Konten dari Pengguna

Naiknya Harga BBM yang Mempengaruhi Angka Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan

ADE CHARISSA CHAIRUNNISA
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang
9 Oktober 2022 14:25 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari ADE CHARISSA CHAIRUNNISA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi. Kenaikan harga BBM di Pertamina (Foto: Buatan Sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Kenaikan harga BBM di Pertamina (Foto: Buatan Sendiri)
ADVERTISEMENT
Akhir-akhir ini banyak perbincangan publik tentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau orang-orang biasa menyebutnya BBM yang mempengaruhi daya beli masyarakat, serta berdampak pada angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.
ADVERTISEMENT
Hal ini secara resmi ditetapkan oleh pemerintah yang diberitahukan oleh Presiden Joko Widodo tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan non-subsidi pada 3 September 2022 yang bertepatan pada hari sabtu dengan ketentuan harga BBM subsidi pertalite dari harga Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10 ribu per liter, subsidi solar akan naik dari harga sebelumnya Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter, pertamax non-subsidi naik dari harga sebelumnya Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter Dihargakan ke rupiah.
Dari pengumuman yang terkesan mendadak itu, banyak orang yang mengungkapkan rasa frustrasi dan kekecewaannya atas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM.
Meskipun tidak sering diamati, kenaikan harga bahan bakar akan menekan biaya produksi, sehingga berdampak pada angka pengangguran, dan memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan efisiensi produksi. Oleh karena itu, perusahaan harus mengambil keputusan untuk menunda proses perekrutan karyawan baru sampai dengan pemutusan hubungan kerja paksa (PHK).
ADVERTISEMENT
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan tingkat pengangguran diperkirakan akan naik 0,002 poin persentase. Berdasarkan data daftar terbaru hingga Februari 2022, tingkat pengangguran adalah 5,83%.
Selain meningkatnya pengangguran, kenaikan harga BBM juga berdampak pada kemiskinan. Mengapa demikian? Sebab, jika kenaikan harga BBM dapat meningkatkan proporsi pengeluaran pekerja, seperti buruh, maka pengeluaran lain perlu di pangkas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Artinya, kenaikan harga BBM dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menyebabkan perbedaan harga barang dan jasa lainnya.
Pemerintah Indonesia telah menaikkan harga minyak tanah (BBM) karena sekitar 70% dari subsidi bahan bakar untuk kelompok orang mampu. Alasan lain adalah lonjakan anggaran subsidi dan kompensasi untuk 2022 dari semula Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun.
ADVERTISEMENT
Pemerintah menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi tiga kali lipat. Dalam hal ini, kenaikan subsidi untuk BBM dan elpiji dari Rp77,5 triliun ke Rp149,4 triliun, serta untuk listrik dari Rp56,5 triliun naik ke Rp59,6 triliun. Kemudian, kompensasi untuk BBM dari Rp18,5 triliun menjadi Rp252,5 triliun dan kompensasi untuk listrik dari semula Rp0 menjadi Rp41 triliun.
Sehingga, total subsidi dan kompensasi untuk BBM, elpiji, dan listrik itu mencapai Rp502,4 triliun
Di atas segalanya, jika masyarakat dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, subsidi bahan bakar dapat membantu membangun infrastruktur angkutan umum yang nyaman, aman dan terjangkau, mendorong masyarakat untuk beralih dari mobil pribadi ke angkutan umum, sehingga kemacetan dan kebingungan lalu lintas dapat dikurangi.
ADVERTISEMENT