HIPMI dan Masa Depan Kompetensi Pengusaha Muda
Tulisan dari Ade Jona Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia memiliki generasi muda yang berani memulai usaha. Mereka tumbuh dalam berbagai sektor, mulai dari perdagangan, kuliner, pertanian, industri kreatif, teknologi, kesehatan, logistik, hingga energi. Kemudahan akses informasi dan berkembangnya platform digital membuat jalan menjadi pengusaha semakin terbuka.
Namun, keberanian memulai usaha saja tidak lagi cukup. Perubahan teknologi, persaingan global, dan kemunculan kecerdasan buatan telah mengubah cara perusahaan beroperasi. Pengusaha yang tidak memperbarui kompetensinya berisiko kehilangan pasar, meskipun bisnisnya pernah berhasil.
Karena itu, tantangan kewirausahaan Indonesia bukan sekadar menambah jumlah pengusaha. Kita perlu meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing pengusaha yang telah ada. Indonesia membutuhkan pengusaha muda yang mampu membaca perubahan, mengelola teknologi, membangun organisasi, dan membawa usahanya naik kelas.
Pemerintah menargetkan rasio kewirausahaan Indonesia meningkat dari sekitar 3 persen menjadi 8 persen pada 2045. Target ini penting untuk memperkuat struktur ekonomi nasional. Namun, peningkatan jumlah harus berjalan bersama peningkatan kapasitas. Banyaknya usaha baru tidak akan memberikan dampak optimal apabila sebagian besar berhenti pada skala mikro dan sulit berkembang.
Di sinilah HIPMI memiliki tanggung jawab yang semakin besar. HIPMI tidak cukup hanya menjadi tempat berhimpun dan membangun jaringan. Organisasi pengusaha muda harus menjadi pusat pembelajaran, peningkatan kompetensi, kolaborasi usaha, dan penciptaan pekerjaan.
Perubahan yang dibawa artificial intelligence perlu menjadi salah satu agenda utama. AI telah digunakan untuk membaca data konsumen, menyusun materi promosi, mengelola persediaan, merancang produk, menjawab pelanggan, memprediksi permintaan, serta meningkatkan efisiensi produksi.
Bagi pengusaha muda, AI membuka kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan perusahaan besar. Usaha kecil kini dapat menganalisis pasar, membuat materi pemasaran, dan mengelola operasional dengan biaya yang lebih terjangkau.
Namun, teknologi juga membawa risiko. Pengusaha yang hanya melihat AI sebagai alat pengurangan biaya dapat tergoda menggantikan pekerja tanpa mempersiapkan fungsi baru. Padahal, manfaat terbesar AI bukan terletak pada berapa banyak orang yang dapat dikurangi, melainkan pada seberapa besar kapasitas perusahaan dapat diperluas.
AI seharusnya membantu perusahaan meningkatkan produksi, menjangkau pelanggan baru, memasuki pasar ekspor, memperbaiki kualitas layanan, dan menciptakan pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi. Teknologi harus menjadi alat pertumbuhan, bukan sekadar alat efisiensi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pengusaha juga harus meningkatkan kompetensinya. Pemilik usaha perlu memahami pengelolaan data, keamanan digital, otomatisasi, keuangan, kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia. Tanpa kemampuan tersebut, penggunaan AI hanya akan berhenti pada tren.
Masih banyak pelaku usaha menggunakan AI untuk membuat gambar atau menulis keterangan produk. Pemanfaatan itu berguna, tetapi potensinya jauh lebih luas. AI dapat membantu memperkirakan kebutuhan bahan, mendeteksi pemborosan, membaca pola pembayaran pelanggan, menyusun proyeksi arus kas, dan mengoptimalkan rantai pasok.
HIPMI dapat mengambil peran dengan membangun gerakan nasional peningkatan kompetensi pengusaha muda. Gerakan ini harus menjangkau anggota hingga tingkat daerah dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi setempat.
BPD dan BPC HIPMI dapat menjadi pusat pembelajaran bisnis di daerah. Pelatihan di wilayah pertanian tentu harus berbeda dari pelatihan di kawasan industri, pariwisata, perdagangan, atau ekonomi kreatif. Materi tidak dapat dibuat seragam karena setiap daerah memiliki potensi dan persoalan yang berbeda.
Di daerah pertanian, pengusaha muda perlu belajar menggunakan teknologi untuk memperbaiki produktivitas, distribusi, dan pengolahan hasil. Di kawasan pariwisata, teknologi dapat digunakan untuk pemasaran, pengelolaan pengunjung, dan personalisasi layanan. Di daerah industri, fokusnya dapat diarahkan pada otomatisasi, efisiensi energi, dan pengembangan pemasok lokal.
