Belajar Event Management di Ruang Kelas Bernama Konser K-POP

Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Ade Indriani Siagian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu saya berdiri di tengah lautan manusia (re: EXO Planet 6: EXhOrizon in Singapore) di sebuah venue di Singapura, memegang lightstick EXO seharga hampir satu juta rupiah, menunggu lampu venue meredup. Di sekitar saya, ribuan orang dari berbagai negara berdiri dengan antusiasme yang sama. Ketika lampu akhirnya padam dan layar besar menyala, saya menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatian saya: apa yang sedang saya alami bukan sekadar konser. Ini adalah sebuah sistem komunikasi raksasa yang berjalan nyaris tanpa cela, dirancang hingga ke detail paling kecil, dan dieksekusi oleh ribuan orang asing yang tak pernah bertemu sebelumnya namun bisa “berbicara” dalam bahasa yang sama.
Sebagai orang yang bergelut di dunia komunikasi dan event management, saya pulang dari konser itu bukan cuma dengan telinga berdenging dan suara serak, tapi juga dengan satu keyakinan baru: industri K-pop, secara sadar atau tidak, telah menciptakan salah satu model komunikasi dan manajemen pengalaman paling canggih di dunia hiburan modern. Dan sialnya, banyak dari kita yang bekerja di industri event dan komunikasi di Indonesia — bahkan di Asia Tenggara secara umum— masih tertinggal jauh dalam memahami mengapa formula ini bekerja begitu efektif.
Bukan Sekadar Nonton, tapi "Mengalami"
Ada satu kerangka teori lama yang tiba-tiba terasa sangat relevan ketika saya menyaksikan langsung bagaimana konser ini dikelola: konsep experience economy yang diperkenalkan oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore pada akhir 1990-an. Inti dari teori ini sederhana namun radikal untuk masanya: barang dan jasa sudah tidak cukup lagi untuk memenangkan hati konsumen. Yang benar-benar bernilai sekarang adalah pengalaman itu sendiri — sesuatu yang personal, berkesan, dan layak diceritakan ulang.
Pine dan Gilmore (1998) membagi pengalaman ke dalam empat dimensi: hiburan (entertainment), edukasi (education), pelarian dari rutinitas (escapism), dan estetika (esthetic). Sebuah pengalaman yang benar-benar kuat, menurut mereka, tidak berhenti di satu dimensi saja, melainkan menyentuh keempatnya sekaligus. Dan menariknya, konser K-pop nyaris menyempurnakan keempat dimensi ini dalam satu paket dua sampai tiga jam.
Dimensi hiburan jelas ada: musik, koreografi, visual panggung yang dirancang sangat matang. Dimensi estetika hadir lewat detail-detail yang mustahil ditemukan di event lokal kebanyakan, mulai dari kualitas produksi visual, kostum, hingga tata cahaya yang berubah warna serempak mengikuti mood lagu. Dimensi escapism terasa nyata: selama tiga jam itu, penonton benar-benar keluar dari rutinitas harian mereka dan masuk ke dunia lain yang penuh warna dan energi. Dan yang paling sering luput dari analisis orang awam adalah dimensi edukasi, yakni bagaimana penonton, terutama fans baru, “diajari” secara halus mengenai budaya, bahasa, bahkan nilai-nilai tertentu dari kelompok idola yang mereka tonton, melalui narasi lagu, ucapan di sela pertunjukan, hingga video profil yang ditampilkan di layar.
Riset yang membedah penerapan teori experience economy di industri festival musik dan pariwisata menunjukkan pola serupa, bahwa kepuasan penonton bukan ditentukan oleh satu elemen tunggal, melainkan oleh sejauh mana sebuah event mampu menghadirkan kombinasi dimensi-dimensi ini secara konsisten sepanjang acara berlangsung. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari perencanaan event yang memperlakukan setiap detik pengalaman penonton sebagai bagian dari satu narasi besar yang utuh, bukan sekadar rangkaian lagu yang dibawakan berurutan.
