Smart Surau : Subuh Mubarokah

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ade Risky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari Kebiasaan menjadi Karakter ?
Program “Smart Surau dalam Perspektif Psikologi Pendidikan” menawarkan cara pandang yang menarik terhadap program Subuh Mubarakah di Kota Padang. Program ini tidak sekadar mengajak peserta didik hadir ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh, tetapi dapat dilihat sebagai proses pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman nyata, pengulangan perilaku, interaksi sosial, dan pembentukan karakter. Masjid ditempatkan sebagai ruang belajar yang mempertemukan anak dengan keluarga, guru, teman sebaya, serta masyarakat.
Program ini dimulai dari bulan Oktober 2025 sampai sekarang. Secara statistik peserta didik yang hadir pada hari pertama yang jumlahnya sekitar 20.150 peserta didik dan di hari kedua pelaksanaan peserta didik yang hadir mencapai 42.291, dan sampai data statistik terakhir di bulan Agustus 2026 jumlah peserta didik yang hadir terdaftar mencapai 60.000. Walaupun perbandingan peningkatan kehadiran peserta didik antara tahun 2025 dan 2026 cenderung lambat, namun masih mengalami peningkatan.
Apa kaitannya program ini dengan dengan pembentukan karakter ?
Dari sudut psikologi pendidikan, program ini penting karena karakter tidak terbentuk hanya melalui pengetahuan tentang apa yang baik, melainkan melalui proses ketika nilai tersebut terus dipraktikkan hingga menjadi bagian dari kebiasaan dan perilaku sehari-hari.
Jika dilihat dari perspektif behavioral, kekuatan utama Subuh Mubarakah terletak pada mekanisme pembiasaan. Peserta didik melakukan perilaku yang berulang : mengatur waktu tidur, bangun sebelum Subuh, mempersiapkan diri, datang ke masjid, mengikuti salat berjamaah, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pengulangan prilaku yang konsisten memberi peluang terbentuknya habit. Di sinilah pendidikan karakter terbentuk : disiplin tidak hanya diajarkan sebatas teori saja melainkan dilatih melalui tindakan tanggung jawab tidak hanya dijelaskan tetapi dijalankan.
Lalu siapa saja yang terlibat ?
Dalam pelaksanaan program ini yang menarik adalah pihak yang terlibat. Ketika peserta didik melihat orang tua, guru, pengurus masjid, dan teman sebaya melakukan kegiatan positif bersama secara berulang dan menjadi kebiasaaan. Karena itu, Smart Surau dapat menjadi pembelajaran pembentukan karakter : sekolah memberikan pengetahuan, keluarga memperkuat nilai, sedangkan masjid menyediakan ruang praktik sosial dan keagamaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Smart Surau tidak seharusnya hanya berfokus pada jumlah peserta yang hadir. Kehadiran merupakan hasil dari program, sedangkan karakter merupakan hasil jangka panjang secara psikologis setelah program. Dengan demikian, Smart Surau memiliki makna pendidikan yang lebih luas yaitu bukan sekadar membentuk anak yang patuh terhadap program, tetapi membantu membentuk pribadi yang memahami nilai, membiasakan perilaku positif, dan pada akhirnya mampu mengatur serta menjalankan perilaku tersebut secara mandiri.
