Konten dari Pengguna

Public Speaking: Bukan Tidak Punya Pendapat, Kita Hanya Takut Dinilai

Ade Fitri

Ade Fitri

mahasiswa universitas pamulang jurusan manajemen bisnis

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa sedang melakukan presentasi di kelas. Foto: Kampus Production/Pexels.Sumber foto: Pexels – Kampus Production, “Young student making presentation to classmates and teacher”https://www.pexels.com/photo/young-student-making-presentation-to-classmates-and-teacher-5940831/
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa sedang melakukan presentasi di kelas. Foto: Kampus Production/Pexels.Sumber foto: Pexels – Kampus Production, “Young student making presentation to classmates and teacher”https://www.pexels.com/photo/young-student-making-presentation-to-classmates-and-teacher-5940831/

Public speaking bukan hanya soal berbicara di depan banyak orang. Pernah tidak, kita sebenarnya tahu jawaban ketika dosen bertanya di kelas, tetapi tangan terasa berat untuk diangkat? Di kepala sudah ada jawaban, bahkan sudah menyusun kalimat yang ingin disampaikan. Namun, muncul pikiran seperti, “Kalau jawaban aku salah bagaimana?”, “Nanti diketawain tidak?”, atau “Kalau cara ngomongku berantakan bagaimana?”

Kondisi seperti ini sering berkaitan dengan public speaking anxiety atau kecemasan saat berbicara di depan orang lain. Banyak orang sebenarnya bukan tidak mempunyai pendapat atau tidak memahami apa yang ingin disampaikan. Masalahnya justru muncul karena terlalu memikirkan penilaian orang lain. Public speaking sering dianggap sebagai kemampuan untuk berbicara dengan percaya diri di depan banyak orang, padahal dalam kehidupan sehari-hari bentuknya jauh lebih sederhana: menyampaikan pendapat di kelas, bertanya kepada dosen, melakukan presentasi, mengikuti wawancara kerja, berbicara dalam rapat, sampai menyampaikan ide kepada atasan.

Hal tersebut bukan sekadar perasaan pribadi. Penelitian Agustin dan rekan-rekannya pada mahasiswa Universitas Bengkulu menemukan bahwa kecemasan berbicara dalam kelas presentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti rasa takut terhadap penilaian negatif, kecemasan komunikasi, dan kecemasan menghadapi evaluasi. Dari faktor tersebut, ketakutan terhadap penilaian negatif menjadi salah satu faktor yang paling dominan. Penelitian Halimah dan Nuraida pada mahasiswa tahun pertama di Jawa Barat juga menunjukkan bahwa kecemasan public speaking merupakan persoalan yang nyata di lingkungan perguruan tinggi.

Kenapa Mahasiswa Takut Berbicara Saat Public Speaking ?

Artinya, rasa gugup ketika harus berbicara di depan orang lain bukan sesuatu yang hanya dialami oleh orang yang dianggap kurang percaya diri. Mahasiswa yang sebenarnya memahami materi pun dapat mengalami kecemasan ketika harus menyampaikannya secara langsung. Menurut saya, rasa takut dinilai sebenarnya merupakan hal yang manusiawi. Kita tentu ingin terlihat baik, pintar, dan mampu ketika berbicara di depan orang lain. Namun, rasa takut tersebut menjadi masalah ketika membuat kita terus menghindari kesempatan untuk berbicara.

Semakin sering menghindar, semakin sedikit kesempatan untuk berlatih. Akibatnya, ketika mendapat kesempatan berbicara lagi, rasa gugup justru bisa semakin besar. Contohnya dapat dilihat ketika mahasiswa melakukan presentasi. Ia sudah mempelajari materi, tetapi ketika berdiri di depan kelas, pikirannya justru dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana teman-temannya melihat dirinya. Akibatnya, suara menjadi lebih kecil atau berubah, berbicara terlalu cepat, lupa dengan materi, bahkan terlalu sering membaca slide. Padahal, sebenarnya persoalannya bukan tidak menguasai materi, melainkan perhatian terlalu banyak tertuju pada reaksi audiens.

Gugup Bukan Berarti Tidak Percaya Diri

Penelitian Baharman dan rekan-rekannya pada 2026 juga menggambarkan bahwa kecemasan berbicara dalam presentasi kelas dapat berkaitan dengan tekanan evaluasi. Ketakutan melakukan kesalahan secara verbal maupun kognitif, kekhawatiran terhadap penilaian negatif audiens, rasa malu, kurangnya pengalaman, serta pengalaman negatif sebelumnya dapat membuat mahasiswa semakin cemas ketika berbicara.

Hal yang menarik adalah kehidupan anak muda saat ini sebenarnya sangat dekat dengan komunikasi. Banyak orang terbiasa menulis komentar di media sosial, membuat video, melakukan live streaming, atau berbicara di depan kamera. Tetapi berbicara secara langsung sering terasa lebih menegangkan karena tidak ada tombol edit atau hapus. Sekali kalimat keluar, kita harus menghadapinya saat itu juga.

Menurut saya, inilah yang perlu diubah dari cara kita memandang public speaking. Percaya diri bukan berarti tidak pernah gugup. Orang yang percaya diri pun bisa merasakan tangan dingin, jantung berdebar, atau kehilangan kata-kata. Perbedaannya adalah mereka tetap mencoba berbicara meskipun merasa gugup.

Keberanian Tumbuh dari Latihan

Karena itu, tujuan belajar public speaking seharusnya bukan menghilangkan rasa gugup sampai nol persen. Tujuannya adalah belajar mengelola rasa gugup agar tidak mengambil alih kemampuan kita untuk menyampaikan pesan. Kita bisa memulainya dari hal kecil: berani menjawab satu pertanyaan di kelas, bertanya ketika tidak memahami materi, memberikan pendapat dalam diskusi, atau menyampaikan presentasi tanpa terlalu bergantung pada teks.

Selain keberanian berbicara, kita juga perlu belajar menerima bahwa tidak semua orang akan setuju dengan pendapat kita. Public speaking bukan berarti memaksa orang lain menerima apa yang kita katakan. Kemampuan mendengarkan, menerima kritik, dan menghargai perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari komunikasi yang baik.

Lingkungan juga mempunyai peran penting. Kelas seharusnya menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa untuk belajar berbicara dan melakukan kesalahan. Jika seseorang langsung ditertawakan ketika salah menjawab, rasa takut untuk berbicara tentu akan semakin besar. Sebaliknya, ketika kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses belajar, mahasiswa akan lebih berani mencoba.

Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang dipikirkan orang lain. Akan selalu ada kemungkinan seseorang tidak setuju, salah memahami, atau memberikan komentar terhadap cara kita berbicara. Namun, jika kita terus menunggu sampai semua orang memberikan penilaian positif, kita mungkin tidak akan pernah benar-benar berani menyampaikan apa yang ada di pikiran kita.

Pada akhirnya, mungkin masalah kita bukan karena tidak punya pendapat. Kita hanya terlalu sibuk membayangkan bagaimana orang lain akan menilai ketika kita menyampaikannya. Public speaking bukan tentang menjadi orang yang paling percaya diri di dalam ruangan. Public speaking adalah tentang berani memberikan suara pada apa yang kita pikirkan, meskipun kita tahu tidak semua orang akan setuju. Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan lebih banyak kata, tetapi lebih banyak keberanian untuk mengucapkannya.