Ketika Penonton Menjadi Bagian dari Pertunjukan
Namun yang benar-benar membuat saya terpukau bukan panggungnya, melainkan penontonnya sendiri. Ribuan orang yang tidak saling kenal, dari negara yang berbeda-beda, ternyata bisa bergerak dan bersuara dalam koordinasi yang nyaris sempurna. Fenomena ini punya nama dalam budaya fandom K-pop: fan chant dan lightstick ocean.
Fan chant adalah respons vokal yang telah distandardisasi. Kapan harus meneriakkan nama member, harus melakukan pola sahut-menyahut dengan lagu, semuanya sudah disepakati bersama komunitas fandom jauh sebelum konser berlangsung. Lightstick, di sisi lain, bukan sekadar merchandise. Setiap grup memiliki desain lightstick resminya sendiri, dan ketika ribuan lightstick itu menyala serempak bahkan kini banyak yang tersambung Bluetooth sehingga bisa berubah warna otomatis mengikuti lagu, hasilnya adalah lautan cahaya yang menjadi identitas visual kolektif dari fandom tersebut.
Ini adalah komunikasi nonverbal dalam skala paling masif yang pernah saya saksikan langsung. Dan yang membuatnya lebih menarik lagi: penelitian mengenai perilaku fandom K pop menyebut praktik ini sebagai bagian dari “fan project” usaha kolektif fans untuk membangun citra positif bagi kelompok idola mereka sendiri, sekaligus memperkuat identitas dan rasa memiliki di dalam komunitas. Fans bukan lagi sekadar konsumen pasif yang membeli tiket dan menonton. Mereka adalah co creator dari pengalaman itu sendiri.
Yang lebih menarik lagi buat saya sebagai orang komunikasi adalah bagaimana koordinasi ini berhasil melewati batas bahasa. Konser K-pop sebagai ruang ekspresi budaya menunjukkan bahwa fans dari berbagai negara — termasuk yang secara linguistik dan budaya sangat jauh dari Korea — mampu membentuk semacam “bahasa fandom hibrida”, mencampur kosakata Korea dengan slang lokal masing-masing, namun tetap bisa saling memahami dan bergerak serempak saat momen tertentu tiba. Lebih jauh lagi, partisipasi dalam fan chant dan lightstick berkontribusi pada rasa memiliki (belonging), bahkan berpotensi mengurangi rasa kesepian dan isolasi sosial pada sebagian fans.
Titik Lemah Event di Sekitar Kita
Perbandingan ini mungkin terasa tidak adil — membandingkan industri K-pop yang sudah puluhan tahun matang dengan event-event lokal yang sumber dayanya jauh berbeda. Tapi justru di situlah letak pelajarannya. Yang membuat konser K-pop unggul bukan semata soal budget besar, melainkan soal kesadaran bahwa setiap detail adalah bagian dari komunikasi.
Bandingkan dengan pengalaman menghadiri banyak event resmi di Indonesia (atau bahkan di kawasan Asia Tenggara secara umum): MC yang membacakan susunan acara dengan nada template yang sama di setiap event, seolah dibaca dari naskah yang sama sejak sepuluh tahun lalu; tidak ada upaya membangun “bahasa bersama” antara penyelenggara dan audiens; interaksi penonton dianggap sebagai gangguan yang harus dikendalikan, bukan energi yang harus diarahkan. Padahal, prinsip dasar event management modern justru menekankan bahwa audiens masa kini menuntut partisipasi aktif, bukan sekadar duduk mendengarkan.
Banyak praktisi event management bahkan mencatat pergeseran ini secara eksplisit: audiens korporat maupun umum sekarang jauh lebih selektif soal waktu dan perhatian mereka. Audiens akan memilih-milih sesi mana yang layak ditonton penuh dan mana yang bisa dilewati begitu saja, kecuali penyelenggara berhasil menciptakan alasan kuat bagi mereka untuk tetap terlibat penuh dari awal sampai akhir. Ini adalah persis apa yang berhasil dipecahkan oleh industri K-pop. Mereka tidak memberi penonton kesempatan untuk merasa “boleh keluar sebentar”, karena setiap segmen dirancang punya alasan psikologis dan emosional tersendiri untuk terus membuat penonton terlibat.
