Bisakah Koperasi Desa Merah Putih Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

Mahasiswa Magister Akuntansi UNIVERSITAS PAMULANG
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ade Mariana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Ade Mariana
Mahasiswa Magister Akuntansi – Universitas Pamulang

Ekonomi Indonesia Bisa Dimulai dari Desa
Ketika berbicara tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, kita sering melihat kota besar, industri, investasi, dan pembangunan infrastruktur sebagai penggeraknya. Padahal, desa juga memiliki kekuatan ekonomi yang besar. Ada petani, nelayan, pelaku UMKM, pedagang, pengrajin, dan berbagai usaha masyarakat yang setiap hari menggerakkan roda ekonomi. Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi salah satu upaya untuk memperkuat potensi tersebut. Pemerintah telah mendorong pembentukan puluhan ribu koperasi desa sebagai bagian dari pembangunan ekonomi dari desa dan pemerataan ekonomi.
Koperasi Bukan Sekadar Tempat Simpan Pinjam
Menurut saya, kekuatan Koperasi Desa Merah Putih justru terletak pada kemampuannya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Koperasi dapat membantu menyediakan kebutuhan pokok, menampung hasil produksi masyarakat, mendukung pemasaran produk UMKM, menyediakan layanan pembiayaan, serta mengembangkan usaha sesuai potensi masing-masing desa. Pemerintah juga menempatkan KDKMP sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok, meningkatkan daya saing ekonomi lokal, dan menciptakan efisiensi ekonomi nasional.
Tetapi, Koperasi Harus Dikelola Secara Profesional
Jumlah koperasi yang banyak belum tentu menunjukkan keberhasilan. Yang lebih penting adalah apakah koperasi tersebut mampu berjalan sehat dan memberikan manfaat nyata bagi anggotanya. Dari perspektif akuntansi, pengelolaan keuangan menjadi salah satu kunci. Pengelola harus mampu menyusun laporan keuangan yang baik, mengendalikan kas dan persediaan, mengelola piutang, serta menerapkan pengendalian internal untuk mengurangi risiko kesalahan dan penyalahgunaan. Koperasi yang transparan dan akuntabel akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari anggota, masyarakat, maupun mitra usaha.
Digitalisasi dan SDM Menjadi Penentu
Koperasi Desa Merah Putih juga perlu mengikuti perkembangan teknologi. Digitalisasi dapat membantu koperasi mencatat transaksi, mengelola persediaan, memantau arus kas, dan menyediakan informasi yang cepat bagi pengurus dalam mengambil keputusan. Namun, teknologi saja tidak cukup. Koperasi membutuhkan sumber daya manusia yang memahami bisnis, akuntansi, pemasaran, teknologi, dan tata kelola. Karena itu, pengembangan kompetensi pengelola harus menjadi bagian penting dari pembangunan koperasi. Pemerintah sendiri memasukkan pendampingan, edukasi, pelatihan SDM, serta penguatan kapasitas usaha sebagai bagian dari kebijakan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.
Dari Ekonomi Desa Menuju Ekonomi Nasional
Jika koperasi mampu menghubungkan petani dengan pasar, membantu UMKM berkembang, memperlancar distribusi barang, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat, maka aktivitas ekonomi di desa akan semakin kuat. Apabila hal tersebut terjadi secara luas di banyak desa, dampaknya berpotensi memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Pemerintah juga memasukkan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam berbagai strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Bahkan, pada Triwulan II 2026 ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,29% secara tahunan, dengan pembangunan KDKMP disebut sebagai salah satu faktor yang turut mendorong aktivitas sektor konstruksi.
Mesinnya Ada, tetapi Harus Dirawat
Pada akhirnya, saya melihat Koperasi Desa Merah Putih memiliki peluang untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi keberhasilan tersebut tidak terjadi secara otomatis. Koperasi membutuhkan pengelola yang kompeten, laporan keuangan yang berkualitas, pengendalian internal yang kuat, teknologi yang tepat, serta usaha yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Koperasi tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung atau pembentukan badan hukum. Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar koperasi mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat desa. Jika desa kuat, koperasinya sehat, dan masyarakatnya produktif, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dibangun dari bawah—dari desa untuk Indonesia.