HIPMI juga dapat membangun akademi bisnis dan AI yang bersifat praktis. Program tersebut tidak hanya mengajarkan penggunaan aplikasi, tetapi membantu peserta menyelesaikan persoalan nyata dalam usahanya. Setiap peserta seharusnya keluar dengan rencana penerapan yang jelas, bukan hanya sertifikat.
Pelatihan dapat disusun berdasarkan tahap perkembangan usaha. Pengusaha pemula membutuhkan pemahaman mengenai model bisnis, pasar, dan arus kas. Usaha yang mulai berkembang memerlukan kemampuan mengelola tim, standardisasi, teknologi, dan pembiayaan. Perusahaan yang hendak naik kelas membutuhkan tata kelola, ekspor, perlindungan kekayaan intelektual, dan strategi pertumbuhan.
Selain pelatihan, pengusaha muda membutuhkan mentor. Banyak pengetahuan bisnis tidak dapat diperoleh hanya dari ruang kelas. Pengalaman menghadapi kegagalan, konflik organisasi, kesulitan arus kas, dan perubahan pasar sering lebih berharga daripada teori.
Pengusaha yang telah berhasil dapat mendampingi anggota yang sedang bertumbuh. Pendampingan tersebut sebaiknya berlangsung secara terstruktur dengan sasaran yang dapat diukur, seperti peningkatan omzet, perluasan pasar, perbaikan pencatatan keuangan, atau penambahan tenaga kerja.
HIPMI juga perlu memperkuat kerja sama dengan kampus, sekolah vokasi, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, dan pemerintah. Kampus memiliki pengetahuan dan talenta. Perusahaan teknologi memiliki perangkat. Lembaga keuangan memiliki pembiayaan. Sementara itu, pengusaha memahami persoalan nyata di lapangan.
Kolaborasi tersebut dapat melahirkan laboratorium bisnis yang mempertemukan mahasiswa, peneliti, dan pelaku usaha. Persoalan yang dihadapi perusahaan dapat dijadikan proyek pembelajaran, sedangkan hasil riset kampus dapat diuji dan dikomersialkan melalui jaringan pengusaha muda.
Hubungan antara pengusaha dan pekerja juga harus memperoleh perhatian. Kompetensi perusahaan tidak mungkin meningkat apabila hanya pemilik usaha yang belajar. Setiap pengusaha harus bertanggung jawab meningkatkan kemampuan timnya.
Ketika perusahaan mengadopsi AI, pekerja perlu dilatih menggunakan dan mengawasi teknologi tersebut. Petugas administrasi dapat dikembangkan menjadi pengelola data. Staf pemasaran dapat belajar analitik konsumen. Pekerja produksi dapat meningkatkan kemampuan dalam pengoperasian dan perawatan mesin cerdas.
Keberhasilan transformasi bisnis tidak cukup diukur dari efisiensi biaya. Kita juga harus mengukur berapa pekerja yang naik kompetensi, berapa pekerjaan baru yang tercipta, dan seberapa besar produktivitas serta pendapatan pekerja meningkat.
HIPMI dapat mendorong komitmen bersama bahwa setiap perusahaan anggota yang mengadopsi teknologi juga menyediakan pelatihan bagi pekerjanya. Dengan demikian, transformasi digital tidak meninggalkan tenaga kerja, tetapi membawa mereka memasuki jenis pekerjaan yang lebih produktif.
Pemerintah dapat mendukung gerakan tersebut melalui insentif pelatihan, sertifikasi, akses pembiayaan, dan fasilitas teknologi bersama. Perusahaan yang konsisten meningkatkan kompetensi pekerja dapat memperoleh dukungan berdasarkan hasil yang jelas.
Agenda kompetensi juga harus menjangkau pelaku usaha di luar kota besar. Jika akses teknologi dan pelatihan hanya tersedia di pusat ekonomi, kesenjangan antardaerah akan semakin lebar. Jaringan HIPMI di seluruh Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk memastikan transformasi terjadi lebih merata.
Masa depan kewirausahaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki modal paling besar. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat belajar, paling mampu beradaptasi, dan paling berani mengubah teknologi menjadi solusi.
HIPMI harus berada di depan perubahan tersebut. Organisasi ini perlu menjadi rumah bagi pengusaha muda yang ingin belajar, berkolaborasi, membuka pasar, serta meningkatkan kemampuan pekerjanya.
Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha, tetapi bangsa ini jauh lebih membutuhkan pengusaha berkualitas. Pengusaha yang mampu menggunakan teknologi, membangun perusahaan sehat, membuka pekerjaan, meningkatkan kompetensi manusia, dan membawa produk Indonesia bersaing di pasar global.
Ketika pengusaha muda naik kompetensi, perusahaan akan naik kelas. Ketika perusahaan naik kelas, lebih banyak pekerjaan dapat tercipta. Dari sanalah kewirausahaan benar-benar menjadi kekuatan bagi pertumbuhan dan masa depan ekonomi Indonesia.

