Konten dari Pengguna

Dayat, Ketika Hati Nurani Menjadi Kompas Hidup Seorang ASN

Hidayatullah (Pria berkaos hitam) menyalurkan bantuan makanan (sumber foto : YRAP)
zoom-in-whitePerbesar
Hidayatullah (Pria berkaos hitam) menyalurkan bantuan makanan (sumber foto : YRAP)

Ada orang yang melakukan kebaikan karena memiliki banyak rezeki seperti Cristiano Ronaldo (CR7).

Ada pula yang memilih menolong justru setelah merasakan bagaimana rasanya pahit getir berada di titik paling sulit dalam hidup.

Hidayatullah (42 tahun) seorang Aparatur Sipil Negara ( ASN ) RSKO Jakarta, atau yang akrab disapa Dayat, termasuk dalam kelompok kedua.

Ketika saya bertanya apa yang membuatnya begitu aktif dalam berbagai gerakan sosial ? jawabannya sederhana, tetapi membekas.

"Saya sering membayangkan, bagaimana kalau posisi itu dibalik. Bagaimana kalau saya yang membutuhkan pertolongan, lalu hanya ada satu orang yang bisa membantu?"

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ia lahir dari pengalaman hidup yang tidak mudah.

Dayat bersama puteranya Adelio yang mengidap Poland Syndrome (sumber foto : Hidayatullah)

Putranya, Adelio, merupakan anak dengan kebutuhan khusus yang mengidap Moebius Syndrome dan Poland Syndrome, penyakit langka yang membuat Dayat dan keluarganya harus menjalani perjuangan panjang.

Dari situlah empatinya tumbuh semakin dalam. Ia tahu rasanya berharap ada tangan-tangan baik yang datang tanpa diminta.

Namun jauh sebelum dikenal sebagai penggerak berbagai aksi sosial, Dayat awalnya seorang marbot Masjid RSKO Jakarta.

Tahun 2002, selepas lulus SMA, ia menerima amanah mengurus Mushola dari pagi hingga sore di RSKO Jakarta saat masih di kawasan Fatmawati (saat ini sudah di Cibubur, Jakarta Timur).

Membersihkan Mushola, menyiapkan kebutuhan ibadah, hingga memastikan rumah Alloh SWT selalu siap menyambut jamaah menjadi rutinitas hariannya.

Perlahan, kepercayaan kepadanya bertambah. Ia mulai dipercaya menjadi imam sholat, lalu suatu hari, karena khatib yang dijadwalkan berhalangan hadir, Dayat dipercaya menjadi Khatib Sholat Jumat.

Ia mengaku sempat gemetar.

Saat ini Dayat dipercaya sebagai bendahara Masjid Al-Hijrah RSKO Jakarta dan tetap menjadi pengurus kebersihan.

Di luar aktivitas keagamaan, perjalanan kariernya di RSKO Jakarta juga berkembang.

Berawal sebagai tenaga honorer, kemudian dipercaya berkerja berbagai unit kerja, hingga akhirnya diangkat menjadi ASN (2009).

Meski berpindah-pindah tugas, satu hal yang tidak pernah berubah adalah keinginannya untuk membuat tempat kerjanya menjadi ruang yang lebih peduli terhadap sesama.

Semangat itu melahirkan Gerakan Koin untuk Pendidikan RSKO Jakarta pada november 2012 bersama beberapa rekannya – Andri Mastiyanto & Hani Titi Sari.

Gerakan tersebut berkembang menjadi Gerakan RSKO Peduli dengan 15 penggerak di RSKO Jakarta.

Hidayatullah (berseragam putih Kemenkes RI) bersama penggerak Gerakan RSKO Peduli menyerahkan bantuan kepada istri Pak Rully (sumber foto : dokpri)

Ide mereka sangat sederhana. Bukan hanya mengumpulkan uang dalam jumlah besar, melainkan mengajak siapa saja menyisihkan receh sekaligus menjalin silahturahmi..

Sedikit demi sedikit, koin-koin itu berubah menjadi harapan bagi anak-anak yang membutuhkan bantuan pendidikan, santunan anak yatim dan juga sumbangan bagi rekan-rekannya yang tertimpa musibah.

Yang menarik, Dayat percaya bahwa gerakan sosial tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Gerakan RSKO Peduli saat melaksanakan Hari Pengumpulan Donasi (sumber foto : dokpri)

Menurutnya, kebaikan justru lebih mudah menular ketika semua orang merasa mampu melakukannya.

Filosofi yang sama ia bawa sebagai salah-satu penggerak Nabung untuk Qurban di RSKO Jakarta (2020). Jika orang mampu mencicil kendaraan setiap bulan, mengapa tidak mencicil ibadah?

Namun titik balik terbesar dalam hidupnya justru datang dari keluarganya sendiri.

Saat Adelio lahir dengan kondisi berkebutuhan khusus, Dayat merasakan betul bagaimana beratnya perjuangan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Ia merasakan kecemasan, ketidakpastian, sekaligus kehangatan dari begitu banyak orang yang memberikan dukungan.

Pengalaman itu membuatnya berpikir bahwa bantuan yang pernah diterimanya harus diteruskan kepada orang lain.

Hidayatullah (berkaos hitam) menyerahkan bantuan saat Covid-19 (sumber foto : YRAP)

Bersama sang istri, ia mendirikan Gerakan Sahabat Adelio (7 Juli 2017) yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Rumah Adelio Peduli ( 2019 ).

Awalnya mereka mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi ketika pandemi datang, gerakan itu berubah menjadi kekuatan sosial yang membantu masyarakat terdampak Covid-19 (2020) melalui pembagian sembako, dukungan bagi pasien isolasi mandiri, hingga meminjamkan tabung oksigen secara gratis kepada mereka yang membutuhkan.

Yayasan Rumah Adelio Peduli bergerak dalam pembiayaan rutin galang dana Kitabisa.com setiap bulan bagi 11 (sebelas) anak kebutuhan khusus, santunan anak yatim, korban bencana ke berbagai daerah dan layanan ambulans 24 jam.

Menariknya, Dayat tidak pernah merasa dirinya luar biasa.

Baginya, kunci agar sebuah gerakan sosial tetap hidup hanyalah tiga hal: berkolaborasi, bekerja sesuai kemampuan, dan istiqamah.

Ia percaya bahwa amal tidak selalu diukur dari besarnya bantuan, tetapi dari konsistensi untuk terus memberi manfaat.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang merasa nyaman bekerja bersamanya. Ia tidak mengajak orang melakukan sesuatu yang sulit.

Ia hanya menunjukkan bahwa setiap orang bisa memulai dari hal kecil.

Menjadi pengurus masjid dengan sepenuh hati.

Mengumpulkan coin dan uang receh.

Menyisihkan sedikit rezeki untuk berkurban.

Mengantarkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Di tengah dunia yang sering mengukur seseorang dari jabatan dan pencapaian, Dayat mengingatkan bahwa ukuran seorang manusia sesungguhnya mungkin jauh lebih sederhana: seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, pahlawan tidak selalu berdiri di atas panggung. Kadang mereka hanya berjalan pelan, mengajak bersedekah, meminjamkan tabung oksigen, atau mengurus Masjid.

Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari menjadi seorang ASN yang mengabdi, bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada sesama manusia.