ibu itu hanya menjawab mau bagaimana lagi? Lalu pasrah pada Tuhan. Luar biasa Ibu Kota ini.
Kemacetan yang membuat semua orang muak, sampai sekarang tidak ketemu ujung pangkalnya. Itu mungkin aku ketemu sama satu orang saja dalam beberapa jam. Entah ada berapa puluh orang, atau ratus orang, atau mungkin ribuan orang mengalami keterlambatan yang merugikan banyak hal karena kemacetan. Disisi lain, diperjalanan saya melihat mobil – mobil baru yang besar besar dan CC tinggi hanya berisi seorang supir bukanlah sebuah pemandangan asing. Agak aneh sih, kita yang gak bisa membuat mobil, justru merasa keren jika kemana – mana pakai mobil agar dianggap Keren dan Gaul, atau meningkatkan Great Penampilan. Sementara di Jepang, tempat dimana mobil yang menguasai pasar otomotif Indonesia, justru menganggap Kampungan kepada orang yang suka pakai mobil.
Solusi Mengatasi Kemacetan Menurut Satu Supir Taksi Online
Malam hari sebelum saya balik ke Lampung, saya kembali kembali berdiskusi dengan Supir Taksi Online perjalanan dari daerah Salemba. Banyak hal yang didiskusikan, dari Politik hingga Kemacetan. Sedikit tentang Politik, Masyarakat Jakarta secara umum lebih banyak yang tidak peduli siapapun Pemimpin mereka. Yang mereka pikirkan, bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan hidup di Ibu Kota. Bisa makan, dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Pilkada, Pileg, Pilpres dan Pil – pil yang lain sebenarnya menurut mereka tidak banyak berpengaruh dengan kehidupan mereka, utamanya dibidang Ekonomi. Mereka yang ribut – ribut, hanya sebagian orang yang melek politik saja yang mengikuti perkembangan politik Jakarta, karena justru, pembangunan Jakarta malah lebih mempermudah masyarakat kota atau kabupaten pinggiran mudah masuk Jakarta. Contoh, pembangunan – pembangunan Jalan Tol, justru hanya membuat warga bekasi, tangerang, dll mudah tumpah ke Ibu Kota. Lagi – lagi, hal tersebut justru malah nambah kemacetan di Ibu Kota.
Justru, kata supir tersebut, untuk mengurangi kemacetan, Pemerintah harusnya membangun secara merata Insfrasturktur ke Daerah diluar Jakarta bahkan Luar Jawa. Dengan begitu, Insfrastruktur merata, Pola Pikir masyarakat yang awalnya hanya berpikir, Ekonomi berpusat di Jakarta akan berubah. Efeknya, masyarakat Urban ke Ibu Kota akan semakin sedikit karena pemerataan pembangunan Insfrastruktur akan berbanding lurus dengan pemerataan Ekonomi.
Pemerintah DKI Jakarta berulang kali mencoba aturan lalu lintas untuk mengurangi kemacetan tapi gagal. Misal, Ganjil – Genap, lalu 3 in 1 yang melahirkan Joki 3 in 1 bayaran, supir ini mencoba memberikan solusi. Sayangnya, solusi bapak ini mungkin tidak di dengar oleh Pemerintah. Apa itu? Tarif Parkir di Pusat perkantoran, perbelanjaan dan pusat bisnis dimahalkan. Asumsinya misalkan tarif perjam 30.000. Jika seseorang sehari kerja memarkir kendaraan hingga 8 jam, maka sehari 240.000, sebulan 7.200.000. Belum lagi biaya BBM yang harus dikeluarkan sehari – hari. Karena kalau ganjil – genap itu masih memungkinkan seseorang mempunyai 2 mobil dengan plat ganjil dan genap. Ada pengecualian untuk tempat parkir yang berada di pinggiran kota jakarta. Jadi, orang mau beraktivitas di daerah Jakarta, harus parkir ke pinggiran, lalu naik angkutan umum untuk sampai pada tujuan, Atau, berani bayar mahal dan akhir pekan.
Akan tetapi, proyek Pembangunan Transportasi masal yang cepat dan nyaman harus segera diselesaikan. Artinya, perjalanan yang dari daerah Thamrin ke Bandara berangkat Jam 09.00 an nyampek jam 12.00 kurang beberapa menit, bisa lebih cepat karena sesuai jadwal. Atau orang Bandung yang ada keperluan di Jakarta jam 12 siang gak harus berangkat jam 05.00 lagi. Oleh sebab itu, bagian penutup, mari kita mendukung ataupun mendesak pemerintah untuk membangun semunya, membangun Insfrastuktur yang sama antara jawa, sumatera, kalimantan hingga papua.
Jadi, kita seharusnya mulai belajar berpikir lebih berpikir dewasa untuk kesemrawuran Jakarta. Bagi yang suka pakai motor diatas trotoar, terus seorang yang suka pakai mobil tapi isinya Cuma satu orang saja semua itu segera dibuang. Kepada pemerintah, mewakili mereka yang saya jadikan sumber disini, ya aturlah kesemrawutan di Jakarta. Kalau Jakarta Bebas dari kemacetan akan berbanding lurus dengan kestresan yang masyarakat. Kalau sudah bisa begitu maka, Ibu Kota akan menjadi semakin meratik untuk dikunjungi.
Salam.
NB : Untuk nama sumber, lalu kapan keterangan tanggal juga sengaja untuk kepentingan Privasi.