Merchandise Bukan Sekadar Sumber Pendapatan, tapi Alat Komunikasi
Ada satu hal lagi yang menurut saya sering disalahpahami oleh praktisi brand dan event di luar industri ini: merchandise dianggap semata sebagai lini pendapatan tambahan. Padahal, di dalam ekosistem konser K-pop, lightstick dan photocard berfungsi sebagai infrastruktur komunikasi itu sendiri, bukan pelengkap komersial belaka.
Cobalah bayangkan lightstick sebagai semacam “kartu identitas” yang menunjukkan afiliasi seseorang di tengah kerumunan asing. Begitu venue menyala dengan warna tertentu, siapa pun yang berada di dalamnya langsung tahu sedang berada di komunitas mana, merayakan identitas apa, dan menjadi bagian dari cerita besar apa. Dalam ilmu komunikasi organisasi, ini persis fungsi dari apa yang biasa kita sebut sebagai artefak identitas kolektif: simbol fisik yang memperkuat rasa memiliki terhadap suatu kelompok, sekaligus menjadi penanda batas antara “kami” dan “mereka” tanpa perlu ada konflik.
Poin ini penting karena banyak brand dan penyelenggara event masih memperlakukan merchandise sebagai renungan terakhir, dicetak seadanya, dijual di pojok venue, tanpa keterkaitan naratif dengan pengalaman inti yang ditawarkan. Padahal jika dirancang dengan niat komunikasi yang jelas, merchandise bisa menjadi salah satu titik sentuh paling kuat untuk memperpanjang umur sebuah pengalaman, dari yang tadinya berakhir begitu lampu venue menyala kembali, menjadi sesuatu yang terus dipakai, dipamerkan, dan diceritakan berbulan-bulan setelahnya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari Bersama?
Saya tidak sedang menyarankan agar setiap seminar korporat mendadak membagikan lightstick kepada pesertanya (walau, jujur saja, itu terdengar lebih menyenangkan daripada goodie bag berisi pulpen dan notes). Tapi ada tiga pelajaran konkret yang menurut saya bisa langsung diadaptasi oleh siapa pun:
Rancang partisipasi, jangan hanya rancang konten. Konten yang bagus tanpa ruang partisipasi hanya akan menghasilkan penonton pasif. Fan chant berhasil bukan karena liriknya keren, tapi karena fans diberi peran aktif dan jelas dalam pertunjukan itu sendiri — mereka tahu persis kapan harus bersuara dan kenapa itu penting.
Bangun simbol identitas yang bisa dimiliki bersama. Lightstick bukan sekadar merchandise, melainkan penanda identitas kolektif. Event apa pun bisa mengadopsi prinsip ini: menciptakan elemen visual atau simbolik sederhana yang membuat audiens merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Perlakukan setiap detik pengalaman sebagai bagian dari cerita yang utuh, bukan rangkaian sesi yang berdiri sendiri-sendiri. Empat dimensi Pine dan Gilmore — hiburan, edukasi, pelarian, estetika — bisa jadi checklist sederhana namun ampuh saat merancang ulang bagaimana sebuah event. Sekecil apa pun skalanya, bisa dirasakan penonton bukan sebagai “acara yang harus dihadiri” tapi “pengalaman yang layak diceritakan ulang”.
Industri Hiburan sebagai Laboratorium Komunikasi
Ada godaan untuk meremehkan industri K-pop sebagai sekadar hiburan pop yang riuh dan sesaat. Tapi bagi siapa pun yang bekerja di dunia komunikasi, industri ini sebenarnya adalah laboratorium hidup yang mempraktikkan hampir semua teori yang kita pelajari di kelas — experience economy, komunikasi simbolik, community building, hingga brand loyalty — dalam skala yang jarang bisa ditiru oleh industri lain, dan diuji langsung setiap malam di depan puluhan ribu orang yang rela membayar mahal untuk merasakannya.
Saya pulang dari konser itu tidak hanya dengan suara serak dan kaki pegal. Tapi juga dengan satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya sebagai akademisi komunikasi: kalau sebuah industri hiburan bisa membuat puluhan ribu orang asing bergerak serempak dalam harmoni penuh makna, kenapa begitu banyak event resmi — yang justru punya sumber daya, waktu persiapan, dan tujuan komunikasi yang jelas — masih gagal membuat audiensnya sekadar mengingat nama acaranya keesokan hari?
