Konten dari Pengguna

Penyambung Mimpi Warga: Beginilah Cara Kami Menjemput Mata Air Sampai Rumah

Ade Roni

Ade Roni

ASN pada Dinas PUTR Kabupaten Majalengka

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Roni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Survey mata air di area perbukitan Kabupaten Majalengka (Foto : Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Survey mata air di area perbukitan Kabupaten Majalengka (Foto : Dok. Pribadi)

Genggamannya pada seutas akar mulai melemah. Dia terpeleset, matanya mulai memerah, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi dahinya sambil berteriak meminta tolong. Kondisi jalan setapak yang lebarnya hanya sekitar dua puluh sentimeter, tanah licin akibat hujan, serta kontur tanah berbentuk tebing dengan kemiringan hampir delapan puluh derajat membuat medan semakin berbahaya. Tidak ada bebatuan atau batang kayu yang dapat digunakan untuk berpijak.

Saya dan satu orang teman memberikan arahan agar dia tetap tenang, sambil meminta bantuan tim untuk membawa bambu agar dia dapat berpindah dari tanah yang licin dan curam. Andai saja genggamannya terlepas, dia akan terjatuh ke dasar tebing yang kedalamannya hampir dua puluh meter.

Peristiwa seperti ini bukan sekali dua kali kami alami. Medan terjal, hujan yang tiba-tiba turun deras, kertas kerja yang basah dan rusak, belum lagi alat survei yang mengalami masalah, seperti GPS dan radio HT yang kehabisan baterai. Tidak jarang pula jalur yang kami lewati tidak memenuhi persyaratan teknis maupun nonteknis. Misalnya, elevasi yang tidak memungkinkan air mengalir secara gravitasi, bahkan penolakan izin dari pemilik lahan. Akibatnya, survei harus dilakukan berulang-ulang sehingga menguras mental dan tenaga kami.

Beberapa rekan kami pernah mengalami luka akibat terjatuh, mulai dari luka ringan hingga luka berat. Bahkan, ada satu rekan kami yang memutuskan untuk berhenti bergabung. Bukan karena tidak mencintai pekerjaannya, melainkan karena trauma akibat cedera dan proses penyembuhan yang cukup lama. Semua itu tidak menyurutkan tanggung jawab kami, karena setiap langkah adalah harapan warga untuk mendapatkan akses terhadap air minum yang layak.

Kabupaten Majalengka, tempat kami mengabdi, memiliki potensi mata air yang cukup besar. Namun, lokasinya berada di kawasan pegunungan dan perbukitan terjal yang sebagian sulit dijangkau.

Selanjutnya, sampailah kami pada proses yang juga menguras pikiran, yaitu perencanaan teknis. Jemari kami seakan-akan bersahabat dengan keyboard laptop. Dari pagi hingga larut malam, selama lebih dari satu bulan, kami menghabiskan waktu di depan laptop. Data hasil survei kami konversi menjadi dokumen perencanaan.

Kami menghitung analisis hidraulis, analisis struktur, kemudian menggambar rencana teknis dan menghitung kebutuhan anggaran. Setiap perhitungan harus tepat dan setiap garis gambar harus akurat, karena kesalahan sekecil apa pun dapat berakibat fatal. Dokumen inilah yang akan diajukan kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum.

Tibalah pada ujian mental berikutnya. Dokumen kami dibedah oleh tim dari kementerian secara terperinci, kemudian dikritik dan diberikan catatan-catatan perbaikan. Waktu kami terbatas. Ada malam-malam ketika kami bahkan tidak sempat tidur demi menyelesaikan perbaikan dokumen perencanaan agar dapat diselesaikan tepat waktu.

Berbeda dengan beberapa kabupaten/kota lain yang perencanaannya dilakukan oleh konsultan perencana, kami melakukan semuanya secara mandiri, mulai dari perencanaan hingga pengawasan. Ini juga menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam hal efisiensi anggaran serta mengoptimalkan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya.

Di tengah kelelahan yang menimpa, dokumen kami mendapat apresiasi positif dari tim desk kementerian setelah dilakukan perbaikan. Malah sebagian tim desk menilai dokumen kami setara dengan produk konsultan perencana.

Setelah pengajuan disetujui, tibalah tahap konstruksi. Pada tahap ini, peran kami berubah menjadi penjaga kualitas pekerjaan. Kami turun ke lapangan untuk memastikan konstruksi yang terbangun memenuhi standar kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan. Seluruh jenis pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi kami catat dan tegur untuk dilakukan perbaikan.

Akses air minum layak di kawasan perdesaan Kabupaten Majalengka (Foto : Dok. Pribadi)

Di salah satu sudut rumah warga, sebuah keran diputar dan menyemburkan air yang jernih. Senyum seorang ibu sambil mengucapkan, “Alhamdulillah,” menandakan rasa syukurnya. Kini, warga tidak perlu lagi khawatir kekurangan air bersih pada musim kemarau. Mimpi warga untuk menikmati air minum yang layak di rumahnya sendiri akhirnya menjadi kenyataan.

Tentu, jaringan air minum ini harus dirawat dengan baik agar kualitasnya tetap terjaga sesuai dengan umur rencana. Untuk itu, pembentukan kelompok pengelola SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) wajib dilakukan sebagai bagian dari persyaratan penyerahan barang milik pemerintah kepada masyarakat.

Selama bertugas hampir sepuluh tahun di Bidang Kawasan Permukiman, Dinas Perkimtan Kabupaten Majalengka, sebelum akhirnya saya alih tugas untuk melanjutkan pengabdian di Dinas PUTR. Saya bersyukur, sempat ikut andil dalam pemenuhan kebutuhan air minum bagi lebih dari enam ribu sambungan air ke rumah-rumah warga di perdesaan.

Inilah bentuk pengabdian kami sebagai ASN. Ketika keahlian di bidang teknis selaras dengan keteguhan hati, kami tidak hanya menyambungkan jaringan air minum, lebih jauh dari itu kami menyambungkan harapan dan mengalirkan kehidupan warga.

Tentu, pengabdian ini menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan apa pun. Karena bukan seberapa sulit pekerjaan kami yang tidak terlihat, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan setelahnya.

Pada akhirnya, pertanggungjawaban atas tugas kami yang paling utama adalah kepada Tuhan Semesta Alam. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, semoga pengabdian dan perjuangan ini dicatat oleh Tuhan sebagai sebuah kebaikan.